Batang - Sejarah Kabupaten Batang yang hingga kini masih terus digali oleh para pakar dan budayawan, mulai menunjukkan titik terang, tentang kisah Ratu Batang Sang Permaisuri Sultan Agung Hanyokrokusumo. Terbukti dengan kehadiran Raja Kasultanan Yogyakarta, Sri Sultan Hamengku Buwono X, yang membenarkan kesejarahan Mataram Islam tidak dapat dipisahkan dari kebesaran dua tokoh tersebut.
Batang - Sejarah Kabupaten Batang yang hingga kini masih terus digali oleh para pakar dan budayawan, mulai menunjukkan titik terang, tentang kisah Ratu Batang Sang Permaisuri Sultan Agung Hanyokrokusumo. Terbukti dengan kehadiran Raja Kasultanan Yogyakarta, Sri Sultan Hamengku Buwono X, yang membenarkan kesejarahan Mataram Islam tidak dapat dipisahkan dari kebesaran dua tokoh tersebut.
Dalam kunjungan kerjanya yang bertajuk "Merajut Budaya Mataraman dari Jogja untuk Indonesia, Muhibah Budaya Kabupaten Batang 2026", Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta itu menyampaikan, hubungan antara Mataram dengan Batang, Pekalongan, termasuk Ratu Batang yang namanya hingga kini dikenal di pemakaman raja-raja Imogiri memiliki keterikatan erat.
“Asal-usul tokoh itu masih menyimpan ruang penafsiran, namun jika menelisik makna kebudayaan, dapat menjangkau lebih jauh melebihi batas kewilayahan,” katanya, saat ditemui di Aula Kantor Bupati Batang, Kabupaten Batang, Rabu (21/10/2026).
Sultan pun mengapresiasi perkembangan Batang yang amat pesat, hingga bertransformasi menjadi Kawasan Industri Terpadu. Industri itu membawa perjumpaan baru antara teknologi, investasi, tenaga kerja dan masyarakat dengan berbagai latar belakang.
Sultan kembali mengingatkan agar kemajuan teknologi jangan sampai menghilangkan jati diri sebagai manusia yang berbudaya.
“Selalu eling lan waspodo (ingat dan waspada), terhadap perubahan, dengan mengingat bahasa, kesenian dan kearifan lokalnya. Batang harus terus berkembang untuk maju, maka generasi mudanya harus memahami akar budayanya, sekaligus bersiap menghadapi perubahan zaman. Kemajuan suatu daerah juga dilihat dari seberapa kuat masyarakatnya dalam menjaga jati dirinya,” tegasnya.
Sultan pun berharap, agar Muhibah Budaya ini membawa dampak positif bagi perkembangan seni budaya kedua daerah.
“Sebagai pelestari budaya Mataraman yang tak terpisahkan, semoga Tuhan senantiasa melimpahkan berkah rahmat-Nya, sebagai modal utama generasi muda melestarikan seni budaya Mataraman,” harapnya.
Kehadiran Raja Yogyakarta tersebut disambut langsung oleh Bupati Batang M Faiz Kurniawan dengan rasa syukur dan bahagia karena menjadi motivasi masyarakat yang lebih maju dengan tetap menjaga adat dan tradisi leluhurnya. Jika menengok kejayaan Mataram Islam, tentu tak terlepas dari peran Kadipaten Batang kala itu sebagai salah satu pusat logistik, saat penyerbuan ke Batavia.
“Ternyata sejarah masa lampau kini terulang kembali, dengan menjadikan Batang Kawasan Ekonomi Khusus Logistik, baik berbasis sport maupun kereta, yang akan segera dibangun,” terangnya.
Bupati berharap, dengan kehadiran langsung Sultan Hamengku Buwono X ke Batang mampu mempertemukan kembali "dua napas" yang telah lama terhubung oleh sejarah.
“Ini bukan pertemuan biasa, karena bisa mempererat hubungan yang telah terjalin dalam bingkai kesejarahan hingga mampu melahirkan tokoh-tokoh besar,” ungkapnya.
Kehadiran Sri Sultan Hamengku Buwono X ke Batang diharapkan mampu membawa dampak positif bagi kemajuan budaya, penelitian hingga pendidikan masyarakat Batang.
Dalam kesempatan tersebut, turut ditampilkan pula Tari Tangguh Mataram oleh 21 penari dari Kraton Yogyakarta yang menceritakan tentang kisah percintaan antara Sultan Agung Hanyokrokusumo dengan Gusti Kanjeng Ratu Batang. Dalam tarian tersebut mengisahkan perjuangan Sultan Agung Hanyokrokusumo dalam memimpin perlawanan ke markas VOC di Batavia, yang didukung penuh oleh Kanjeng Ratu Batang. (MC Batang, Jateng/Heri/Jumadi)