Batang - Pemerintah Kabupaten Batang mencatat sejumlah capaian sekaligus tantangan di bidang kesehatan sepanjang tahun 2025. Salah satu indikator positif yang menonjol adalah meningkatnya angka harapan hidup masyarakat Batang, yang kini mencapai 75,35 tahun. Hal tersebut disampaikan oleh Bupati Batang M. Faiz Kurniawan saat rakor di Aula Kantor Bupati Batang, Kabupaten Batang, Kamis (15/1/2026).
Batang - Pemerintah Kabupaten Batang mencatat sejumlah capaian sekaligus tantangan di bidang kesehatan sepanjang tahun 2025. Salah satu indikator positif yang menonjol adalah meningkatnya angka harapan hidup masyarakat Batang, yang kini mencapai 75,35 tahun. Hal tersebut disampaikan oleh Bupati Batang M. Faiz Kurniawan saat rakor di Aula Kantor Bupati Batang, Kabupaten Batang, Kamis (15/1/2026).
Menurutnya, capaian
tersebut merupakan hasil dari berbagai program, kebijakan, serta intervensi
pemerintah daerah yang berdampak langsung pada kualitas hidup masyarakat.
“Ini adalah hasil
kegiatan, hasil program, hasil policy, dan hasil intervensi pemerintah yang
kemudian tercapture dalam data tahun 2025. Berdasarkan data kesehatan Kabupaten
Batang, angka harapan hidup meningkat dari 75,01 tahun pada 2024 menjadi 75,35
tahun pada 2025. Selain itu, prevalensi stunting juga menunjukkan tren
penurunan dari 9,58 persen menjadi 9,43 persen, yang menandakan perbaikan
kinerja penanganan gizi anak,†jelasnya.
Penurunan juga terjadi
pada angka kematian bayi. Jika pada 2024 tercatat 128 kasus kematian bayi per
1.000 keluarga, pada 2025 jumlah tersebut turun signifikan menjadi 81 kasus.
Kasus HIV turut mengalami penurunan, dari 186 kasus pada 2024 menjadi 181 kasus
pada 2025.
Meski demikian, Faiz
mengingatkan bahwa penurunan kasus HIV belum sepenuhnya menggambarkan kondisi
riil di lapangan. Ia menekankan pentingnya memperluas cakupan layanan
pemeriksaan agar kasus yang belum terdata dapat teridentifikasi.
“Walaupun menurun, saya
meyakini masih ada kasus yang belum terdata. Maka coverage pengecekan harus
terus diperluas. Di sisi lain, Pemkab Batang juga menghadapi tantangan serius.
Data menunjukkan peningkatan kasus kematian ibu dari sembilan kasus pada 2024
menjadi 10 kasus pada 2025,†terangnya.
Selain itu, kasus malaria
meningkat dua kali lipat, dari sembilan kasus menjadi 18 kasus, sementara kasus
tuberkulosis (TBC) melonjak drastis dari 1.420 kasus menjadi 1.570 kasus.
Menanggapi kondisi
tersebut, Faiz menginstruksikan Dinas Kesehatan Kabupaten Batang untuk segera
membentuk satuan tugas (satgas) khusus guna menangani malaria dan TBC secara
lebih terfokus.
“Kenaikan ini tidak bisa
dianggap sepele. Perlu langkah cepat dan terkoordinasi, termasuk pembentukan
satgas khusus,†tegasnya.
Faiz menambahkan,
peningkatan angka harapan hidup mencerminkan perbaikan kualitas lingkungan,
layanan kesehatan, serta kecukupan gizi masyarakat. Namun, ia menekankan bahwa
capaian tersebut harus diimbangi dengan penguatan program pencegahan dan
penanganan penyakit menular.
Ia juga mengingatkan
pentingnya keterlibatan seluruh organisasi perangkat daerah (OPD), akademisi,
dan pemangku kepentingan dalam perencanaan pembangunan kesehatan ke depan,
terutama menjelang penyusunan program dan penganggaran tahun 2027.
“Momentum ini harus
dimanfaatkan sebaik mungkin karena akan menjadi tonggak pembangunan tahun
2027,†pungkasnya. (MC Batang, Jateng/Roza/Jumadi)