Batang - Tingginya kebersamaan dan kekompakan warga desa menjadi modal sosial yang sangat berharga. Di Desa Kedungsegog, Kecamatan Tulis, Kabupaten Batang, keaktifan masyarakat berkumpul melalui kegiatan RT, RW, PKK, hingga Karang Taruna menjadi potensi besar yang hidup setiap harinya. Namun, di balik eratnya interaksi sosial tersebut, masih tersimpan tantangan lingkungan yang cukup mengkhawatirkan: rendahnya kesadaran memilah sampah rumah tangga dan masih maraknya kebiasaan membakar sampah campuran plastik di pekarangan rumah.
Batang - Tingginya kebersamaan dan kekompakan warga desa menjadi modal sosial yang sangat berharga. Di Desa Kedungsegog, Kecamatan Tulis, Kabupaten Batang, keaktifan masyarakat berkumpul melalui kegiatan RT, RW, PKK, hingga Karang Taruna menjadi potensi besar yang hidup setiap harinya. Namun, di balik eratnya interaksi sosial tersebut, masih tersimpan tantangan lingkungan yang cukup mengkhawatirkan: rendahnya kesadaran memilah sampah rumah tangga dan masih maraknya kebiasaan membakar sampah campuran plastik di pekarangan rumah.
Melihat kondisi tersebut, Mahasiswi Fakultas Hukum Universitas Diponegoro (Undip) Semarang Verlyta menginisiasi program kerja pemberdayaan lingkungan bertajuk “Pembuatan dan Pemasangan Papan Edukasi Sampah: Membangun Kesadaran Bahaya Sampah Anorganik Demi Lingkungan Bersih dan Sehat”.
“Berdasarkan hasil observasi lapangan dan wawancara bersama warga, sebagian besar masyarakat masih memilih jalan pintas dalam mengelola sampah, yakni mengumpulkan sampah daun kering bersama sampah anorganik seperti kantong plastik dan wadah styrofoam, lalu membakarnya di pekarangan,” katanya saat ditemui di Desa Kedungsegog, Kecamatan Tulis, Kabupaten Batang, Selasa (18/8/2026).
Kebiasaan membakar sampah plastik tidak hanya melepaskan zat beracun seperti dioksin dan furan yang berbahaya bagi sistem pernapasan warga, tetapi juga menunjukkan minimnya pemahaman terkait karakteristik sampah.
“Kekompakan warga Desa Kedungsegog dalam wadah PKK dan perkumpulan warga adalah modal yang luar biasa. Sayangnya, pemilahan sampah dari sumbernya, yaitu rumah tangga, masih minim. Warga menganggap membakar sampah adalah solusi cepat, tanpa menyadari dampak polusi udara dan bahaya laten sampah plastik atau styrofoam yang membutuhkan waktu ratusan hingga jutaan tahun untuk terurai di tanah,” jelasnya.
Sebagai wujud kontribusi nyata, program kerja ini difokuskan pada perancangan dan pemasangan Papan Edukasi Sampah yang ditempatkan di titik strategis desa. Papan edukasi ini dirancang dengan pendekatan visual yang ramah dan komunikatif agar informasinya mudah diserap oleh seluruh lapisan masyarakat, khususnya anak-anak usia sekolah dan ibu-ibu rumah tangga.
Beberapa materi penting yang dimuat dalam papan edukasi tersebut meliputi:
1.Durasi Waktu Urai Sampah: Memberikan gambaran nyata lamanya waktu yang dibutuhkan bumi untuk menghancurkan berbagai material, mulai dari sampah organik (hitungan minggu), botol plastik (450 tahun), hingga styrofoam (tidak dapat terurai secara alami).
2.Klasifikasi & Tata Cara Pemilahan Sampah: Panduan sederhana memisahkan sampah organik (sisa makanan/daun) dan anorganik (plastik, kaca, kaleng) sejak dari dapur rumah tangga.
3.Urgensi Bahaya Membakar Sampah: Penjelasan singkat mengenai risiko kesehatan akibat paparan asap pembakaran plastik bagi paru-paru dan lingkungan hidup.
Kehadiran media edukasi ini mendapat respons positif dari warga setempat. Para ibu rumah tangga kini mulai memahami pentingnya memisahkan wadah plastik bekas dari tumpukan sampah dedaunan, alih-alih langsung membakarnya secara bersamaan.
“Sebelumnya kami kira semua sampah sama saja kalau dibakar biar cepat bersih. Setelah melihat papan informasi ini, kami jadi tahu kalau plastik dan styrofoam itu bahayanya besar sekali dan butuh waktu ratusan tahun untuk hancur. Ini sangat bermanfaat untuk mendidik anak-anak kami juga sejak dini,” pungkasnya.
Melalui program multidisiplin ini, Tim KKN-R Tim II Undip 2026 berharap Desa Kedungsegog dapat bertransformasi menjadi desa yang lebih sehat, bersih, dan berwawasan lingkungan. Papan edukasi yang didirikan bukan sekadar pajangan fisik, melainkan menjadi pengingat visual harian bagi masyarakat untuk perlahan mengubah perilaku, menghentikan pembakaran sampah sembarangan, serta memulai langkah kecil memilah sampah demi masa depan desa yang lebih asri. (MC Batang, Jateng/Verlyta/Jumadi)