Batang - Kabupaten Batang hari ini masih harus berhadapan dengan musuh lama yang tak kasat mata Tuberkulosis (TBC). Penyakit menular ini tetap menjadi pekerjaan rumah (PR) besar bagi pemerintah daerah. Di tengah target ambisius Indonesia untuk bebas TBC pada tahun 2030, grafik temuan kasus di Batang justru terus merayap naik.
Batang - Kabupaten Batang hari ini masih harus berhadapan dengan musuh lama yang tak kasat mata Tuberkulosis (TBC). Penyakit menular ini tetap menjadi pekerjaan rumah (PR) besar bagi pemerintah daerah. Di tengah target ambisius Indonesia untuk bebas TBC pada tahun 2030, grafik temuan kasus di Batang justru terus merayap naik.
Hingga 18 Mei 2026, radar Dinas Kesehatan (Dinkes) Batang telah mendeteksi 451 kasus TBC yang tersebar di berbagai sudut kecamatan dan fasilitas kesehatan. Angka ini bukan sekadar statistik, melainkan alarm bagi kesehatan publik.
Meski berada di tengah kepungan angka tersebut, rapot penanganan TBC di bumi Alas Roban ini dinilai masih berada di jalur yang aman jika disandingkan dengan wilayah lain di Jawa Tengah.
Kepala Dinkes Batang Ida Susilaksmi menyampaikan, blak-blakan mengenai realita di lapangan. Ia mengakui tantangan ini berat, namun optimisme untuk berbenah tetap ada.
“TBC di Kabupaten Batang ini masih menjadi masalah. Tapi alhamdulillah secara umum untuk capaian programnya sudah cukup," katanya saat dietmui di Kantornya, Rabu (20/5/2026).
Ida menegaskan, bahwa pemerintah pusat tidak main-main dengan target eliminasi TBC pada 2030. Oleh karena itu, sinergi lintas sektor kini digenjot demi mempercepat penemuan kasus dan memastikan pasien berobat hingga benar-benar sembuh.
“Di Jawa Tengah, capaian program tuberkulosis di Kabupaten Batang termasuk di level tengah, bukan yang jelek sekali, tapi juga bukan yang bagus sekali. Jika membedah data faskes per 18 Mei 2026, RSUD Batang menjadi garda terdepan sekaligus penyumbang angka tertinggi dengan temuan 96 kasus. Di posisi berikutnya, RS QIM mencatat 70 kasus dan RSUD Limpung mendeteksi 39 kasus,” ungkapnya.
Tingginya angka di rumah sakit ini terbilang wajar, mengingat ketiganya merupakan pusat rujukan utama bagi pasien lokal maupun luar daerah.
“Namun, yang perlu diwaspadai adalah pergerakan di tingkat akar rumput (Puskesmas). Puskesmas Bawang mendeteksi 29 kasus, disusul Warungasem dengan 23 kasus, serta Tulis dan Subah yang masing-masing mengantongi 19 kasus,” jelasnya.
Jika dipetakan berdasarkan domisili asli para pasien, konstelasi wilayahnya sedikit berubah:
* Kecamatan Warungasem: 44 kasus (tertinggi)
* Kecamatan Bawang: 41 kasus
* Kecamatan Subah: 32 kasus
* Kecamatan Tulis: 31 kasus
* Kecamatan Batang 2: 30 kasus
* Kecamatan Kandeman: 28 kasus
Selain warga lokal, ada pula 19 pasien dari luar kota yang saat ini tercatat sedang menjalani perawatan di Batang.
“Tahun 2026 ini, pemerintah mematok target nasional penemuan kasus TBC sebesar 90 persen. Secara regional, per 10 April 2026, Jawa Tengah baru berhasil menjaring 19.695 kasus dari target tahunan yang mencapai 107.488 kasus,” terangnya.
Bagaimana dengan Batang, saat ini progresnya baru menyentuh angka 16,61 persen dari estimasi total beban kasus yang diprediksi mencapai 1.825 kasus. Angka performa ini sayangnya masih berada di bawah target bulanan April yang seharusnya berada di angka 30 persen.
Ida juga menyebutkan, melihat rapor yang masih menyisakan ruang kosong tersebut, Dinkes Batang langsung tancap gas. Strategi jemput bola lewat skrining aktif mulai difokuskan, terutama di wilayah-wilayah dengan densitas kasus tinggi seperti Warungasem dan Bawang.
“Ujung tombak penanganan kini digeser ke Puskesmas agar pelacakan kontak erat (contact tracing), pemeriksaan dini, hingga pendampingan minum obat bagi pasien bisa dikawal dengan lebih ketat,” ujar dia.
Di akhir kesempatan, Dinkes Batang mengetuk kesadaran masyarakat agar membuang jauh-jauh stigma dan rasa takut untuk memeriksakan diri. Jika mendapati gejala klinis seperti batuk tak kunjung sembuh, berat badan merosot tajam, demam, atau kerap berkeringat di malam hari tanpa aktivitas, segeralah ke faskes terdekat.
“Penanganan cepat dinilai penting untuk mencegah penularan lebih luas di lingkungan keluarga maupun masyarakat,” pungkasnya. (MC Batang, Jateng/Edo/Jumadi)