Sang Singkong yang Merajai Market Day SLB Batang

Batang - Singkong atau ubi kayu yang tumbuh subur di Kabupaten Batang ternyata belum menjadi menu favorit warga setempat. Namun, di tangan pelajar berkebutuhan khusus, disulap menjadi beragam menu variatif hingga berhasil menarik perhatian di even Market Day SLB Negeri Batang.
Batang
- Singkong atau ubi kayu yang tumbuh subur di Kabupaten Batang ternyata belum
menjadi menu favorit warga setempat. Namun, di tangan pelajar berkebutuhan
khusus, disulap menjadi beragam menu variatif hingga berhasil menarik perhatian
di even Market Day SLB Negeri Batang.
Lewat program Projek
Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5), pelajar SLB Negeri Batang berupaya
menampilkan keterampilan meracik berbagai menu berbahan dasar singkong.
Pelaksana tugas (Plt)
Kepala SLB Negeri Batang Widiatmoko mengatakan, dipilihnya singkong menjadi
bahan utama dalam menu olahan, untuk menunjukkan anak berkebutuhan khusus
peduli terhadap kearifan lokal.
“Di sini kan banyak
ditumbuhi tanaman singkong, sangat sayang jika tidak diolah jadi menu lezat
yang menyehatkan. Apalagi kalau ke depan bisa menjadi sumber bisnis bagi anak
berkebutuhan khusus,” katanya, saat ditemui usai mencicipi menu olahan
singkong, di halaman SLB Negeri Batang, Kabupaten Batang, Kamis (16/5/2024).
Seluruh proses mulai dari
memanen langsung di kebun sekolah hingga mengolah bahan mentah dilakukan oleh
anak didik, dengan tetap didampingi para pendidik.
“Hasilnya bisa dilihat,
ada bola-bola ketela, peuyeum, singkong pletok, getuk dan lainnya, yang
menggugah selera,” jelasnya.
Respons anak sangat
positif, karena merupakan pengalaman pertama bagi mereka. Maka, wajar jika
dalam proses produksinya, tetap didampingi guru, terlebih saat memasak juga
menggunakan kompor.
“Walaupun ini masih
perdana, tapi kami harapkan ada tindak lanjut, dengan dikembangkan, untuk
mengembangkan kreativitas anak di bidang ragam olahan kuliner, sekaligus ladang
bisnis yang menjanjikan,” terangnya.
Pihak sekolah juga
menggandeng wali murid, untuk mendukung. Dengan membeli makanan olahan dari
putra-putri mereka, yang harganya sangat ekonomis mulai dari Rp2 ribu.
Menu hasil olahan
tersebut mendapat respons positif pula dari wali murid. Salah satunya, Zufriyah
wali murid dari Rizky siswa berkebutuhan khusus, yang sempat memborong beberapa
produk olahan lokal.
Kegiatan mengolah bahan
makanan lokal jadi menu yang variatif sangat membantu daya kreativitas anak.
“Anak jadi berlatih
mandiri dan berpikir cara mengolah makanan dari mentah sampai siap santap,” ujar
dia. (MC Batang, Jateng/Heri/Jumadi)