Batang - Langit di atas pesisir Batang mungkin tampak biasa bagi sebagian orang, namun bagi ribuan nelayan, mendung dan angin kencang adalah sinyal "lampu merah" yang mematikan mata pencaharian mereka. Gelombang tinggi dan musim baratan kini memaksa ribuan nelayan di Kabupaten Batang mengikat kencang kapal-kapal mereka di dermaga, memicu masa paceklik yang menyesakkan dapur keluarga.
Batang - Langit di atas pesisir Batang mungkin tampak biasa bagi sebagian orang, namun bagi ribuan nelayan, mendung dan angin kencang adalah sinyal "lampu merah" yang mematikan mata pencaharian mereka. Gelombang tinggi dan musim baratan kini memaksa ribuan nelayan di Kabupaten Batang mengikat kencang kapal-kapal mereka di dermaga, memicu masa paceklik yang menyesakkan dapur keluarga.
Pemandangan
di seluruh Tempat Pelelangan Ikan (TPI) di Batang kini berubah menjadi
"hutan tiang kapal". Tak hanya perahu kecil, kapal berukuran sedang
hingga besar pun menumpuk, tak berani menantang ganasnya Laut Jawa.
Terjepit
Cuaca dan Pendangkalan Muara
Ketua
Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Batang Teguh Tarmudjo mengungkapkan,
bahwa situasi tahun ini terasa lebih berat. Selain faktor alam, kendala teknis
di pelabuhan memperburuk keadaan.
“Ini
total nelayan kami banyak yang tidak berangkat semua. Kapal kecil, sedang,
maupun besar, banyak yang berhenti. Gelombang tinggi, angin kencang, ditambah
alur muara yang sekarang pendangkalannya sangat parah,†katanya saat ditemui di
Kantor HNSI Batang, Kabupaten Batang, Jumat (23/1/2026).
Kondisi
ini praktis memutus urat nadi ekonomi lebih dari 10 ribu nelayan. Dampak yang
paling menyedihkan dirasakan oleh para Anak Buah Kapal (ABK). Tanpa melaut,
berarti tidak ada upah harian. Diperparah juga dengan banjir yang menggenangi
diwilayah pemukiman nelayan seperti Klidang Lor, Karangasem Utara.
“Kalau
nelayan tidak berangkat, otomatis tidak ada penghasilan. Yang paling berat itu
ABK, mereka tidak punya kapal dan sangat bergantung pada kerja harian di laut,â€
jelasnya.
Ironisnya,
di saat krisis mencapai puncaknya, "napas" bantuan dari organisasi
nelayan justru menipis. Stok beras paceklik yang biasa menjadi penyambung hidup
sudah habis disalurkan sejak akhir tahun lalu.
“Kemampuan
kami sekarang untuk membantu agak sulit, karena beras paceklik sudah kami
keluarkan akhir tahun kemarin. Sementara situasi sekarang jauh lebih berat,†ungkapnya.
Melihat
kondisi yang disebutnya sebagai "darurat ekonomi", Teguh mendesak
Pemerintah Daerah untuk tidak terjebak dalam sekat birokrasi yang kaku. Perut
nelayan, menurutnya, tidak bisa menunggu proses administratif yang lama.
“Idealnya
pemerintah bisa membantu berupa beras atau bantuan keuangan. Secara inisiatif,
tidak harus menunggu administrasi, karena ini menyangkut perut nelayan,†tegasnya.
Respons
Pemerintah: Silakan Ajukan
Menanggapi
jeritan dari pesisir tersebut, Wakil Bupati Batang Suyono memberikan, lampu
hijau bagi penyaluran bantuan. Ia memastikan bahwa pintu kantor pemerintah
selalu terbuka bagi masyarakat yang terdampak musibah alam.
“Nanti
kalau ada dari pihak organisasi nelayan yang mengajukan ke Pemda atau Dinas
Sosial, pasti akan terlayani sesuai kebutuhan,†ujar dia.
Ia
menegaskan, bahwa komitmen Pemkab Batang adalah hadir di tengah kesulitan
warga. Prinsipnya pemerintah daerah siap hadir dan membantu masyarakat yang
benar-benar terdampak.
Kini,
ribuan nelayan di Batang hanya bisa menatap laut dari kejauhan, berharap badai
segera berlalu dan uluran tangan pemerintah segera tiba sebelum piring di meja
makan benar-benar kosong. (MC Batang, Jateng/Edo/Jumadi)