Dari Canting Sang Ibu, Maulida Muyasaroh Bawa Batik Rifaiyah ke Panggung Juara

Kamis, 05 November 2026 Jumadi Dibaca 8 kali Seni dan Budaya
Dari Canting Sang Ibu, Maulida Muyasaroh Bawa Batik Rifaiyah ke Panggung Juara
Ketua Dekranasda Faelasufa Faiz Kurniawan (kanan), mengunjungi perajin batik di Gang Gayam, Kelurahan Watesalit, Kabupaten Batang, Kamis (5/11/2026).
Maulida Muyasaroh, pembatik muda asal Watesalit, Batang, membuktikan bahwa generasi muda mampu menjaga warisan budaya leluhur melalui ketekunan melestarikan Batik Rifaiyah. Berbekal keterampilan yang diwariskan mendiang ibunya sejak kelas IV SD, ia berhasil menghasilkan sekitar 50 karya, mengembangkan motif kontemporer tanpa meninggalkan pakem tradisional, hingga meraih juara pertama Lomba Batik Artisan. Karyanya bahkan telah dipasarkan hingga Singapura dan Belanda.

Batang - Bagi sebagian besar anak muda seusianya, usia 23 tahun adalah masa mencari pelarian di antara hingar-bingar kota atau melamar pekerjaan di pabrik-pabrik modern. Namun, tidak bagi Maulida Muyasarah. Di balik kesederhanaan rumahnya di Kelurahan Watesalit, Kecamatan Batang, tangan terampil gadis ini justru akrab dengan malam yang panas dan bau lilin leleh.

Namanya baru saja melambung. Dalam ajang Kenduri Batik yang digelar di objek wisata Si Kembang Park, Kecamatan Blado, Maulida dinobatkan sebagai juara kategori artisan batik. Sebuah pencapaian manis yang lahir dari ketekunan panjang sejak ia masih duduk di bangku kelas 4 sekolah dasar.

Mengenal dunia membatik sejak usia dini bukanlah hal yang asing bagi Maulida. Lahir di tengah tradisi lokal yang kental, ia diajarkan langsung oleh sang ibu. Di masa-masa awal, ia hanya dipercaya mengerjakan bagian detail seperti isen-isen, sementara bagian kerangka utama (klowongan) tetap dikerjakan sang ibu.

“Dulu pas pertama belajar nyanting, cuma bikin isen-isen, belum klowongan. Kalau klowongan ini yang bikin Adalah ibu,” katanya saat ditemui di Kediamannya Kelurahan Watesalit, Kabupaten Batang, Kamis (5/11/2026).

Siapa sangka, keterampilan tangan itu kelak menjadi penyelamat pendidikannya. Sejak duduk di bangku SMP hingga lulus SMA, hasil jerih payahnya membatik ia gunakan untuk menyambung hidup dan membiayai sekolah bahkan untuk menebus ijazah kelulusannya.

“Kain-kain batik kala itu dihargai sekitar Rp800 ribu, cukup untuk membelikan buku dan perlengkapan sekolah,” ungkapnya.

Mahakarya Tiga Bulan

Dalam ajang Kenduri Batik di Si Kembang Park kemarin, Maulida membawa angin segar melalui karya terbarunya yang diberi nama "Gundukan Pohon Hayat Kontemporer".

Karya ini bukan sekadar kain bermotif biasa. Ia memadukan filosofi "Gundukan Wayang" dan "Pohon-Pohon Hayat Rifaiyah" motif gendagan yang melambangkan kehidupan. Proses pembuatannya memakan waktu hingga tiga bulan penuh, diwarnai tingkat kesulitan tertinggi pada proses pencantingan dan pemopokan (penutupan motif) yang dilakukan secara bolak-balik.

“Proses bikinnya sekitar tiga bulan, yang bikin lama itu proses pencantingan sama proses pemopokan ini, penutupan motif. Paling sulit itu proses pemopokannya,” jelasnya.

Meski membutuhkan kesabaran tingkat tinggi, karya kontemporer ini dinilai lebih cepat pembuatannya dibanding motif klasik yang padat. Pemasarannya pun tidak main-main. Dibantu sang kakak, karya tangan dingin Maulida telah menembus pasar luar negeri hingga Singapura dan Belanda dengan kisaran harga mencapai Rp4 juta per helai.

Pandangan Ketua Dekranasda Kabupaten Batang: Menjaga Asa Perajin Muda

Sementara itu, Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Batang Faelasufa Faiz Kurniawan dalam kunjungannya melihat langsung keseharian sang juara. Ia mengungkapkan rasa bangganya yang mendalam.

“Saya sangat bangga sebenarnya, Mbak Sarah ini umur 23 tahun, masih konsisten membatik dan memang passion-nya membatik di tengah banyaknya peluang-peluang yang sebenarnya bisa diambil oleh Mbak Sarah. Menurut saya, ini adalah hal yang sangat langka sekarang,” ujar dia.

Lebih lanjut, Faelasufa menyoroti pentingnya membangun ekosistem dan mindset kewirausahaan di kalangan pembatik lokal agar mereka tidak hanya berhenti sebagai buruh atau perajin, melainkan berani menjadi pengusaha batik mandiri. Pihaknya berencana memfasilitasi para pembatik lokal untuk melihat langsung kemegahan pameran di kota-kota besar agar inspirasi dan wawasan mereka semakin terbuka.

“Semakin besar resikonya, semakin tinggi return atau apa yang bisa didapatkan. Kalau kita enggak berani mempertaruhkan itu, mengambil resiko itu, ya kita enggak bisa dapat return yang tinggi,” tandasnya.

Kisah Maulida Muyasarah di Si Kembang Park adalah bukti nyata bahwa ketekunan, kecintaan pada budaya, dan ketulusan merawat tradisi dapat mengantarkan seorang anak muda dari desa menuju panggung apresiasi yang membanggakan. Dari selembar kain batik dan canting yang mengepul, masa depan warisan nusantara itu terus bernyawa. (MC Batang, Jateng/Edo/Jumadi)

Berita Lainnya

Musisi Papan Atas Bakal Guncang Wisata Batang dari Gunung Hingga Pantai Musisi Papan Atas Bakal Guncang Wisata Batang dari Gunung Hingga Pantai
Musisi Papan Atas Bakal Guncang Wisata Batang dari Gunung Hingga Pantai
Pemkab Batang menyiapkan sekitar tujuh hingga delapan event berskala nasional pada 2027 untuk mendongkrak kunjungan wisatawan dari luar daerah. Berbagai destinasi unggulan, mulai dari kawasan pegunungan seperti Silurah, Sikembang, Puncak Tombo, Curug Genting, dan Curug Gombong hingga kawasan pesisir Pantai Jodo dan Pantai Sigandu, diproyeksikan menjadi lokasi penyelenggaraan festival. Agenda tersebut direncanakan menghadirkan musisi papan atas dan seniman nasional, sekaligus mendorong pemberdayaan UMKM serta peningkatan ekonomi masyarakat lokal.
05 Nov 2026 Jumadi 15
Keteguhan Muyasaroh, Pembatik Muda Batang yang Istiqomah Menjaga Tradisi Rifaiyah Keteguhan Muyasaroh, Pembatik Muda Batang yang Istiqomah Menjaga Tradisi Rifaiyah
Keteguhan Muyasaroh, Pembatik Muda Batang yang Istiqomah Menjaga Tradisi Rifaiyah
Maulida Muyasaroh, pembatik muda asal Watesalit, Batang, membuktikan bahwa generasi muda mampu menjaga warisan budaya leluhur melalui ketekunan melestarikan Batik Rifaiyah. Berbekal keterampilan yang diwariskan mendiang ibunya sejak kelas IV SD, ia berhasil menghasilkan sekitar 50 karya, mengembangkan motif kontemporer tanpa meninggalkan pakem tradisional, hingga meraih juara pertama Lomba Batik Artisan. Karyanya bahkan telah dipasarkan hingga Singapura dan Belanda.
05 Nov 2026 Jumadi 15
DPRD Soroti Pariwisata, Bupati Batang Siapkan Anggaran Fantastis Rp30 Miliar DPRD Soroti Pariwisata, Bupati Batang Siapkan Anggaran Fantastis Rp30 Miliar
DPRD Soroti Pariwisata, Bupati Batang Siapkan Anggaran Fantastis Rp30 Miliar
Bupati Batang M. Faiz Kurniawan menyiapkan anggaran sebesar Rp30 miliar melalui Disparpora untuk pengembangan lima destinasi wisata prioritas pada 2027. Program tersebut mencakup peningkatan aksesibilitas, infrastruktur pendukung, penataan kawasan wisata, peningkatan kualitas SDM pariwisata, pemberdayaan UMKM, serta pengelolaan lingkungan. Selain pariwisata, Pemkab Batang juga memaparkan strategi peningkatan PAD, penguatan investasi, pengelolaan belanja daerah, dan pembangunan infrastruktur dalam jawaban atas pandangan umum fraksi DPRD terhadap Raperda APBD 2027.
05 Nov 2026 Jumadi 16
Pemkab Batang Siapkan Perbaikan Akses Menuju KITB Pemkab Batang Siapkan Perbaikan Akses Menuju KITB
Pemkab Batang Siapkan Perbaikan Akses Menuju KITB
Pemkab Batang menyiapkan pembenahan akses jalan dan pengembangan transportasi umum untuk mempermudah mobilitas pekerja menuju Kawasan Industri Terpadu Batang (KITB). Pembangunan ruas Banyuputih-Kedawung telah dilakukan pada 2025, sedangkan jalan di depan area PTPN ditargetkan rampung pada 2027. Selain itu, Bupati Batang M. Faiz Kurniawan berharap layanan Trans Jateng dapat beroperasi pada 2028 dengan dukungan angkutan pengumpan atau feeder untuk menjangkau kawasan industri.
05 Nov 2026 Jumadi 15
Tingkatkan Kunjungan Wisata, Bupati Batang Siapkan 7 Event Wisata Berskala Nasional 2027 Tingkatkan Kunjungan Wisata, Bupati Batang Siapkan 7 Event Wisata Berskala Nasional 2027
Tingkatkan Kunjungan Wisata, Bupati Batang Siapkan 7 Event Wisata Berskala Nasional 2027
Pemkab Batang menyiapkan tujuh agenda event wisata berskala nasional pada 2027 untuk meningkatkan kunjungan wisatawan dan menggerakkan perekonomian masyarakat. Tujuh destinasi yang menjadi prioritas pengembangan meliputi Silurah, Sempang, Puncak Tombo, Curug Ginting, Pantai Jodo, Pantai Sigandu, dan Gombong. Pengembangan dilakukan melalui pembenahan infrastruktur, peningkatan aksesibilitas, pemberdayaan masyarakat lokal, serta penguatan UMKM di kawasan wisata.
05 Nov 2026 Jumadi 16
Bupati Batang Pastikan Rekrutmen Sekolah Rakyat Berbasis Fakta Lapangan Bupati Batang Pastikan Rekrutmen Sekolah Rakyat Berbasis Fakta Lapangan
Bupati Batang Pastikan Rekrutmen Sekolah Rakyat Berbasis Fakta Lapangan
Pemerintah Kabupaten Batang menerapkan sistem jemput bola dalam rekrutmen calon peserta didik Sekolah Rakyat tanpa membuka pendaftaran umum. Calon siswa dijaring berdasarkan hasil temuan langsung di lapangan serta usulan masyarakat, tokoh lokal, dan kepala desa.
04 Nov 2026 Jumadi 123