Batang - Program seragam sekolah gratis yang digulirkan Pemerintah Kabupaten Batang disambut positif oleh para penjahit rumahan. Mereka menilai kebijakan tersebut tidak hanya membantu meringankan beban orang tua siswa, tetapi juga berpotensi menggerakkan perekonomian pelaku usaha jahit lokal apabila pelaksanaannya melibatkan lebih banyak penjahit di daerah.
Batang - Program seragam sekolah gratis yang digulirkan Pemerintah Kabupaten Batang disambut positif oleh para penjahit rumahan. Mereka menilai kebijakan tersebut tidak hanya membantu meringankan beban orang tua siswa, tetapi juga berpotensi menggerakkan perekonomian pelaku usaha jahit lokal apabila pelaksanaannya melibatkan lebih banyak penjahit di daerah.
Di tengah persiapan tahun ajaran baru, para penjahit rumahan di Batang masih disibukkan dengan pesanan seragam sekolah dari pelanggan perorangan. Namun, sebagian besar mengaku belum menerima pesanan yang berkaitan dengan program seragam gratis dari pemerintah daerah.
Salah satunya, Pipih Sofia (46), penjahit rumahan di Dukuh Legoksari. Ia mengatakan, pesanan seragam sekolah tahun ini masih berjalan seperti biasa. Selain menjahit seragam sekolah, Pipih juga menerima pesanan pakaian pengantin, bridesmaid, hingga batik.
“Alhamdulillah lumayan. Untuk seragam sekolah sekitar 20 potong. Kalau bahan sudah dipotong semua, sehari bisa menyelesaikan tiga setel,” katanya saat ditemui di Dukuh Legoksari, Kelurahan Proyonanggan Tengah, Kabupaten Batang, Selasa (7/7/2026).
Ia mematok ongkos jahit sekitar Rp125 ribu per setel. Meski mengetahui adanya program seragam sekolah gratis yang disebut melibatkan penjahit lokal, hingga kini dirinya belum pernah menerima pesanan dari pemerintah.
“Saya belum dapat. Yang datang tetap pelanggan perorangan seperti biasanya. Semoga usaha jahit yang telah digelutinya tetap ramai sehingga dapat terus menjadi sumber penghasilan bagi keluarganya. Harapannya semoga selalu ramai,” harapnya.
Harapan serupa disampaikan Sriana (53), penjahit rumahan asal Dracik, Kelurahan Proyonanggan Selatan, Kecamatan Batang. Menurutnya, musim penerimaan peserta didik baru masih menjadi momen meningkatnya permintaan pembuatan seragam sekolah.
Ia menerima pesanan dari berbagai jenjang pendidikan, mulai taman kanak-kanak, sekolah dasar, sekolah menengah atas hingga pondok pesantren. Khusus dari salah satu pondok pesantren, Sriana mendapat pesanan sebanyak 82 potong seragam. Secara keseluruhan, jumlah pesanan yang tengah dikerjakannya saat ini mencapai lebih dari 100 potong.
“Alhamdulillah masih banyak seperti tahun-tahun sebelumnya. Bahkan ada juga yang terpaksa saya tolak karena tenaga terbatas. Semua saya kerjakan sendiri sambil membantu suami,” ungkapnya.
Untuk menyelesaikan satu setel seragam SMA, Sriana membutuhkan waktu sekitar satu hari. Ongkos jahit yang dipatok bervariasi, mulai Rp35 ribu per setel untuk pesanan borongan TK hingga Rp100 ribu-Rp120 ribu per setel untuk pelanggan perorangan.
Meski pesanan pribadi cukup banyak, Sriana mengaku belum pernah memperoleh informasi maupun pesanan resmi terkait program seragam gratis dari Pemerintah Kabupaten Batang.
“Saya malah tidak tahu informasinya. Teman-teman penjahit juga sempat bertanya-tanya, kok tidak tahu informasi itu dari mana. Apabila program tersebut dapat melibatkan penjahit lokal secara lebih luas, maka akan menjadi peluang yang baik bagi pelaku usaha kecil,” terangnya.
Namun, ia menyadari kapasitas produksinya masih terbatas sehingga harus disesuaikan dengan kemampuan yang dimiliki. Di balik kesibukannya menjahit, Sriana memiliki harapan untuk mengembangkan usahanya menjadi sebuah konveksi yang mampu membuka lapangan pekerjaan bagi warga di sekitarnya.
“Saya ingin punya konveksi sendiri. Jadi ibu-ibu di sekitar sini bisa ikut bekerja. Saya punya banyak relasi sekolah maupun pelanggan, mudah-mudahan nanti bisa berkembang. Memang kendalanya masih di modal,” ujar dia.
Suara para penjahit rumahan tersebut menggambarkan bahwa program seragam sekolah gratis tidak hanya berdampak pada sektor pendidikan, tetapi juga membuka harapan bagi pelaku UMKM jasa jahit di Kabupaten Batang.
Mereka berharap informasi mengenai pelaksanaan program dapat disampaikan secara lebih terbuka serta memberi kesempatan yang lebih luas bagi penjahit lokal untuk berpartisipasi, sehingga manfaat program tidak hanya dirasakan oleh para siswa dan orang tua, tetapi juga mampu mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat melalui pemberdayaan usaha kecil. (MC Batang, Jateng/Roza/Jumadi)