Peluang Bisnis Kuliner yang Datangkan Cuan

Batang Berawal dari kebiasaannya membantu berjualan bakso goreng (basreng), di kediaman bibinya, Hamidah siswi SMKN 1 Batang, terinspirasi mengikuti jejak untuk menjual makanan serupa di sekolah.
Batang Berawal dari
kebiasaannya membantu berjualan bakso goreng (basreng), di kediaman bibinya,
Hamidah siswi SMKN 1 Batang, terinspirasi mengikuti jejak untuk menjual makanan
serupa di sekolah.
Ia mulai menekuni
profesi itu sejak awal Januari 2022 lalu. Dengan sedikit kreasi, olahan basreng
yang dijajakan kepada rekan sebaya di sekolah, ternyata mendapat sambutan
positif, sehingga memantapkannya untuk mengembangkan ke dunia bisnis kuliner.
“Basreng itu bakso yang
digoreng terus dikasih daun jeruk dan bumbu rahasia, ada juga skutel, lumpia
dan es kuwut dengan harga jual Rp5 ribu sampai Rp6 ribu. Karena teman-teman
pada suka, akhirnya jualan aja ke sekolah sama online,” katanya, saat ditemui,
dalam kegiatan Gelar Karya, di halaman SMKN 1 Kabupaten Batang, Senin
(28/11/2022).
Untuk menjaga kualitas,
ia selalu memproduksi sesuai jumlah pesanan.
“Saya tidak pernah
menyuplai basreng secara berlebih. Cuma kalau ada pesanan, baru saya buat,
biasanya 50 bungkus untuk harga Rp5 ribu. Berbeda jika penjualan secara online.
Mayoritas konsumen memesan hingga 50 bungkus untuk ukuran seperempat kilogram
dan 80 bungkus untuk harga Rp5 ribu,” jelasnya.
Omsetnya bisa sampai
Rp1 juta untuk setiap pemesanan. Baginya, selama dapat membagi waktu, berbisnis
saat menempuh pendidikan sangat positif.
“Ini untuk mengisi
waktu luang, apalagi ini peluang yang bagus karena bisa mendatangkan uang. Jadi
bisa menambah uang saku,” tuturnya.
Ia mengaku ada sedikit
kendala permodalan. Untuk mengatasinya, dengan meminjam uang dari bibinya.
“Pinjamnya antara Rp350
ribu sampai Rp500 ribu. Dan kalau sudah laku, langsung dikembalikan hari itu
juga,” ungkapnya.
Guru Mata Pelajaran
Kewirausahaan, Sri Setiani mengatakan, kegiatan ini juga berkesinambungan
dengan Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5), khususnya di bidang
kewirausahaan.
“Latihan kewirausahaan
ini tidak hanya dilakukan di lingkup sekolah saja, tapi direalisasikan dengan
menjual produk olahannya langsung kepada konsumen. Apalagi sekarang penjualan
bisa secara online yang pangsa pasarnya sangat luas,” terangnya.
Salah satu siswi SMKN 1
Batang sudah mempraktikkannya dalam dunia bisnis kuliner, yakni Hamidah.
Ia juga menginspirasi
sebayanya untuk terjun ke dunia bisnis, utamanya kuliner karena keuntungan yang
cepat dan menjanjikan.
“Saya senang sekali
melihat kreativitas Hamidah. Ternyata anak didik saya punya pola pikir bisnis,
sebab untuk menanamkan pola pikir itu ke anak tidak mudah, karena terkadang
sebagian dari mereka ada perasaan gengsi,” katanya.
Maka dengan hadirnya
sosok Hamidah yang mau memulai berbisnis, saat di bangku sekolah, dapat
dijadikan teladan bagi sebayanya.
“Memang untungnya tidak
seberapa, tapi untuk meraih kesuksesan tidak bisa diperoleh secara instan.
Nantinya kalau sudah berkembamg, bisa menciptakan lapangan pekerjaan bagi
masyarakat,” tegasnya.
Sementara itu, Kepala
SMKN 1 Batang Catur Puji Raharjo menambahkan, pelajar SMK memang diupayakan
memiliki tiga kompetensi sekaligus, yakni bekerja, berwirausaha dan atau
melanjutkan ke tingkat berikutnya.
“Gelar Karya ini bisa
jadi ajang berlatih anak didik berwirausaha. Ke depan bisa berkolaborasi dengan
pelaku UMKM maupun pengusaha yang memiliki modal,” ujar dia.
Ia memastikan, telah
menggelar diskusi bersama pihak perwakilan manajemen Kawasan Industri Terpadu (KIT)
Batang, untuk rekrutmen karyawan dari lulusan SMK.
“Semua lowongan
pekerjaan cocok dengan lulusan kami. Karena kalau pun semua lulusan SMK bekerja
di KITB, tetap saja masih kekurangan tenaga kerja,” pungkasnya. (MC Batang,
Jateng/Heri/Jumadi)