Batang - Suasana sibuk di dapur Satuan Pelayanan Makan Bergizi Gratis (SPMBG) Desa Lebo, Kecamatan Gringsing, mendadak hangat. Di tengah hiruk-pikuk persiapan menu makanan untuk para siswa, Wakil Bupati Batang Suyono, hadir menyapa dan meninjau langsung proses pengolahan makanan dari dekat.
Batang - Suasana sibuk di dapur Satuan Pelayanan Makan Bergizi Gratis (SPMBG) Desa Lebo, Kecamatan Gringsing, mendadak hangat. Di tengah hiruk-pikuk persiapan menu makanan untuk para siswa, Wakil Bupati Batang Suyono, hadir menyapa dan meninjau langsung proses pengolahan makanan dari dekat.
Langkah ini dilakukan untuk memastikan bahwa program Makan Bergizi Gratis (MBG) di wilayah Kabupaten Batang tak sekadar berjalan, tetapi benar-benar memenuhi standar kebersihan dan nutrisi yang ketat demi masa depan anak-anak sekolah.
Di hadapan para pekerja dapur, Suyono memberikan perhatian khusus pada aspek kebersihan dasar yang dinilainya menjadi fondasi utama keselamatan pangan. Menurutnya, rasa makanan yang lezat tak akan ada artinya jika aspek sanitasi terabaikan.
“Ya, ini di SPBG Lebo, Gringsing. Saya mencoba survei sekaligus memberikan semangat para karyawan agar menjaga sanitasinya, menjaga kebersihannya, menjaga bersih dirinya,” katanya usai meninjau program MBG di SPPG Desa Lebo, Kecamatan Gringsing, Kabupaten Batang, Senin (3/8/2026).
Suyono menegaskan bahwa kedisiplinan diri dari setiap karyawan adalah kunci utama dalam menyajikan hidangan yang aman bagi peserta didik. Sehingga benar-benar bersih dari diri sendiri itu pasti akan bersih sampai nanti tingkat memasak dan memproses apa yang akan disajikan pada anak-anak didik. Harus benar-benar bersih sesungguhnya.
Investasi Gizi demi Generasi Cerdas
Tak hanya soal kebersihan, perhatian utama Pemkab Batang juga tertuju pada kandungan gizi yang disajikan. Program MBG dipandang sebagai langkah krusial untuk mencetak generasi penerus bangsa yang unggul dan berdaya saing tinggi.
“Kandungan gizinya cukup, proteinnya cukup, sehingga benar-benar ikhtiar negara dalam mencerdaskan anak-anak bangsa ini tercapai. Yang pada akhirnya, IQ-nya kan tinggi, sehingga nanti bisa menjadi generasi yang benar-benar cerdas dan bisa menjadi pengganti para pemimpin di masanya nanti,” jelasnya.
Ketegatan SOP dan Indikator Keberhasilan
Dalam sidak tersebut, Suyono juga mengingatkan agar seluruh pengelola dan karyawan SPMBG tidak mengabaikan Prosedur Operasional Standar (SOP) yang telah ditetapkan. Kelalaian kecil dalam menjaga SOP dapat berdampak fatal bagi reputasi dan keberlangsungan pelayanan SPMBG itu sendiri.
“Sekali lagi saya pesan: jaga sanitasi, jaga bersih diri, jaga bersih lingkungan dari SPMBG ini. Juga harus menjaga benar-benar sesuai dengan SOP yang ada. Karena semua itu harus terjaga, kalau tidak terjaga bisa menjadi penilaian yang berbeda yang pada akhirnya yang rugi adalah dari SPMBG itu sendiri,” tegasnya.
Ia juga menambahkan bahwa kesuksesan sajian dapur MBG dapat dilihat dari sejauh mana anak-anak menikmati makanan tersebut hingga tak tersisa, yang menandakan masakan cocok di lidah sekaligus memenuhi standar ahli gizi.
“Lakukan yang terbaik, bukan seenaknya diri kita, tapi agar hasilnya maksimal. Bisa dicontoh hari ini misalkan yang dimakan habis semua. Bukan karena dibuang, tapi benar-benar habis. Itu artinya masakan bisa dirasa dan mengandung gizi. Gizi yang sesuai dengan standaridasi para ahli gizinya,” uharapnya.
Menutup arahannya, Suyono memberikan suntikan semangat bagi para petugas dapur agar terus konsisten menjaga mutu pelayanan demi masa depan anak-anak di Batang.
“Terima kasih, sukses, semangat, jangan rusak SOP yang ada. Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,” pungkasnya. (MC Batang, Jateng/Edo/Jumadi)