Batang - Gereja Katolik Santo Yusup Batang merayakan Malam Natal dengan balutan nuansa adat Jawa Tengah. Hal itu ditunjukkan dengan para jemaat yang mengenakan busana beskap atau lurik lengkap dengan blangkon untuk pria dan kebaya atau kain batik lengkap dengan sanggul untuk kaum wanita.
Batang - Gereja Katolik Santo Yusup Batang merayakan
Malam Natal dengan balutan nuansa adat Jawa Tengah. Hal itu ditunjukkan dengan
para jemaat yang mengenakan busana beskap atau lurik lengkap dengan blangkon
untuk pria dan kebaya atau kain batik lengkap dengan sanggul untuk kaum wanita.
Pimpinan Gereja Katolik Santo Yusup Batang Romo
Joseph Ohoiledwarin menyampaikan, khusus tahun ini panitia perayaan Natal
sepakat untuk mengangkat tema busana khas Jawa Tengah.
“Jemaat kami itu beragam, karena berasal dari
berbagai daerah. Ada dari suku Jawa, Batak dan Flores,†katanya, saat ditemui
di Gereja Katolik Santo Yusup, Kabupaten Batang, Sabtu (25/12/2021).
Ia menerangkan, beberapa tahun lalu tema-tema busana
dari daerah lain sudah pernah dipilih sebagai tema busana jemaat.
“Kali ini saya coba jemaat untuk mengenakan busana
khas Jawa Tengah. Termasuk dekorasi gereja pun semuanya bernuansakan Jawa,†jelasnya.
Salah satu jemaat, Frans mengutarakan, tahun ini
Romo menghendaki busana yang bertemakan adat Jawa, karena mayoritas jemaat
adalah warga asli Kabupaten Batang.
“Tiap tahun memang temanya berganti-ganti. Kalau
tahun lalu peribadatan dilakukan secara online, jadi tidak ada tema khusus,â€
ungkapnya.
Ia bersama keluarga mengaku bahagia, karena setelah
dua tahun ibadah di gereja dilakukan secara online, akhirnya kini diizinkan
menggelar ibadah misa secara tatap muka.
“Walaupun begitu, tapi ya harus tetap jaga prokes
yang ketat, jumlah jemaatnya pun dibatasi. Intinya kami sekeluarga senang bisa
dapat kuota untuk mengikuti Misa Malam Natal tatap muka dan ketemu langsung
dengan Romo,†tuturnya.
Ia menambahkan, selama Pandemi Covid-19, pelaksanaan
ibadah di gereja memang ada pembatasan jumlah umat, untuk menjaga agar tidak
terjadi kerumunan.
“Secara bergilir, jemaat tetap bisa ikut ibadah di
gereja, hanya saja dilakukan secara bergilir. Minggu pertama khusus lingkungan
Santo Yusup, minggu kedua Maghdalena, dan kuotanya pun terbatas hanya untuk 50
orang,†terangnya.
Ia bersama keluarga juga mengucapkan terima kasih
kepada pengurus Masjid Nurul Huda, yang berkenan mengizinkan halamannya
dijadikan tempat parkir kendaraan para jemaat.
“Inilah sikap toleransi umat muslim untuk membantu
kami mendapatkan tempat parkir, karena halaman gereja sementara ini dibangun
tenda untuk ibadah umat,†ujar dia. (MC Batang, Jateng/Heri/Jumadi)