Batang - Pelaksanaan Sensus Ekonomi 2026 (SE26) di Kabupaten Batang menghadirkan kisah menarik. Saat melakukan pendataan di Desa Ketanggan, Kecamatan Gringsing, petugas Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Batang menemukan seorang warga lanjut usia bernama Supiyah yang telah berusia 100 tahun 1 bulan 19 hari dan masih menjalani aktivitas sehari-hari dengan mandiri.
Batang - Pelaksanaan Sensus Ekonomi 2026 (SE26) di Kabupaten Batang menghadirkan kisah menarik. Saat melakukan pendataan di Desa Ketanggan, Kecamatan Gringsing, petugas Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Batang menemukan seorang warga lanjut usia bernama Supiyah yang telah berusia 100 tahun 1 bulan 19 hari dan masih menjalani aktivitas sehari-hari dengan mandiri.
Di usianya yang telah mencapai satu abad, Mbah Supiyah masih mampu menjahit pakaian. Meski pendengarannya mulai berkurang, kondisi penglihatannya masih baik sehingga tetap dapat menjalankan keterampilan yang telah ditekuninya selama bertahun-tahun. Temuan tersebut menjadi salah satu potret yang terekam dalam pelaksanaan SE26 yang kali ini memiliki cakupan pendataan jauh lebih luas dibandingkan sensus sebelumnya.
Kepala BPS Batang Heni Djumadi mengatakan, SE26 merupakan sensus dengan konsep paket lengkap karena tidak hanya memotret aktivitas ekonomi masyarakat, tetapi juga menghimpun berbagai data sosial dan demografi yang dibutuhkan pemerintah.
“Kalau sensus ekonomi sebelumnya lebih berfokus pada pelaku usaha, sekarang cakupannya lebih luas. Selain usaha nonpertanian, kami juga mendata sektor pertanian sekaligus karakteristik keluarga dan kondisi masyarakat secara menyeluruh,” katanya usai pelaksanaan sensus di Desa Ketanggan, Kecamatan Gringsing, Kabupaten Batang, Jumat (10/7/2026).
Dijelaskannya, pendataan yang dilakukan di rumah tangga tidak hanya mencatat keberadaan usaha, tetapi juga memotret karakteristik keluarga, mulai dari jumlah anggota keluarga, kondisi tempat tinggal, hingga kondisi sosial ekonomi masyarakat.
“Petugas sensus juga mengumpulkan informasi mengenai kondisi fisik rumah, seperti jenis lantai dan dinding bangunan, sebagai bagian dari pemetaan kualitas hunian masyarakat. Selain itu, sensus turut mencatat data demografi secara rinci, termasuk usia penduduk hingga kelompok lanjut usia. Temuan Mbah Supiyah yang telah berusia lebih dari 100 tahun menjadi salah satu contoh data yang berhasil dihimpun selama proses pendataan,” jelasnya.
Tidak hanya itu, BPS juga mendata kondisi pendidikan masyarakat, termasuk anak usia sekolah yang tidak bersekolah atau putus sekolah, sehingga pemerintah dapat mengetahui penyebabnya sebagai dasar penyusunan kebijakan yang lebih tepat sasaran.
“Aspek kesehatan juga menjadi bagian penting dalam pendataan. Informasi mengenai penyandang disabilitas maupun warga lanjut usia yang mengalami penyakit katastropik, seperti stroke, turut dicatat sebagai bahan penyusunan program pembangunan di bidang kesehatan dan kesejahteraan sosial,” terangnya.
Heni menambahkan, untuk pendataan di kawasan pasar, fokus petugas diarahkan pada karakteristik usaha yang dijalankan para pelaku usaha, sedangkan pendataan di rumah tangga lebih menitikberatkan pada karakteristik keluarga.
“Melalui data yang dihimpun secara komprehensif tersebut, pemerintah diharapkan memperoleh gambaran yang lebih utuh mengenai kondisi sosial, ekonomi, dan kesejahteraan masyarakat sebagai dasar penyusunan kebijakan pembangunan yang semakin tepat sasaran di Kabupaten Batang,” pungkasnya. (MC Batang, Jateng/Roza/Jumadi)