Batang - Badan Perencanaan Pembangunan, Riset dan Inovasi Daerah (Bapperida) Kabupaten Batang menyiapkan strategi pembangunan 2026 dengan menyesuaikan pergeseran struktur ekonomi daerah dari dominasi agribisnis menuju kawasan industri dan jasa.
Batang - Badan Perencanaan Pembangunan, Riset dan Inovasi Daerah (Bapperida) Kabupaten Batang menyiapkan strategi pembangunan 2026 dengan menyesuaikan pergeseran struktur ekonomi daerah dari dominasi agribisnis menuju kawasan industri dan jasa.
Kepala Bapperida Batang
Bagus Pambudi mengatakan, transformasi tersebut dipicu oleh tumbuhnya sektor
manufaktur sebagai kontributor terbesar perekonomian daerah. Kondisi itu
dinilai akan mendorong pertumbuhan sektor jasa, seiring meningkatnya jumlah
penduduk usia muda yang produktif dan konsumtif.
“Struktur ekonomi
Batang memang bergerak. Sektor manufaktur semakin dominan, dan ini otomatis
akan menggerakkan sektor jasa juga,†katanya saat ditemui di Kantor Bapperida
Batang, Kabupaten Batang, Rabu (4/2/2026).
Meski demikian, tema
pembangunan Kabupaten Batang tahun 2026 tetap menitikberatkan pada ketahanan
pangan. Tema besar yang diusung adalah Penguatan Ketahanan Pangan melalui
Ketersediaan Akses dan Pemanfaatan Pangan. Untuk mendukung tema tersebut,
pemerintah daerah menetapkan enam prioritas pembangunan.
“Di antaranya menjaga
kondusivitas wilayah dan peningkatan produksi, peningkatan kualitas Sumber Daya
Manusia (SDM) yang berdaya saing, serta pemantapan infrastruktur dasar yang
mendukung ketahanan pangan. Selain itu, pengembangan ekonomi lokal dan
peningkatan nilai tambah produk pertanian juga menjadi perhatian, disertai
upaya peningkatan tata kelola pemerintahan yang professional,†jelasnya.
Dalam dokumen
perencanaan, Bapperida juga menetapkan sejumlah indikator kinerja utama (IKU)
periode 20262029. Beberapa di antaranya adalah target Indeks Pembangunan
Manusia (IPM) sebesar 71,2, tingkat kemiskinan di kisaran 8,30 persen, serta
Indeks Daya Saing Daerah dengan target 3,89.
“Sementara untuk
pertumbuhan ekonomi, Bagus menyebut target masih mengacu pada Peraturan Daerah
tentang RPJMD, meski realisasi tahun 2025 tercatat cukup tinggi. Realisasi
pertumbuhan ekonomi tahun lalu mencapai sekitar 8 persen, tapi untuk target
tetap merujuk pada RPJMD yang sudah ditetapkan,†terangnya.
Di sisi lain,
penyusunan Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) 2026 dihadapkan pada
tantangan fiskal. Transfer dana dari pemerintah pusat diperkirakan turun
sekitar Rp244 miliar, sehingga total pagu anggaran daerah menjadi sekitar Rp2,1
triliun.
“Meski terjadi
penurunan anggaran, sejumlah proyek strategis tetap diprioritaskan melalui
APBD. Di antaranya rekonstruksi Jembatan Kali Belo, pembangunan Gedung Satpol
PP, serta penataan kawasan GOR Sarengat,†imbuhnya.
Selain itu, pemerintah
daerah juga merencanakan penataan Alun-alun Batang dan trotoar di sejumlah
titik strategis, seperti Jalan Ahmad Yani, depan RSUD, serta depan Kantor
Kecamatan Batang.
“Di sektor kesehatan,
lanjutan pembangunan gedung radiologi dan pengadaan alat kesehatan juga masuk
dalam daftar prioritas pembangunan 2026,†pungkasnya.
Ia berharap, dengan
perencanaan yang adaptif terhadap perubahan struktur ekonomi dan keterbatasan
fiskal, pembangunan Batang tetap dapat berjalan efektif dan menyentuh kebutuhan
masyarakat. (MC Batang, Jateng/Roza/Jumadi)