Bukan Kurang Guru, Bupati Batang Sebut Masalah Ada pada "Salah Kamar" Distribusi
Batang - Kabar miring mengenai kekurangan hingga 1.000 guru di Kabupaten Batang akhirnya mendapat titik terang. Bupati Batang M. Faiz Kurniawan, menepis anggapan bahwa daerahnya sedang krisis tenaga pendidik. Baginya, riuh rendah masalah ini bukan soal jumlah orang, melainkan tentang benang kusut regulasi dan manajemen distribusi yang belum merata.
Batang - Kabar miring mengenai kekurangan hingga 1.000 guru di Kabupaten Batang akhirnya mendapat titik terang. Bupati Batang M. Faiz Kurniawan, menepis anggapan bahwa daerahnya sedang krisis tenaga pendidik. Baginya, riuh rendah masalah ini bukan soal jumlah orang, melainkan tentang benang kusut regulasi dan manajemen distribusi yang belum merata.
Jika
menilik angka di atas kertas, kondisi pendidikan di Batang sebenarnya jauh dari
kata mengkhawatirkan. Dengan total sekitar 82.000 siswa dan dukungan 5.000 guru
aktif, posisi Batang justru berada di zona nyaman.
“Rasio
ideal antara guru dan murid itu 1 banding 20. Sementara di Batang rasionya
sekitar 1 banding 17. Jadi sebenarnya masih sangat ideal,” katanya saat ditemui
di Kantornya, Jumat (13/3/2026).
Lantas,
mengapa isu kekurangan guru tetap mencuat. Faiz menjelaskan bahwa persoalan
utama terletak pada manajerial penempatan. Ada sekolah yang berlimpah guru,
sementara sekolah lain harus berjuang dengan jumlah terbatas. Sayangnya,
memindahkan guru untuk menutup lubang tersebut tidak semudah membalikkan
telapak tangan.
“Status
guru Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) menjadi variabel yang
cukup mengunci fleksibilitas daerah. “Ini hanya soal manajerial pembagian guru
dan penempatannya di sekolah. Nah, itu yang masih terhalang regulasi, sehingga
PPPK tidak bisa dengan mudah dipindah,” jelasnya.
Fokus
Penataan, Bukan Rekrutmen
Mengenai
kekhawatiran pembengkakan anggaran, Bupati menegaskan bahwa masyarakat tidak
perlu cemas. Karena masalahnya bukan kekurangan jumlah, maka solusi yang
diambil bukan menambah personil, melainkan menata ulang apa yang sudah ada.
* Tanpa Rekrutmen Baru: Pemerintah daerah
memastikan tidak ada penambahan beban anggaran.
* Optimalisasi Anggaran: Menggunakan alokasi
dana yang sudah berjalan.
* Manajerial Sentris: Fokus pada efisiensi
penempatan guru di lapangan.
“Tidak
ada rekrutmen baru. Jadi masih menggunakan anggaran yang lama. Ini murni soal
manajerial, bukan persoalan kekurangan guru,” tegasnya.
Menindaklanjuti
arahan Bupati, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Batang
Bambang Suryantoro Sudibyo, tengah menyiapkan langkah taktis. Untuk mengisi
kekosongan di beberapa sekolah secara cepat, skema mutasi antar sekolah
terdekat akan menjadi tumpuan utama.
“Kami
akan melakukan mutasi guru-guru dari sekolah terdekat untuk membantu sekolah
yang masih kekurangan guru,” ujar dia.
Langkah
ini diharapkan mampu menjadi "napas buatan" bagi sekolah-sekolah yang
membutuhkan, sembari menunggu regulasi pusat yang lebih fleksibel di masa
depan. (MC Batang, Jateng/Edo/Jumadi)