Efek Cuaca Buruk, Pedasnya Harga Cabai di Batang Kian Tak Terkendali
Batang - Dapur warga Kabupaten Batang kini terasa lebih "panas", namun bukan karena aroma masakan, melainkan meroketnya harga cabai di sejumlah pasar tradisional. Hanya dalam kurun waktu tiga hari terakhir, komoditas pedas ini mengalami lonjakan harga yang signifikan seiring mendekatnya momentum bulan puasa dan perayaan Imlek.
Batang - Dapur warga Kabupaten Batang kini terasa lebih "panas", namun bukan karena aroma masakan, melainkan meroketnya harga cabai di sejumlah pasar tradisional. Hanya dalam kurun waktu tiga hari terakhir, komoditas pedas ini mengalami lonjakan harga yang signifikan seiring mendekatnya momentum bulan puasa dan perayaan Imlek.
Kenaikan ini bukan
tanpa alasan. Kombinasi antara tingginya permintaan pasar dan cuaca ekstrem
menjadi pemicu utama. Musim hujan yang mengguyur membuat stok cabai di tingkat
petani banyak yang membusuk, sehingga pasokan ke pedagang pun tersendat.
Salah satu pedagang
senior Pasar Batang Rusinah (80) mengungkapkan, bahwa hampir semua jenis cabai
kini berganti label harga.
“Lombok merah besar
sekarang Rp40 ribu per kilo, sebelumnya masih Rp25 - 30 ribu. Lombok rawit juga
Rp 40 ribu, sebelumnya sama Rp25 - 30 ribu. Naiknya sudah tiga hari ini,” katanya
saat ditemui di Pasar Batang, Kabupaten Batang, Rabu (18/2/2026).
Namun, primadona
kenaikan kali ini jatuh pada jenis cabai rawit merah atau yang akrab disapa
"cabai setan". Menurut Rusinah, harganya kian tak terkendali. Lombok
setan sekarang Rp85 ribu per kilo, sebelumnya Rp70 - 75 ribu.
Senada dengan Rusinah,
Anis (31), pedagang lainnya, memprediksi tren kenaikan ini belum akan berhenti
dalam waktu dekat. Ia mencatat lonjakan harga terus merangkak naik sejak dua
hari lalu dan diperkirakan akan tetap tinggi hingga memasuki awal Ramadan.
“Cabai merah besar
sekarang Rp40 ribu per kilo, dua hari lalu masih Rp32 ribu, naik Rp8 ribu.
Cabai setan Rp92 ribu per kilo, sebelumnya Rp80 ribu. Cabai rawit juga naik
dari Rp32 ribu jadi Rp40 ribu per kilo,” jelasnya.
Selain keluarga cabai,
Anis juga menyebutkan bahwa bawang merah ikut "beraksi" dengan
kenaikan harga dari Rp32 ribu menjadi Rp48 ribu per kilo. Sementara itu, cabai
hijau terpantau masih relatif stabil di angka Rp24 ribu per kilo.
Menariknya, meski harga
melonjak drastis, antusiasme pembeli justru tidak surut. Anis mengamati adanya
pola unik pada perilaku konsumen saat menjelang hari besar keagamaan.
“Kalau harga cabai
mahal biasanya pembelinya tetap ramai. Tapi kalau murah, justru yang beli tidak
sebanyak sekarang,” ungkapnya.
Situasi ini kini
menjadi perhatian serius bagi warga, khususnya ibu rumah tangga dan pengusaha
kuliner yang sangat bergantung pada cabai. Para pedagang hanya bisa berharap
distribusi dari petani segera kembali normal agar harga tak makin liar dan daya
beli masyarakat tetap terjaga di tengah kepungan cuaca buruk. (MC Batang,
Jateng/Edo/Jumadi)