Batang - Di tengah kepungan layar gawai dan bisingnya linimasa media sosial, menjadi orang tua muda di era sekarang jelas bukan perkara mudah. Generasi Z yang kini mulai membina rumah tangga di Kabupaten Batang dihadapkan pada satu ujian besar: bagaimana menjaga jemari kecil anak-anak mereka agar tak melulu menempel pada gadget?
Batang - Di tengah kepungan layar gawai dan bisingnya linimasa media sosial, menjadi orang tua muda di era sekarang jelas bukan perkara mudah. Generasi Z yang kini mulai membina rumah tangga di Kabupaten Batang dihadapkan pada satu ujian besar: bagaimana menjaga jemari kecil anak-anak mereka agar tak melulu menempel pada gadget?
Menjawab keresahan tersebut, Dinas Pengendalian Penduduk, Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Kabupaten Batang menyuarakan pentingnya pola asuh yang lebih bijak dan berkesadaran.
Kepala DP3AP2KB Batang Joko Prasetijo tak menampik bahwa interaksi anak dengan dunia digital kini sudah mencapai tahap yang mengkhawatirkan.
“Anak-anak kita, terus terang, sebagian besar waktunya digunakan untuk menggunakan gadget dan bermedia sosial. Karena itu kami terus mendorong agar penggunaan media sosial dilakukan secara bijak dan ada pembatasan waktu penggunaan gawai,” katanya saat ditemui di Kantornya, Jumat (24/7/2026).
Mendidik anak di era serba digital tidak bisa lagi mengandalkan cara-cara lama yang terkesan menggurui. Joko menilai, membentuk karakter anak butuh gotong royong seluruh elemen masyarakat. Sebab, pendekatan dari orang dewasa kerap kali membentur dinding tebal resistensi anak.
“Guna menjembatani jarak tersebut, DP3AP2KB menggandeng Forum Anak Kabupaten Batang (FANTA). Lewat konsep peer educator atau pendidik sebaya, anak-anak diajak untuk saling merangkul dan mengedukasi kawan seusianya baik secara daring maupun tatap muka langsung di sekolah dan ruang public,” jelasnya.
Mereka menjadi pendidik sebaya yang turun langsung ke sekolah-sekolah maupun lingkungan. Bahkan setiap Minggu saat Car Free Day (CFD), mereka mendampingi anak-anak melalui kegiatan dolanan bocah di halaman Rumah Dinas Bupati.
“Setidaknya ada 10 jenis permainan tradisional yang disiapkan di area CFD tersebut. Langkah ini menjadi oase kecil untuk menarik anak-anak keluar dari jerat layar digital, sekaligus menghidupkan kembali memori kolektif akan budaya lokal. Melalui permainan tradisional, anak-anak punya ruang untuk berinteraksi, bermain bersama, sekaligus mengenal budaya yang mulai terlupakan,” terangnya.
Kendati belum ada angka pasti sejauh mana media sosial mengikis karakter anak, Joko menegaskan bahwa membenahi perilaku generasi muda di era digital adalah maraton panjang yang butuh kepedulian bersama.
“Ini membutuhkan kerja sama semua pihak. Anak-anak adalah tanggung jawab kita bersama, bukan hanya tanggung jawab satu dinas atau satu Organisasi Perangkat Daerah (OPD). Semua harus ikut memperhatikan dan memberikan yang terbaik bagi anak-anak,” tegasnya.
Pola pendampingan lewat teman sebaya akan terus diperkuat hingga ke tingkat sekolah dan lingkungan RT/RW. Namun pada akhirnya, benteng pertahanan utama tetaplah komunikasi yang hangat di dalam rumah tangga.
“Dinas berharap para orang tua Gen Z tidak sekadar menjadi "pengawas gadget", tetapi hadir secara utuh dalam tumbuh kembang anak menyeimbangkan teknologi dengan ruang interaksi sosial yang nyata dan sehat. Kalau dengan teman sebaya, mereka biasanya lebih terbuka. Harapannya ke depan semakin banyak pendidik sebaya yang dikembangkan di seluruh sekolah maupun lingkungan masyarakat sehingga pendampingan terhadap anak bisa semakin luas,” pungkasnya. (MC Batang, Jateng/Edo/Jumadi)