Maulida Muyasaroh, pembatik muda asal Watesalit, Batang, membuktikan bahwa generasi muda mampu menjaga warisan budaya leluhur melalui ketekunan melestarikan Batik Rifaiyah. Berbekal keterampilan yang diwariskan mendiang ibunya sejak kelas IV SD, ia berhasil menghasilkan sekitar 50 karya, mengembangkan motif kontemporer tanpa meninggalkan pakem tradisional, hingga meraih juara pertama Lomba Batik Artisan. Karyanya bahkan telah dipasarkan hingga Singapura dan Belanda.
Batang - Bagi sebagian besar anak muda seusianya, usia 23 tahun adalah masa mencari pelarian di antara hingar-bingar kota atau melamar pekerjaan di pabrik-pabrik modern. Namun, tidak bagi Maulida Muyasarah. Di balik kesederhanaan rumahnya di Kelurahan Watesalit, Kecamatan Batang, tangan terampil gadis ini justru akrab dengan malam yang panas dan bau lilin leleh.
Namanya baru saja melambung. Dalam ajang Kenduri Batik yang digelar di objek wisata Si Kembang Park, Kecamatan Blado, Maulida dinobatkan sebagai juara kategori artisan batik. Sebuah pencapaian manis yang lahir dari ketekunan panjang sejak ia masih duduk di bangku kelas 4 sekolah dasar.
Mengenal dunia membatik sejak usia dini bukanlah hal yang asing bagi Maulida. Lahir di tengah tradisi lokal yang kental, ia diajarkan langsung oleh sang ibu. Di masa-masa awal, ia hanya dipercaya mengerjakan bagian detail seperti isen-isen, sementara bagian kerangka utama (klowongan) tetap dikerjakan sang ibu.
“Dulu pas pertama belajar nyanting, cuma bikin isen-isen, belum klowongan. Kalau klowongan ini yang bikin Adalah ibu,” katanya saat ditemui di Kediamannya Kelurahan Watesalit, Kabupaten Batang, Kamis (5/11/2026).
Siapa sangka, keterampilan tangan itu kelak menjadi penyelamat pendidikannya. Sejak duduk di bangku SMP hingga lulus SMA, hasil jerih payahnya membatik ia gunakan untuk menyambung hidup dan membiayai sekolah bahkan untuk menebus ijazah kelulusannya.
“Kain-kain batik kala itu dihargai sekitar Rp800 ribu, cukup untuk membelikan buku dan perlengkapan sekolah,” ungkapnya.
Mahakarya Tiga Bulan
Dalam ajang Kenduri Batik di Si Kembang Park kemarin, Maulida membawa angin segar melalui karya terbarunya yang diberi nama "Gundukan Pohon Hayat Kontemporer".
Karya ini bukan sekadar kain bermotif biasa. Ia memadukan filosofi "Gundukan Wayang" dan "Pohon-Pohon Hayat Rifaiyah" motif gendagan yang melambangkan kehidupan. Proses pembuatannya memakan waktu hingga tiga bulan penuh, diwarnai tingkat kesulitan tertinggi pada proses pencantingan dan pemopokan (penutupan motif) yang dilakukan secara bolak-balik.
“Proses bikinnya sekitar tiga bulan, yang bikin lama itu proses pencantingan sama proses pemopokan ini, penutupan motif. Paling sulit itu proses pemopokannya,” jelasnya.
Meski membutuhkan kesabaran tingkat tinggi, karya kontemporer ini dinilai lebih cepat pembuatannya dibanding motif klasik yang padat. Pemasarannya pun tidak main-main. Dibantu sang kakak, karya tangan dingin Maulida telah menembus pasar luar negeri hingga Singapura dan Belanda dengan kisaran harga mencapai Rp4 juta per helai.
Pandangan Ketua Dekranasda Kabupaten Batang: Menjaga Asa Perajin Muda
Sementara itu, Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Batang Faelasufa Faiz Kurniawan dalam kunjungannya melihat langsung keseharian sang juara. Ia mengungkapkan rasa bangganya yang mendalam.
“Saya sangat bangga sebenarnya, Mbak Sarah ini umur 23 tahun, masih konsisten membatik dan memang passion-nya membatik di tengah banyaknya peluang-peluang yang sebenarnya bisa diambil oleh Mbak Sarah. Menurut saya, ini adalah hal yang sangat langka sekarang,” ujar dia.
Lebih lanjut, Faelasufa menyoroti pentingnya membangun ekosistem dan mindset kewirausahaan di kalangan pembatik lokal agar mereka tidak hanya berhenti sebagai buruh atau perajin, melainkan berani menjadi pengusaha batik mandiri. Pihaknya berencana memfasilitasi para pembatik lokal untuk melihat langsung kemegahan pameran di kota-kota besar agar inspirasi dan wawasan mereka semakin terbuka.
“Semakin besar resikonya, semakin tinggi return atau apa yang bisa didapatkan. Kalau kita enggak berani mempertaruhkan itu, mengambil resiko itu, ya kita enggak bisa dapat return yang tinggi,” tandasnya.
Kisah Maulida Muyasarah di Si Kembang Park adalah bukti nyata bahwa ketekunan, kecintaan pada budaya, dan ketulusan merawat tradisi dapat mengantarkan seorang anak muda dari desa menuju panggung apresiasi yang membanggakan. Dari selembar kain batik dan canting yang mengepul, masa depan warisan nusantara itu terus bernyawa. (MC Batang, Jateng/Edo/Jumadi)