Batang - Pengembangan peternakan sapi perah di Kecamatan Reban, Kabupaten Batang, terus menunjukkan perkembangan positif. Desa Semampir menjadi salah satu wilayah yang aktif mengembangkan usaha sapi perah karena memiliki kondisi alam yang mendukung serta berpotensi meningkatkan perekonomian masyarakat desa.
Batang - Pengembangan peternakan sapi perah di Kecamatan Reban, Kabupaten Batang, terus menunjukkan perkembangan positif. Desa Semampir menjadi salah satu wilayah yang aktif mengembangkan usaha sapi perah karena memiliki kondisi alam yang mendukung serta berpotensi meningkatkan perekonomian masyarakat desa.
Potensi tersebut menarik perhatian mahasiswa aktif dari Universitas Diponegoro Kampus Batang yang melakukan penelusuran langsung bersama peternak sapi perah di Desa Semampir. Kegiatan tersebut bertujuan mengenalkan potensi peternakan lokal sekaligus melihat perkembangan usaha sapi perah di wilayah pegunungan Kabupaten Batang.
Salah satu peternak sapi perah Desa Semampir, Rudito mulai mengembangkan usaha sapi perah sejak 2022 dan aktif memproduksi susu pada 2023. Sebelumnya, ia sempat menjalankan usaha sapi potong sebelum akhirnya beralih ke sapi perah karena dinilai lebih menguntungkan.
“Awalnya saya hanya memiliki dua ekor sapi, sekarang sudah berkembang menjadi tujuh ekor,” katanya saat ditemui di kandang sapi perah miliknya, Desa Semampir, Kecamatan Reban, Kabupaten Batang, Sabtu (23/5/2026).
Menurutnya, kondisi alam Desa Semampir yang berada di dataran tinggi sangat mendukung pengembangan sapi perah. Suhu udara yang sejuk membantu menjaga kondisi ternak sehingga produksi susu menjadi lebih optimal.
“Selain itu, ketersediaan pakan di wilayah tersebut juga cukup memadai. Perkembangan usaha sapi perah di Desa Semampir terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Jika sebelumnya hanya terdapat sekitar tiga peternak, kini jumlahnya bertambah menjadi sekitar 13 peternak. Sekarang masyarakat mulai melihat kalau sapi perah bisa menjadi peluang ekonomi yang menjanjikan,” jelasnya.
Saat ini, tujuh ekor sapi yang dipelihara Rudito mampu menghasilkan sekitar 15 liter susu per ekor setiap hari. Susu hasil produksi kemudian dipasarkan melalui pos penampungan susu Desa Semampir yang telah bekerja sama dengan Nestlé.
Menurutnya, permintaan susu lokal terus meningkat. Ia juga menilai susu hasil peternakan Desa Semampir memiliki kualitas yang baik karena masih segar dan didukung sistem pemeliharaan yang optimal.
“Meski demikian, usaha sapi perah masih menghadapi sejumlah tantangan, terutama faktor cuaca dan tingginya biaya pakan ternak. Cuaca panas dapat memengaruhi kondisi sapi sehingga produksi susu menurun,” terangnya.
Rudito menyebutkan, kalau cuaca panas, produksi susu turun dan sapi kurang istirahat. Kalau dingin, hasil susu lebih bagus. Dalam pengembangan usaha ternak, para peternak juga mendapat dukungan dari pemerintah dan dinas terkait berupa bantuan bibit rumput, mesin pencacah pakan (chopper), serta vaksin ternak setiap tahun.
Ia berharap, pemerintah dapat memberikan perhatian lebih terhadap peternak sapi perah di Desa Semampir karena usaha tersebut masih dalam tahap pengembangan awal di Kabupaten Batang.
“Usaha sapi perah di sini memiliki peluang besar ke depan seiring meningkatnya kebutuhan susu masyarakat,” tegasnya.
Selain itu, ia juga mengajak generasi muda untuk memanfaatkan peluang usaha di desa tanpa harus merantau ke luar daerah.
“Tujuan hidup kita memang mencari uang. Tapi kenapa harus merantau, kalau di desa sendiri sebenarnya masih banyak peluang untuk mendapatkan penghasilan,” pungkasnya.
Melalui penelusuran ini, Undip Kampus Batang berharap potensi peternakan sapi perah di wilayah Reban semakin dikenal masyarakat luas. Serta mampu mendorong munculnya peternak muda baru di Kabupaten Batang. (MC Batang, Jateng/Heri/Jumadi)