Menengok Dapur KDMP di Batang, Menuju Kemandirian Ekonomi

Selasa, 09 Juni 2026 Jumadi Dibaca 291 kali Ekonomi
Menengok Dapur KDMP di Batang, Menuju Kemandirian Ekonomi
Gambar ilustrasi Koperasi Desa Merah Putih di Kabupaten Batang.
Batang - Langkah Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) di tingkat desa kini tengah berjalan dinamis. Meski menyimpan potensi besar, operasional koperasi di lapangan rupanya masih harus berkejaran dengan target pembangunan, carut-marut perizinan lahan, hingga regulasi pusat yang dinilai belum sepenuhnya gamblang.

Batang - Langkah Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) di tingkat desa kini tengah berjalan dinamis. Meski menyimpan potensi besar, operasional koperasi di lapangan rupanya masih harus berkejaran dengan target pembangunan, carut-marut perizinan lahan, hingga regulasi pusat yang dinilai belum sepenuhnya gamblang.

Pengawas Koperasi Ahli Muda sekaligus Subkoordinator Perizinan Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi, dan UMKM (Disperindagkop) Batang Anton Adianto membeberkan potret nyata perkembangan koperasi-koperasi tersebut.

Saat ditanya mengenai desa mana saja yang koperasinya sudah mengepulkan asap dapur operasional, Anton menyebutkan sejumlah wilayah yang saat ini masih didominasi oleh bisnis pangkalan gas bersubsidi.

“Kita ada Desa Simpar, Desa Paskaran, Kelurahan Kasepuhan, Kauman. Itu rata-rata mereka ya beroperasi di LPG 3 kilogram. Walau bisnis utama rata-rata masih berkutat di sektor LPG, Anton menambahkan bahwa beberapa desa kreatif sudah mulai mendobrak batas dan melahirkan produk unggulan mereka sendiri,” katanya saat ditemui di Kantornya, Selasa (9/6/2026).

Tapi untuk yang Desa Simpar itu kan mereka sudah ada produk unggulan apa, kayak telur, telur omega. Terus mereka juga punya di sektor peternakan, perikanan. Ah, itu yang lain juga ya ada sih memang. ada sembako, terus yang di Wonotunggal itu juga ada perikanan. Itu juga kerja sama dengan Dinas Perikanan itu bioflok itu. Itu ya juga sudah ada sih.

“Demi menjaga keberlanjutan usaha ini, pihak dinas pun mengaku terus melakukan pengawalan ketat. Pendampingan yang diberikan tidak main-main, mulai dari pelatihan, pemantauan kegiatan usaha, hingga pengawasan pada momen krusial seperti Rapat Anggota Tahunan (RAT) untuk menjaga semangat para pengurus di desa,” jelasnya.

Namun, jalan menuju kemandirian ekonomi desa ini bukan tanpa kerikil. Salah satu ganjalan yang dirasakan di tingkat daerah adalah ketidakpastian regulasi terkait porsi pendapatan yang harus masuk ke kas desa.

“Kalau yang dulu, yang aturannya itu 20%. Tapi enggak tahu sekarang karena ya nyuwun sewu ini aturan-aturan selanjutnya kita kan belum tahu sepenuhnya, belum jelas terkait aturan-aturannya. Karena untuk KDMP itu kan untuk terkait aturannya itu kan tidak langsung, Oh, ini loh aturannya seperti ini, tapi bertahap, seperti itu,” terangnya.

Ketidakjelasan aturan ini berdampak pada laju operasional, mengingat dinas harus terus menyesuaikan langkah dengan kondisi unik di masing-masing desa sembari memetakan potensi lokal yang ada.

“Bukan hanya soal aturan bagi hasil, proyek fisik bangunan gedung koperasi pun kedodoran dari target awal. Masalah birokrasi lahan lintas sektoral yang menyeret Disperindag, Dinas PU, Dispermades, hingga Dinas Pertanian terkait status Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (LP2B) menjadi batu sandungan utama,” tegasnya.

Ketika dikonfirmasi mengenai jumlah gedung yang belum rampung, Anton sempat tertawa kecil sebelum merujuk pada data kongretnya. Kalau sampai kalau sekarang kan kita juga belum hafal semua  yang sudah terbangun 60. Sementara yang sudah berdiri tegak ada 60 gedung, proyek yang masih megap-megap dalam proses pengerjaan berjumlah 99 unit. Anton mengakui bahwa target penyelesaian bangunan ini sebenarnya sudah meleset dari jadwal semula.

“Ini kalau target itu, seharusnya awal tahun kemarin. Cuman enggak tahu, ini sampai sekarang. Kondisi ini diperparah oleh nasib 89 titik lokasi yang pembangunan fisiknya bahkan belum bisa dimulai sama sekali karena status tanahnya masih tersangkut di birokrasi Jakarta. 89 belum dibangun, masih proses tanah, nggih. Masih diusulkan ke pusat. Ya masih tetap kewenangan pusat,” ungkapnya.

Padahal, jika merujuk pada Instruksi Presiden (Inpres) yang menjadi payung hukum program KDKMP, koperasi ini dirancang untuk menguasai 7 sektor usaha strategis demi memutar roda ekonomi desa secara mandiri. Tujuh sektor tersebut meliputi: Simpan pinjam, Sembako, Klinik desa, Apotek desa, Pergudangan, Sektor pertanian, Sektor peternakan/perikanan.

“Namun sayang, realita di lapangan berbicara lain. Hingga hari ini, usaha yang benar-benar berjalan masih didominasi oleh pangkalan LPG dan warung sembako.  Rencana besar untuk mendirikan klinik ataupun apotek desa yang dikelola oleh koperasi masih menjadi angan-angan yang jalannya masih sangat panjang,” pungkasnya. (MC Batang, Jateng/Edo/Jumadi)

Berita Lainnya

Saat Siswa Tak Lagi Berani Tampil : Menguatkan Performance Confidence Melalui Self-Efficacy dan AIK Saat Siswa Tak Lagi Berani Tampil : Menguatkan Performance Confidence Melalui Self-Efficacy dan AIK
Saat Siswa Tak Lagi Berani Tampil : Menguatkan Performance Confidence Melalui Self-Efficacy dan AIK
Batang - Pendidikan saat ini menghadapi tantangan yang tidak hanya berkaitan dengan penguasaan materi pelajaran, tetapi juga kemampuan peserta didik untuk menampilkan potensi dirinya. Di berbagai sekolah, guru sering menemukan siswa yang memperoleh nilai akademik baik, memahami materi pelajaran, bahkan mampu menjawab soal dengan benar, tetapi memilih diam ketika diminta menjelaskan hasil pekerjaannya di depan kelas.
17 Jul 2026 Jumadi 8
Geliat Investasi di Kabupaten Batang, Semester I Tembus Rp6,1 Triliun Geliat Investasi di Kabupaten Batang, Semester I Tembus Rp6,1 Triliun
Geliat Investasi di Kabupaten Batang, Semester I Tembus Rp6,1 Triliun
Batang Kabupaten Batang terus membuktikan diri sebagai magnet investasi yang magnetis di Jawa Tengah. Berdasarkan hitungan mandiri sementara, realisasi investasi di Bumi Alas Roban pada Triwulan II tahun 2026 sukses menyentuh angka Rp2.316.314.589.523,00 (Rp2,3 triliun). Tak hanya membawa segar bagi roda perekonomian, capaian kuartal kedua ini juga berhasil menyerap 5.396 tenaga kerja lokal.
17 Jul 2026 Jumadi 7
Kembangkan Potensi Diri, SMPN 4 Batang Buka Peluang Ragam Ekstrakurikuler Kembangkan Potensi Diri, SMPN 4 Batang Buka Peluang Ragam Ekstrakurikuler
Kembangkan Potensi Diri, SMPN 4 Batang Buka Peluang Ragam Ekstrakurikuler
Batang - Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) tidak hanya menjadi media untuk mendekatkan siswa baru dengan seluruh warga sekolah. Namun, memberikan peluang besar bagi siswa untuk mengembangkan potensi diri melalui kegiatan ekstrakurikuler, selain prestasi akademik.
16 Jul 2026 Jumadi 95
Bawa Misi Zero Talasemia, POPTI Batang Sasar Remaja Saat MPLS di SMAN 2 Batang Bawa Misi Zero Talasemia, POPTI Batang Sasar Remaja Saat MPLS di SMAN 2 Batang
Bawa Misi Zero Talasemia, POPTI Batang Sasar Remaja Saat MPLS di SMAN 2 Batang
Batang - Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) di SMAN 2 Batang hari itu terasa berbeda. Di antara deretan materi adaptasi sekolah, terselip sebuah edukasi krusial yang bakal menentukan masa depan generasi penerus: pengenalan tentang penyakit kelainan darah genetik, talasemia. Bagi sebagian besar pelajar, istilah ini terdengar asing. Namun, lewat pendekatan yang interaktif, suasana kelas justru hidup dengan rentetan pertanyaan dari para siswa yang penasaran.
16 Jul 2026 Jumadi 60
Raja Udang Kalung Biru yang Terancam Punah Ditemukan di Batang Raja Udang Kalung Biru yang Terancam Punah Ditemukan di Batang
Raja Udang Kalung Biru yang Terancam Punah Ditemukan di Batang
Batang - Kawasan hutan di Desa Tombo, Kecamatan Bandar, Kabupaten Batang, kembali menunjukkan pentingnya peran sebagai habitat keanekaragaman hayati. Salah satu temuan yang menjadi perhatian adalah keberadaan burung Raja Udang Kalung Biru (Alcedo euryzonaAlcedo peninsulae), satwa endemik Indonesia yang berstatus dilindungi dan sangat terancam punah.
16 Jul 2026 Jumadi 179
Gebrakan Baru Bupati Batang: Hapus Tradisi Proyek Menumpuk di Akhir Tahun Gebrakan Baru Bupati Batang: Hapus Tradisi Proyek Menumpuk di Akhir Tahun
Gebrakan Baru Bupati Batang: Hapus Tradisi Proyek Menumpuk di Akhir Tahun
Batang - Pemerintah Kabupaten Batang bersiap merombak total gaya belanja daerahnya. Langkah berani ini diambil demi menyembuhkan "penyakit" tahunan yang kerap melanda pengelolaan anggaran: menumpuknya proyek di akhir tahun yang berujung pada tingginya Sisa Lebih Perhitungan Anggaran (SILPA) Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD).
16 Jul 2026 Jumadi 211