Batang - Pendidikan saat ini menghadapi tantangan yang tidak hanya berkaitan dengan penguasaan materi pelajaran, tetapi juga kemampuan peserta didik untuk menampilkan potensi dirinya. Di berbagai sekolah, guru sering menemukan siswa yang memperoleh nilai akademik baik, memahami materi pelajaran, bahkan mampu menjawab soal dengan benar, tetapi memilih diam ketika diminta menjelaskan hasil pekerjaannya di depan kelas.
Batang - Pendidikan saat ini menghadapi tantangan yang tidak hanya berkaitan dengan penguasaan materi pelajaran, tetapi juga kemampuan peserta didik untuk menampilkan potensi dirinya. Di berbagai sekolah, guru sering menemukan siswa yang memperoleh nilai akademik baik, memahami materi pelajaran, bahkan mampu menjawab soal dengan benar, tetapi memilih diam ketika diminta menjelaskan hasil pekerjaannya di depan kelas.
Salah satu guru SMPN 4 Batang Aloysius Aditya Pamrayogi mengatakan, tidak sedikit siswa yang menolak menjadi presenter kelompok, gugup saat berbicara di depan teman-temannya, atau menghindari kontak mata ketika guru mengajukan pertanyaan. Fenomena tersebut menunjukkan adanya penurunan performance confidence.
“Fenomena ini semakin tampak setelah perubahan pola belajar beberapa tahun terakhir yang banyak dipengaruhi oleh penggunaan teknologi digital. Peserta didik menjadi lebih terbiasa berkomunikasi melalui media sosial dibandingkan berinteraksi secara langsung. Akibatnya, ketika harus tampil di depan kelas, mereka mengalami kecemasan, takut melakukan kesalahan, khawatir ditertawakan teman, bahkan merasa dirinya tidak cukup baik dibandingkan orang lain,” katanya saat ditemui di SMPN 4 Batang, Kabupaten Batang, Jumat (17/7/2026).
Oleh karena itu, teori Self-Efficacy yang dikembangkan oleh Albert Bandura menjadi salah satu landasan yang sangat relevan untuk memahami fenomena tersebut. Lebih jauh lagi, sebagai bagian dari pendidikan Muhammadiyah, teori tersebut perlu diintegrasikan dengan nilai-nilai Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK) agar pengembangan kepercayaan diri peserta didik tidak hanya berorientasi pada aspek psikologis, tetapi juga pada pembentukan karakter Islami.
Self-Efficacy sebagai Dasar Membangun Performance Confidence
“Bahwa self-efficacy adalah keyakinan seseorang terhadap kemampuannya dalam mengorganisasi dan melaksanakan tindakan yang diperlukan untuk mencapai suatu tujuan. Seseorang yang memiliki self-efficacy tinggi tidak selalu memiliki kemampuan paling baik, tetapi ia percaya bahwa dirinya mampu belajar, berusaha, dan mengatasi berbagai tantangan. Sebaliknya, individu dengan self-efficacy rendah cenderung mudah menyerah, menghindari tugas yang dianggap sulit, serta lebih fokus pada kemungkinan gagal daripada peluang berhasil,” jelasnya.
Aloysius Aditya Pamrayogi juga menyebutkan, kesalahan kecil ketika presentasi terkadang langsung mendapat komentar negatif dari teman atau bahkan guru. Akibatnya, siswa mulai mengembangkan pikiran-pikiran negatif seperti "Saya pasti salah", "Teman-teman akan menertawakan saya", atau "Saya tidak sepintar mereka." Pikiran otomatis negatif tersebut akhirnya membentuk keyakinan bahwa dirinya memang tidak mampu tampil di depan umum. Jika kondisi tersebut terus berlangsung, performance confidence akan semakin menurun.
Perspektif AIK: Islam Mengajarkan Keberanian dan Optimisme
“Kepercayaan diri dalam Islam bukanlah bentuk kesombongan, melainkan keyakinan bahwa potensi yang Allah berikan harus dimanfaatkan secara maksimal. Seorang muslim diperintahkan untuk berikhtiar, bekerja keras, serta tidak mudah berputus asa,” ugkapnya.
Mengintegrasikan Self-Efficacy dan AIK dalam Layanan Bimbingan dan Konseling
Menurutnya teori Bandura menjelaskan bagaimana keyakinan diri dapat dibangun melalui pengalaman keberhasilan, pengamatan terhadap keberhasilan orang lain, dukungan sosial, serta pengelolaan kondisi emosional. Sementara itu, AIK memberikan dimensi spiritual bahwa setiap usaha dilakukan sebagai bentuk ibadah kepada Allah.
Guru Bimbingan dan Konseling dapat merancang layanan yang tidak hanya melatih keterampilan presentasi, tetapi juga membantu siswa mengubah cara berpikir negatif menjadi lebih positif.
“Selain itu, guru mata pelajaran juga memiliki peran penting. Lingkungan kelas harus menjadi ruang belajar yang aman bagi siswa untuk mencoba, melakukan kesalahan, kemudian belajar memperbaikinya. Budaya mengejek teman yang sedang presentasi perlu dihilangkan. Sebaliknya, guru dapat membangun budaya saling menghargai, memberikan umpan balik yang konstruktif, serta mengapresiasi setiap usaha yang dilakukan peserta didik. Lingkungan yang suportif akan mempercepat tumbuhnya performance confidence,” terangnya.
Fenomena menurunnya keberanian peserta didik untuk tampil di depan kelas merupakan persoalan nyata yang memerlukan perhatian bersama. Rendahnya performance confidence tidak hanya menghambat proses pembelajaran, tetapi juga membatasi kesempatan peserta didik untuk mengembangkan potensi terbaiknya.
“Sudah saatnya sekolah tidak hanya berfokus pada peningkatan nilai akademik, tetapi juga menciptakan lingkungan yang mendorong setiap peserta didik berani tampil, berani menyampaikan pendapat, dan berani mengembangkan potensinya. Ketika self-efficacy tumbuh dan nilai-nilai AIK tertanam kuat dalam diri siswa, maka performance confidence tidak lagi menjadi kelemahan, melainkan menjadi kekuatan yang akan melahirkan generasi pembelajar yang unggul, berkarakter, dan siap memberikan kontribusi terbaik bagi masyarakat,” pungkasnya. (MC Batang, Jateng/Jumadi)