Batang - Petani kopi di Kabupaten Batang mulai memasuki masa panen raya yang diperkirakan berlangsung selama 1,5 hingga 2 bulan ke depan. Sejumlah petani mulai memetik buah kopi yang telah matang sempurna atau berwarna merah, terutama di wilayah dataran tinggi yang menjadi sentra produksi kopi unggulan Batang.
Batang - Petani kopi di Kabupaten Batang mulai memasuki masa panen raya yang diperkirakan berlangsung selama 1,5 hingga 2 bulan ke depan. Sejumlah petani mulai memetik buah kopi yang telah matang sempurna atau berwarna merah, terutama di wilayah dataran tinggi yang menjadi sentra produksi kopi unggulan Batang.
Salah satu petani kopi di Kecamatan Reban, Maaruf mengatakan, harga kopi pada musim panen tahun ini relatif stabil meski terdapat sedikit penurunan pada beberapa jenis hasil olahan.
“Harga red cherry kopi asalan robusta saat ini sekitar Rp10 ribu sampai Rp12 ribu per kilogram. Kalau green bean asalan sekitar Rp50 ribu per kilogram, tahun lalu masih bisa sampai Rp55ribu,” katanya saat ditemui di perkebunan kopi, Kecamatan Reban, Kabupaten Batang, Rabu (20/5/2026).
Untuk kopi green bean premium, harga jualnya masih cukup tinggi, yakni mencapai Rp70 ribu per kilogram. Menurut Maaruf, sebagian besar petani di Batang masih memilih menjual kopi dalam bentuk asalan karena proses panennya dilakukan secara campuran, mulai dari buah berwarna hijau hingga merah.
“Kita panen campur karena petani khawatir mendekati panen raya banyak pencurian. Kalau buah kopi terlalu lama dibiarkan merah di pohon, sering jadi sasaran maling,” jelasnya.
Ia menjelaskan, petani biasanya mulai memanen ketika sekitar 70 persen buah pada satu pohon sudah berwarna merah untuk mengurangi risiko kehilangan hasil panen. Dalam satu musim, satu pohon kopi rata-rata mampu menghasilkan sekitar 10 kilogram buah kopi. Di kebun miliknya sendiri terdapat sekitar 1.000 pohon kopi yang tahun ini ditargetkan mampu menghasilkan hingga 10 ton panen.
“Mudah-mudahan tahun ini bisa panen sampai 10 ton di kebun saya saja. Belum ditambah hasil kebun teman-teman petani lainnya,” harapnya.
Maaruf juga menyebutkan, bahwa meski kopi premium memiliki nilai jual lebih tinggi karena harus melalui proses penyortiran ketat, Maaruf mengaku tidak terlalu mempermasalahkan jika harus memanen lebih awal demi menjaga hasil panen tetap aman.
Selain fokus pada produksi, petani kopi di Kabupaten Batang juga terus berupaya mengenalkan kopi lokal agar semakin dikenal di tingkat nasional. Salah satunya melalui agenda Manual Brew Competition yang akan digelar pada 14 Juni 2026 mendatang.
“Kami ingin membawa nama kopi Batang semakin dikenal luas. Nanti ada manual brew competition untuk mengenalkan kopi Batang ke luar daerah,” ujar dia.
Maaruf berharap, pemerintah daerah bersama aparat keamanan dapat membantu menjaga keamanan kawasan perkebunan kopi, terutama saat musim panen raya berlangsung.
“Kami berharap ada perhatian untuk keamanan kebun kopi petani supaya kopi-kopi berkualitas di Batang tidak habis dicuri,” pungkasnya. (MC Batang, Jateng/Roza/Jumadi)