Batang - Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) Anak Kabupaten Batang, menjadi ruang dialog bagi anak-anak untuk menyampaikan aspirasi dan isu prioritas yang mereka hadapi dalam kehidupan sehari-hari.
Batang - Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) Anak Kabupaten Batang, menjadi ruang dialog bagi anak-anak untuk menyampaikan aspirasi dan isu prioritas yang mereka hadapi dalam kehidupan sehari-hari.
Bunda Forum Anak Batang
Faelasufah mengatakan, forum ini bertujuan untuk memperoleh masukan langsung
dari anak-anak terkait kebutuhan nyata mereka.
“Perspektif orang
dewasa sering kali berbeda dengan realitas yang dialami anak-anak. Karena itu,
kami ingin mendengar langsung suara mereka,†katanya saat ditemui di Aula
Kantor Bupati Batang, Kabupaten Batang, Selasa (3/3/2026).
Ia menambahkan,
Musrenbang Anak juga bertujuan membangun visi bersama dalam mewujudkan
Kabupaten Batang sebagai Kabupaten Layak Anak (KLA) yang ramah bagi seluruh
anak.
“Kegiatan ini kembali
digelar setelah sempat ditiadakan pada 2024-2025 karena evaluasi menunjukkan
belum adanya kebaruan dan kualitas masukan dari peserta. Tahun ini,
penyelenggaraan forum dirancang lebih partisipatif agar aspirasi yang
dihasilkan lebih substansial,†jelasnya.
Untuk mendukung proses
tersebut, panitia menghadirkan fasilitator dari UNICEF Indonesia guna membantu
menggali aspirasi anak-anak secara lebih mendalam dan efektif.
Faelasufah juga menjelaskan,
penyelenggaraan Musrenbang Anak telah memiliki landasan hukum yang kuat, mulai
dari regulasi nasional hingga Peraturan Bupati Batang Tahun 2025 tentang
Penyelenggaraan Kabupaten Layak Anak.
“Dalam upaya mewujudkan
KLA, terdapat tiga pilar utama yang menjadi strategi bersama, yakni Protect
(melindungi hak anak), Respect (menghormati hak anak), dan Fulfill (memenuhi
hak anak),†terangnya.
Sementara itu,
perwakilan UNICEF Indonesia Naning menekankan, bahwa konsep wilayah ramah anak
tidak hanya diwujudkan dalam forum atau ruang pertemuan, tetapi juga harus
tercermin di lingkungan umum dan kehidupan sehari-hari.
“Ramah anak bukan hanya
di ruangan, tetapi juga di ruang publik dan lingkungan sosial,†tuturnya.
Berdasarkan hasil
diskusi kelompok yang dilakukan peserta, sejumlah isu prioritas anak di
Kabupaten Batang mengemuka. Salah satunya adalah isu keluarga, khususnya
perlunya lembaga di setiap desa yang fokus pada penguatan parenting bagi orang
tua agar lebih siap dalam pengasuhan anak.
“Upaya ini dinilai
penting untuk mencegah pergaulan bebas maupun Kekerasan Dalam Rumah Tangga
(KDRT). Isu lainnya adalah kesehatan mental dan pernikahan dini. Anak-anak
mendorong adanya edukasi di berbagai lini mengenai bahaya pernikahan usia anak
serta pentingnya menjaga kesehatan mental,†ungkapnya.
Selain itu,
perlindungan anak di dunia digital juga menjadi perhatian. Permasalahan seperti
penyalahgunaan media sosial, child grooming, perundungan (bullying), hingga
praktik senioritas menjadi sorotan.
Sebagai solusi, peserta
mengusulkan peningkatan sosialisasi dan edukasi, penguatan mekanisme pelaporan
baik secara langsung maupun daring, serta peran aktif Pemkab Batang dalam
memfasilitasi pencegahan dan meminimalisir praktik senioritas.
“Aspirasi tersebut
selanjutnya akan dirumuskan sebagai bagian dari bahan perencanaan pembangunan
daerah tahun 2027, sekaligus memperkuat komitmen Kabupaten Batang dalam
mewujudkan Kabupaten Layak Anak secara berkelanjutan,†pungkasnya. (MC Batang,
Jateng/Roza/Jumadi)