Batang Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Batang mulai memasang target tinggi dalam peta jalan pelayanannya. Tak sekadar menjadi penyedia stok darah, PMI Batang kini tengah berjuang keras untuk meraih sertifikasi Cara Pembuatan Obat yang Baik (CPOB) dari Badan POM.
Batang Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Batang mulai memasang target tinggi dalam peta jalan pelayanannya. Tak sekadar menjadi penyedia stok darah, PMI Batang kini tengah berjuang keras untuk meraih sertifikasi Cara Pembuatan Obat yang Baik (CPOB) dari Badan POM.
Ketua PMI Batang Achmad
Taufiq mengungkapkan bahwa ambisi ini merupakan langkah besar untuk
menyejajarkan diri dengan daerah lain yang lebih dulu maju. Di Jawa Tengah,
standar kualitas setinggi ini baru dimiliki oleh Surakarta dan Banyumas.
“Kami ini bersama
dengan Pak Edi sebagai Kepala UDD, kepingin UDD kita ini mencapai derajat
CPOB. Ini di Jawa Tengah baru ada di Surakarta dan Banyumas. Kami sudah studi
ke sana,†katanya saat Musyawarah Kerja PMI, di Aula PMI Batang, Kabupaten
Batang, Kamis (5/3/2026).
Langkah menuju CPOB
diakui Taufiq bukan perkara mudah, terutama terkait investasi sarana prasarana
yang menelan biaya fantastis. Namun, hal ini menjadi kebutuhan mendesak karena
di masa depan, rumah sakit akan memperlakukan darah layaknya obat yang wajib
diproduksi dengan standar kesterilan tinggi.
“Kalau UDD kita ini
sudah CPOB, nanti tidak hanya Batang, Pekalongan, Kendal, atau Pemalang saja
yang menuju ke kita, tapi mungkin sampai ke Tegal dan daerah lain akan ke sini
juga,†jelasnya.
Kepala UDD PMI Batang
Edi Samiaji menjelaskan, bahwa target yang dibebankan oleh Kementerian
Kesehatan dan BPOM jatuh pada tahun 2027. Saat ini, pihaknya mulai berbenah
dari sisi alur ruangan hingga dokumen administrasi.
“Hambatan terbesar yang
membayangi adalah pemenuhan alat medis khusus yang standarnya sangat ketat. Ada
tiga sampai empat alat yang harus kita penuhi, itu nilainya hampir mencapai Rp4
miliar. Kalau dari SDM maupun dokumen, mungkin kita bisa penuhi. Tapi yang dari
alat ini menjadi kendala khusus,†terangnya.
Jika sertifikasi ini
berhasil diraih, PMI Batang tidak hanya menjamin keamanan darah, tetapi juga
mampu memproduksi plasma yang selama ini belum termanfaatkan secara optimal.
“Plasma ini bisa digunakan
untuk obat-obatan tertentu. Saat ini dari Banyumas dan Surakarta, plasma
tersebut dikoordinir oleh PMI pusat untuk dibawa ke Korea. Kita sendiri saat
ini belum bisa melakukan itu,†ungkapnya.
Melanjutkan
Program Kemanusiaan
Meski fokus pada
peningkatan infrastruktur medis, PMI Batang memastikan program kemanusiaan
tetap berjalan di tahun 2026. Program unggulan seperti rehabilitasi Rumah Tidak
Layak Huni (RTLH) tetap menjadi prioritas.
“Tahun 2025 kemarin
dari rencana 30 rumah, bisa terealisasi 33 rumah untuk yang reguler. Kami juga
ada bantuan non-reguler, misalnya rumah tertimpa pohon, kami bantu kisaran Rp5
juta sampai Rp10 juta,†ujar dia.
Selain itu, PMI
berkomitmen tetap hadir dalam penanganan masalah sosial lainnya, mulai dari
pendampingan keluarga stunting hingga membantu akses pengobatan bagi warga
kurang mampu ke rumah sakit.
“Dengan perpaduan
penguatan standar medis CPOB dan konsistensi di jalur sosial, PMI Batang
berharap dukungan dari seluruh lapisan masyarakat agar layanan kemanusiaan ini
semakin profesional dan luas jangkauannya,†pungkasnya. (MC Batang,
Jateng/Edo/Jumadi)