Polemik Relokasi PKL di Batang, Jangan Jadikan Alasan Ekonomi untuk Langgar Aturan
Batang Benarkah geliat ekonomi di Kabupaten Batang sedang lesu? Pertanyaan ini memicu perdebatan hangat antara para Pedagang Kaki Lima (PKL) yang merasa kesulitan dengan data yang dikantongi pemerintah daerah. Di tengah upaya penertiban ruang publik, Bupati Batang M. Faiz Kurniawan menepis anggapan bahwa daya beli masyarakat tengah menurun.
Batang Benarkah geliat ekonomi di Kabupaten Batang sedang lesu? Pertanyaan ini memicu perdebatan hangat antara para Pedagang Kaki Lima (PKL) yang merasa kesulitan dengan data yang dikantongi pemerintah daerah. Di tengah upaya penertiban ruang publik, Bupati Batang M. Faiz Kurniawan menepis anggapan bahwa daya beli masyarakat tengah menurun.
Ia
menyoroti fenomena di lapangan dimana jumlah pedagang justru semakin menjamur,
yang menurutnya menjadi bukti nyata bahwa perputaran uang di Batang masih
sangat sehat.
Ketegangan
muncul saat petugas meminta PKL yang berjualan di trotoar untuk pindah. Banyak
pedagang mengeluh dengan alasan ekonomi sedang sulit. Namun, Bupati Faiz
memiliki sudut pandang berbeda.
“Jika
ada yang bilang PKL di trotoar misalnya kita minta pindah karena berjualan
bukan di tempatnya bilang 'Pak ekonomi lagi lesu malah dodolan diangel-angel'
(jualan dipersulit), salah besar,” katanya, saat ditemui di Aula Bupati Batang,
Kabupaten Batang, Rabu (14/1/2026).
Ia
menambahkan, logika ekonomi sederhana menunjukkan hal yang sebaliknya. Kalau
memang ekonomi lesu, maka PKL-nya tutup saja. Pada kenyataannya PKL semakin
meningkat.
Meski
mendukung penuh pertumbuhan UMKM, Faiz menegaskan bahwa ketertiban fasilitas
umum (fasum) dan fasilitas sosial (fasos) tetap menjadi prioritas agar fungsi
kota tidak terganggu.
“Bukan
tanpa dasar, ini dibuktikan oleh angka statistik yang menunjukkan tren positif
sepanjang tahun 2025. Salah satu indikator utamanya adalah kenaikan pengeluaran
per kapita masyarakat Batang yang mencapai Rp11.424.000,00,” jelasnya.
Angka
ini naik cukup drastis dibandingkan tahun 2024 yang berada di angka
Rp10.919.000,00. Selain itu, investasi di Batang juga dilaporkan tumbuh
signifikan hingga lebih dari 30 persen.
Bupati
Faiz mengajak masyarakat melihat kondisi ini secara rasional. Menurutnya,
mustahil konsumsi masyarakat meningkat jika mereka tidak memiliki uang atau
pekerjaan.
“Belanja
meningkat itu nek ora nduwe duit (kalau tidak punya uang) kira-kira rasional
atau nggak? Ya nggak rasional. Wong belanjanya tambah kok nggak punya duit,” ungkapnya.
Bagi
Faiz, peningkatan belanja ini adalah efek domino dari terserapnya tenaga kerja
di sektor industri dan pabrik di Batang.
“Belanjanya
nambah berarti duitnya nambah. Duitnya nambah berarti yang semula tidak punya
pekerjaan jadi punya pekerjaan. Yang semula dagangannya sepi sekarang ramai,”
pungkasnya. (MC Batang, Jateng/Edo/Jumadi)