Batang - Proses regenerasi pembatik Rifaiyah dari kalangan muda, hingga saat ini masih menjadi permasalahan yang belum sepenuhnya terpecahkan. Salah satu upaya pelestarian yang dilakukan oleh Ford Foundation bekerja sama dengan Kemendagri yang akan kembali memperpanjang kerja sama, sehingga dapat mendukung proses regenerasi pembatik khususnya Rifaiyah maupun perluasan pangsa pasar.
Batang - Proses regenerasi pembatik Rifaiyah dari kalangan muda, hingga saat ini masih menjadi permasalahan yang belum sepenuhnya terpecahkan. Salah satu upaya pelestarian yang dilakukan oleh Ford Foundation bekerja sama dengan Kemendagri yang akan kembali memperpanjang kerja sama, sehingga dapat mendukung proses regenerasi pembatik khususnya Rifaiyah maupun perluasan pangsa pasar.
Analis Kerja Bilateral dan Regional, Pusat Fasilitasi Kerja Sama, Kemendagri Ahmad Rifanto membenarkan, perpanjangan kerja sama ini penting, karena perlu regenerasi pembatik agar industri dan seni membatik tetap lestari. Setelah melihat langsung proses pembuatan hingga pemasarannya, ternyata memerlukan dukungan untuk memperluas pangsa pasar.
“Tadi sudah berbincang dengan salah seorang pembatik Rifaiyah yang sudah lanjut usia, namun tetap konsisten melakukan potensinya di tengah kesederhanaan. Meski sudah dipasarkan sampai Singapura, tapi masih mengalami kendala promosi, agar ada perluasan pangsa pasar,” katanya, saat ditemui di Komplek Kampung Batik Rifaiyah, Kalipucang Wetan, Kabupaten Batang, Selasa (15/9/2026).
Melihat lingkungan pembatik yang sangat sederhana, ia justru mengapresiasi karena di sanalah letak keotentikan batik tulis khas Rifaiyah yang merupakan hasil karya para maestro secara langsung.
“Di situlah letak kekhasan batik tulis Rifaiyah yang sangat bagus, mulai motif, pewarnaan dan berbeda dengan batik di era kekinian,” jelasnya.
Regional Director at Ford Foundation Indonesia, Alexander Irwan mengedepankan pluralisme melalui seni membatik, sesuai dengan namanya Batik Bhinneka Tunggal Ika. Sama halnya, Batik Rifaiyah khas Kabupaten Batang ini mulai bangkit sejak tiga tahun yang lalu, berkat ada kerja sama yang baik antara pemerintah daerah dan pembatik.
“Ke depan batik khas Batang ini bisa makin maju, bahkan melihat kesuksesan Batik Rifaiyah bisa jadi percontohan dalam proses revitalisasi batik di wilayah lain. Yakni mempromosikan toleransi dan keberagaman, pemberdayaan pembatik lokal dan memfasilitasi regenerasi pembatik muda,” tegasnya.
Sementara itu, salah satu pembatik Rifaiyah, Miftakhutin bersyukur dengan adanya program Batik Bhinneka Tunggal Ika karena diberikan kesempatan untuk mengedukasi generasi muda untuk merealisasikan regenerasi pembatik.
“Ya sangat senang diajak kolaborasi seperti ini, agar pembatik dan karyanya tidak punah,” ungkapnya.
Untuk hasil karya dari Batik Bhinneka Tunggal Ika, tentu batik dari seluruh Nusantara, sedangkan pembatik Rifaiyah menjadi salah satu pihak yang memberikan metode khusus motif Rifaiyah. (MC Batang, Jateng/Heri/Jumadi)