Batang - Hamparan lereng pegunungan yang diselimuti kabut tipis pada pagi hari menjadi daya tarik tersendiri di Desa Tombo, Kecamatan Bandar, Kabupaten Batang. Di kawasan yang dikenal sebagai salah satu sentra penghasil kopi robusta tersebut, aroma kopi yang baru diseduh berpadu dengan sejuknya udara pegunungan dan rimbunnya hutan pinus, menghadirkan suasana yang menenangkan bagi para pengunjung.
Batang - Hamparan lereng pegunungan yang diselimuti kabut tipis pada pagi hari menjadi daya tarik tersendiri di Desa Tombo, Kecamatan Bandar, Kabupaten Batang. Di kawasan yang dikenal sebagai salah satu sentra penghasil kopi robusta tersebut, aroma kopi yang baru diseduh berpadu dengan sejuknya udara pegunungan dan rimbunnya hutan pinus, menghadirkan suasana yang menenangkan bagi para pengunjung.
Di tengah lanskap alam tersebut, Kopi Sidawung hadir sebagai salah satu destinasi wisata kopi yang mulai menarik perhatian wisatawan maupun pecinta kopi lokal. Mengusung konsep hidden gem, kedai yang berada di kawasan puncak Desa Tombo ini menawarkan pengalaman menikmati kopi asli Batang dengan panorama alam yang masih alami.
Pegawai Kopi Kedawung, Mujahidin (21) mengatakan, kedai tersebut telah beroperasi sekitar satu setengah tahun dan mengandalkan biji kopi hasil perkebunan masyarakat Desa Tombo.
“Di sini semua menggunakan kopi lokal, mulai dari robusta, arabika, hingga excelsa. Semuanya merupakan kopi asli Tombo,” katanya saat ditemui di Kafe Kopi Kedawung, Desa Tombo, Kecamatan Bandar, Kabupaten Batang, Rabu (15/7/2026).
Menurutnya, keberadaan kedai di tengah kawasan hutan pinus sengaja dipilih untuk menghadirkan pengalaman berbeda bagi para pengunjung yang ingin menikmati suasana alam yang tenang, jauh dari hiruk pikuk perkotaan.
“Sekarang banyak anak muda yang menyukai tempat-tempat berkonsep hidden gem. Karena itu kami mencoba menghadirkan kedai kopi di tengah hutan pinus dengan suasana yang alami,” jelasnya.
Selain menawarkan panorama pegunungan yang asri, Kopi Kedawung juga menyajikan berbagai menu dengan harga yang terjangkau. Pengunjung cukup menyiapkan anggaran sekitar Rp25 ribu hingga Rp50 ribu untuk menikmati secangkir kopi beserta aneka makanan pendamping.
Mujahidin menambahkan, jumlah pengunjung biasanya meningkat pada akhir pekan, terutama Sabtu dan Minggu. Wisatawan tidak hanya berasal dari Kabupaten Batang, tetapi juga dari sejumlah daerah di sekitarnya yang ingin menikmati suasana pegunungan sambil mencicipi kopi lokal.
“Menariknya, destinasi wisata ini tidak memberlakukan tiket masuk. Pengunjung hanya dikenakan biaya sesuai makanan dan minuman yang dipesan, sehingga menjadi pilihan wisata alam yang ramah di kantong,” ungkapnya.
Keberadaan Kopi Kedawung diharapkan dapat semakin memperkenalkan potensi kopi lokal Desa Tombo sekaligus mendukung pengembangan sektor pariwisata berbasis alam dan ekonomi kreatif di Kabupaten Batang.
“Dengan mengangkat hasil perkebunan masyarakat sebagai sajian utama, destinasi ini menjadi salah satu contoh sinergi antara potensi pertanian, UMKM, dan wisata yang mampu memberikan nilai tambah bagi perekonomian masyarakat setempat,” pungkasnya. (MC Batang, Jateng/Roza/Jumadi)