Home / Berita / Aktivitas Pemuda Pramuka dan Organisasi Sosial / KOMUNITAS ES TEH, RUANG SANTAI PEREMPUAN UNTUK BERSEPEDA

Berita

Komunitas Es Teh, Ruang Santai Perempuan Untuk Bersepeda

Batang - Berawal dari keisengan, sekelompok perempuan di Kecamatan Bandar membentuk komunitas bersepeda bernama “Gowes Teteh” atau akrab disebut “Es Teh”. Komunitas ini hadir sebagai ruang santai bagi perempuan yang ingin menikmati gowes tanpa aturan kaku dan target berlebihan.

Batang - Berawal dari keisengan, sekelompok perempuan di Kecamatan Bandar membentuk komunitas bersepeda bernama “Gowes Teteh” atau akrab disebut “Es Teh”. Komunitas ini hadir sebagai ruang santai bagi perempuan yang ingin menikmati gowes tanpa aturan kaku dan target berlebihan.

Ketua sekaligus admin Komunitas Gowes Teteh Sri Liani mengatakan, komunitas tersebut terbentuk pada Oktober 2025. Awalnya, hanya tiga orang yang sering bersepeda bersama karena terpengaruh tren gowes yang ramai di media sosial.

“Kita itu awalnya iseng saja. Sering lihat teman-teman sepedaan, terus suka join komunitas lain. Sampai akhirnya disuruh bikin sendiri saja,” katanya saat ditemui di kafe Koohi Bike, Kecamatan Bandar, Kabupaten Batang, Senin (5/1/2026).

Nama Es Teh lahir dari obrolan santai. Saat itu, Liani dan rekan-rekannya kerap bergabung dengan komunitas bernama Teh Panas. Dari situlah muncul ide membuat nama tandingan yang lebih “dingin”.

“Akhirnya kepikiran Es Teh. Terus kita cari maknanya, karena salah satu orang dari kota ada yang Sunda, ya sudah Teteh. Jadi Es Teh itu Gowes Teteh-Teteh, artinya perempuan-perempuan yang gowes,” jelasnya.

Seiring waktu, jumlah anggota pun bertambah. Dari tiga orang, kini Gowes Teteh memiliki sekitar sembilan anggota aktif. Meski demikian, komunitas ini tidak membuka rekrutmen resmi.

“Kita enggak ada rencana nambah anggota. Biar tetap circle kecil. Kalau ada yang mau join sepedaan saja enggak apa-apa, tapi bukan jadi anggota. Soal rute, Gowes Teteh punya satu prinsip utama: menghindari tanjakan. Rute favorit mereka biasanya datar dan santai, seperti kawasan Batang Industri Park (BIP) atau rute pendek di sekitar kota.

Meski begitu, mereka pernah menjajal gowes jarak lebih jauh hingga Semarang, meski harus ditempuh dengan kombinasi mobil dan sepeda. Berbeda dengan komunitas olahraga lain yang menekankan target kebugaran, Gowes Teteh justru mengedepankan kesenangan.

Menurut Liani, tujuan utama komunitas ini adalah melepas penat.

“Soal sehat itu bonus. Tujuannya have fun saja. Lagi pengin sepedaan ya sepedaan, enggak ya enggak,” ungkapnya.

Liani mengakui ketertarikannya kembali bersepeda juga dipengaruhi media sosial. Setelah lama sibuk mengurus anak, sepeda menjadi pilihan olahraga yang paling realistis.

“Kalau lari capek banget. Kita sudah tua jadi pilih sepeda kan bisa sambil duduk,” tuturnya.

Sepeda yang digunakan pun sederhana. Liani hanya memiliki satu sepeda yang dimodifikasi dengan boncengan anak di bagian belakang. Kalau anak mau ikut ya dibawa. Kalau enggak, boncengannya dilepas.

“Ke depan, Gowes Teteh tidak memiliki target muluk. Mereka ingin komunitas ini tetap cair, tanpa aturan ketat soal dresscode, jenis sepeda, maupun jadwal. Harapannya ya seru-seruan saja. Mengalir, santai, enggak ribet. Pengin gowes ya tinggal ajak, jalan. Itu saja,” pungkasnya. (MC Batang,Jateng/Roza/Siska)