Disdikbud Batang Akan Mengkaji Terkait Pembelajaran Daring
Batang - Wacana pemerintah pusat untuk kembali mengutak-atik sistem pembelajaran antara daring dan luring mulai memicu diskusi hangat di daerah, berdalih untuk efisiensi energi ditengah kemelut perang Iran vs Israel dan Amerika.
Batang - Wacana pemerintah pusat untuk kembali mengutak-atik sistem pembelajaran antara daring dan luring mulai memicu diskusi hangat di daerah, berdalih untuk efisiensi energi ditengah kemelut perang Iran vs Israel dan Amerika.
Meski kebijakan ini
masih samar, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Batang Bambang
Suryantoro Sudibyo mengatakan, secara jujur mengakui bahwa dirinya lebih
"sreg" jika anak didik tetap belajar di dalam ruang kelas secara
tatap muka. Layar gawai tidak akan pernah bisa menggantikan kehadiran sosok
guru di depan kelas. Ada nilai-nilai yang hilang ketika interaksi fisik
dibatasi oleh jaringan internet.
Bambang menyandarkan
pendapatnya pada data objektif. Ia melihat ada penurunan kualitas serapan ilmu
jika dibandingkan dengan masa sebelum pandemi melanda.
“Ada plus-minusnya.
Kalau saya kok lebih condong lebih baik tatap muka pembelajarannya. Lebih
intens. Karena kan tidak semua anak itu bisa belajar dengan menangkap dari
medsos,” katanta saat ditemui di ruang kerjanya, Rabu (25/3/2026).
Ia memberikan komparasi
nyata melalui hasil evaluasi pendidikan yang ada. Menurutnya, anak-anak yang
melewati masa kritis belajarnya di era COVID-19 menunjukkan tren penurunan daya
tangkap.
“Beda Mas, anak kelas 6
sekarang hasil dari COVID dengan dulu agak menurun. Kan kita ada rapor
pendidikan itu, agak menurun daya-dayanya gitu. Bukan hanya soal kualitas
materi, kendala teknis masih menjadi "hantu" bagi dunia pendidikan di
daerah,” jelasnya.
Bambang mengakui bahwa
infrastruktur sekolah di Kabupaten Batang belum sepenuhnya siap jika harus
dipaksa beralih ke sistem digital secara penuh. Menurutnya, ada dua masalah
besar: ketersediaan internet dan kepemilikan gawai. Belum semua siswa memiliki
perangkat pribadi, dan jumlah komputer di sekolah pun belum mampu meng-cover
seluruh jumlah siswa.
Persoalan ini semakin
pelik jika melihat kondisi sosial ekonomi orang tua siswa saat ini. Berbeda
dengan masa pandemi di mana kebijakan Work From Home (WFH) berlaku, saat ini
orang tua sudah kembali bekerja normal di luar rumah.
“Kadang-kadang gawai
itu kan satu, yang bawa orang tua. Kemarin pas COVID kan WFH kan? Bisa dipakai
bareng-bareng,” terangnya.
Meski memiliki catatan
kritis, Bambang menegaskan bahwa pihaknya tetap akan menjadi pelaksana
kebijakan yang loyal jika pemerintah pusat akhirnya mengetok palu. Baginya, dinas adalah kepanjangan tangan
teknis dari kebijakan nasional maupun pimpinan daerah.
“Kalau itu sudah
instruksi pusat ya, kebijakan pusat harus mengikuti. Kalau Dinas ya enggak bisa
(mengajukan keberatan), Mas. Yang keberatan itu pimpinan daerah (Bupati),” ungkapnya.
Jika skenario daring
tetap dijalankan, Bambang sudah menyiapkan beberapa langkah darurat untuk
menyiasati keterbatasan alat, mulai dari sistem pembagian waktu (shift) hingga
skema pinjam pakai fasilitas antar-kelas atau antar-sekolah.
Hingga saat ini, pihak
Disdikbud Batang masih dalam posisi menunggu petunjuk teknis (juknis) resmi. (MC
Batang, Jateng/Edo/Siska)