Putus Rantai Talasemia, Pelajar SMAN 1 Bandar Diedukasi POPTI Batang
Batang - Kecamatan Bandar kini menjadi sorotan utama dalam penanganan talasemia di Kabupaten Batang. Bukan tanpa alasan, wilayah ini mencatatkan angka kasus tertinggi, yakni 13 anak dari total 42 penyandang talasemia di seluruh kabupaten.
Batang - Kecamatan Bandar kini menjadi sorotan utama dalam penanganan talasemia di Kabupaten Batang. Bukan tanpa alasan, wilayah ini mencatatkan angka kasus tertinggi, yakni 13 anak dari total 42 penyandang talasemia di seluruh kabupaten.
Angka
ini menjadi alarm bagi para praktisi kesehatan untuk bergerak lebih masif ke
akar rumput, khususnya menyasar generasi muda.
Menyikapi
hal tersebut, Perhimpunan Orang Tua Penderita Talasemia Indonesia (POPTI)
Cabang Batang menggelar aksi "POPTI Go to School" di SMAN 1 Bandar,
Kabupaten Batang, Jumat (23/1/2026). Langkah ini merupakan bagian dari misi
besar mewujudkan Batang Zero Talasemia.
Memilih
Jodoh Bukan Sekadar Cinta
Suasana
ruang sosialisasi terasa hidup saat dua pakar dari RSUD Kalisari Batang, dokter
anak Tan Evi Susanti dan dokter penyakit dalam Ibnu Mas'ud memaparkan materi.
Tan
Evi Susanti mengatakan, fokus utama mereka adalah memberikan pemahaman bahwa
talasemia bukan penyakit menular, melainkan penyakit genetika yang bisa dicegah
lewat pilihan pasangan hidup.
“Edukasi
ini sangat bermanfaat, karena memang Kecamatan Bandar merupakan kasus tertinggi
talasemia di Batang. Jadi remaja kita bisa tahu bagaimana memilih pasangan
hidup. Semoga penurunan angka talasemia makin nyata karena mereka bisa memilih
pasangan yang minimal normal dengan pembawa sifat sebelumnya,” jelasnya.
Ia
pun mengapresiasi antusiasme para siswa yang aktif saat sesi tanya jawab.
Menurutnya, pemahaman siswa sudah sangat matang mengenai cara menentukan
langkah jika nantinya mereka bertemu pasangan yang juga sesama pembawa sifat
(carrier).
Senada
dengan, Ibnu Mas'ud menekankan pentingnya edukasi tematik mengenai risiko
kelahiran anak dengan talasemia mayor.
“Bahwa
jika sesama pembawa sifat menikah, ada risiko sebesar 25% setiap kehamilan
untuk melahirkan anak dengan talasemia mayor yang membutuhkan transfusi darah
seumur hidup,” ungkapnya.
Satu-satunya
jalan keluar yang paling efektif adalah melalui Skrining Hb Elektroforesis
sejak duduk di bangku SMP atau SMA. Tes darah ini berfungsi mendeteksi
hemoglobin abnormal yang tidak terlihat secara kasat mata, sehingga mata rantai
genetik ini bisa diputus sejak dini sebelum pacaran atau menikah.
Pihak
sekolah menyambut baik inisiatif ini. Pembina PMR SMAN 1 Bandar Tegar Sulistya
Sasongko berharap, para anggotanya tidak hanya menyerap ilmu untuk diri
sendiri, tetapi juga menjadi perpanjangan tangan informasi keteman sekolahnya
dan masyarakat.
“Kami
berharap anak-anak PMR bisa menjadi relawan untuk memutus mata rantai bayi
lahir dengan talasemia. Sebarkan ilmu yang didapat kepada teman, keluarga, dan
tetangga agar mereka paham,” harapnya.
Sementara
itu, Ketua POPTI Cabang Batang Nety Widjayanti mengungkapkan, bahwa kunjungan
ke sekolah ini adalah yang pertama kalinya dilakukan.
Ia
merasa perlu membedah data nasional yang kini mencapai 13.939 kasus, di mana
Batang menyumbang 42 penyandang (15 dewasa dan 27 anak-anak).
“Tujuan
kami jelas, memberikan pemahaman agar penyakit genetik ini bisa terputus.
Melalui edukasi ke sekolah, kita menyiapkan generasi yang lebih sadar kesehatan
demi masa depan Batang yang lebih baik,” ujar dia. (MC Batang,
Jateng/Edo/Jumadi)