Batang - Peringatan Hari Anak Nasional (HAN) setiap tanggal 23 Juli kerap diwarnai seremonial meriah. Namun di Kabupaten Batang, momen ini menjadi penanda alarm penting di tengah gempuran layar gawai dan ruang digital yang makin riuh, keberadaan fisik orang tua di rumah sering kali tak sejalan dengan hadirnya jiwa dan perhatian mereka.
Batang - Peringatan Hari Anak Nasional (HAN) setiap tanggal 23 Juli kerap diwarnai seremonial meriah. Namun di Kabupaten Batang, momen ini menjadi penanda alarm penting di tengah gempuran layar gawai dan ruang digital yang makin riuh, keberadaan fisik orang tua di rumah sering kali tak sejalan dengan hadirnya jiwa dan perhatian mereka.
Melihat fenomena hangatnya interaksi keluarga yang perlahan mengikis, Dinas Pengendalian Penduduk, Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Kabupaten Batang melayangkan pesan menyentuh. Rumah harus direbut kembali fungsinya sebagai benteng paling aman dan hangat bagi tumbuh kembang buah hati.
Kepala DP3AP2KB Batang Joko Prasetijo mengingatkan, bahwa urusan mencetak generasi masa depan tidak bisa dititipkan begitu saja kepada ruang kelas sekolah atau regulasi pemerintah. Sehebat apa pun fasilitas di luar, fondasi karakter anak tetap diukir di meja makan dan ruang keluarga.
“HAN ini merupakan momentum yang sangat penting. Anak-anak adalah harapan sekaligus penentu masa depan bangsa. Karena itu mereka harus tumbuh di lingkungan yang penuh kasih sayang, aman, sehat, serta mendapatkan kesempatan terbaik untuk berkembang sesuai potensi yang dimiliki,” katanya saat ditemui di Kantornya, Kamis (23/7/2026).
Menghadapi Tantangan Zaman yang Kian Kompleks
Joko memaparkan, ancaman yang membayangi anak-anak hari ini kian nyata. Bukan cuma soal maraknya kekerasan fisik maupun verbal, melainkan jurang komunikasi antara orang tua dan anak yang kian melebar akibat kesibukan dan distraksi teknologi.
“Tanpa pendampingan yang erat, anak-anak berisiko kehilangan arah dalam menyerap nilai-nilai dasar kehidupan. Padahal, pemenuhan gizi yang cukup harus berbanding lurus dengan pemenuhan kasih sayang dan edukasi karakter. Kehadiran orang tua, perhatian, perlindungan, pendidikan, dan pemenuhan gizi yang baik merupakan pondasi utama untuk mewujudkan anak Indonesia yang sehat, cerdas, berkarakter, dan berdaya saing,” jelasnya.
Anak-anak yang dibesarkan dalam kehangatan keluarga yang berkualitas cenderung tumbuh menjadi pribadi tangguh, percaya diri, dan siap mengarungi ketatnya persaingan global.
Investasi Terbesar untuk Batang dan Indonesia
“Langkah nyata membenahi pola asuh di tingkat tapak ini sejalan dengan amunisi besar Kabupaten Batang untuk mencetak daerah yang mandiri dan berdaya saing. Joko menekankan, mustahil mencatatkan kemajuan daerah jika investasi pada kualitas tumbuh kembang anak sejak dini justru diabaikan,” terangnya.
Oleh karena itu, sinergi melintasi batas perlu terus digalang. Pemerintah, sekolah, hingga lingkungan masyarakat sekitar harus bahu-membahu menolak segala bentuk kekerasan, diskriminasi, dan pengabaian hak anak. Sebab pada akhirnya, perubahan besar selalu bermula dari pintu-pintu rumah kita sendiri.
“Mari bersama-sama mewujudkan lingkungan yang ramah anak dan keluarga yang berkualitas. Karena setiap langkah kecil yang kita lakukan hari ini akan menjadi investasi besar bagi masa depan bangsa Indonesia,” pungkasnya. (MC Batang, Jateng/Edo/Jumadi)