Setia di Tengah Redupnya Tren, Kisah Yosi, Penjaga "Nadi" Batu Akik di Batang

Senin, 18 Mei 2026 Jumadi Dibaca 65 kali IKM UKM UMKM
Setia di Tengah Redupnya Tren, Kisah Yosi, Penjaga "Nadi" Batu Akik di Batang
Salah satu pembuat batu akik Yosi memperlihatkan hasil karyanya di kediamannya, Desa Rowobelang, Kabupaten Batang.
Batang - Di jari manisnya, sebuah batu berkarakter unik melingkar kokoh. Bagi Yosi (51), kilau batu itu tidak pernah pudar, meski riuh rendah demam batu akik di tanah air sudah lama senyap. Di saat orang lain sudah menyisihkan kotak cincin mereka ke gudang, warga Rowobelang, Kabupaten Batang ini justru memilih bertahan, merawat hobi yang telah mendarah daging sejak ia masih berseragam Sekolah Menengah Pertama (SMP).

Batang - Di jari manisnya, sebuah batu berkarakter unik melingkar kokoh. Bagi Yosi (51), kilau batu itu tidak pernah pudar, meski riuh rendah demam batu akik di tanah air sudah lama senyap. Di saat orang lain sudah menyisihkan kotak cincin mereka ke gudang, warga Rowobelang, Kabupaten Batang ini justru memilih bertahan, merawat hobi yang telah mendarah daging sejak ia masih berseragam Sekolah Menengah Pertama (SMP).

Bagi Yosi, batu akik bukan sekadar aksesori jemari atau komoditas musiman yang bisa ditinggalkan saat masanya lewat. Ada perjalanan panjang yang mengikat batinnya dengan batuan alam ini. Uniknya, ikatan itu bermula dari sebuah ketertarikan yang sarat dengan cerita mistis hal yang sangat lekat dengan dunia batu cincin di masa lalu.

“Dulu waktu SMP memang awalnya tertarik karena unsur mistisnya. Dulu banyak yang percaya batu akik punya aura atau kekuatan tertentu,” katanya, saat ditemui di kediamannya, Desa Rowobelang, Kabupaten Batang, Senin (18/5/2026).

Waktu terus bergulir, dan kedewasaan mengubah cara pandang Yosi. Terutama ketika demam batu akik melanda Indonesia secara masif beberapa tahun silam. Saat itu, pandangan masyarakat terhadap batu akik mengalami pergeseran besar. Batu cincin tidak lagi melulu soal dunia gaib, melainkan naik kelas menyentuh ranah seni, keindahan estetika, hingga nilai ekonomi yang menjanjikan.

“Kalau sekarang lebih ke unsur seni dan keindahannya. Batu akik itu sebenarnya karya alam yang unik. Coraknya beda-beda, warnanya juga bermacam-macam. Itu yang membuat menarik,” ujarnya sembari menunjukkan beberapa koleksinya,” jelasnya.

Bagi Yosi, setiap batu memiliki jiwa dan karakter tersendiri. Karakter unik inilah yang membuat radar pemburunya selalu menyala untuk mencari koleksi baru. Rasa penasaran itu seperti tidak ada habisnya.

“Namanya hobi ya enggak bisa berhenti. Selalu ingin cari yang belum punya. Kadang beli, kadang barter atau tukar sama teman komunitas,” ungkapnya.

Hingga saat ini, lemari koleksi Yosi sudah dihuni oleh sekitar 50 butir batu akik dari berbagai jenis. Menariknya, jika diminta memilih satu saja yang paling ia sukai, Yosi akan langsung menyerah.

“Kalau ditanya paling suka yang mana ya susah. Hampir semuanya suka karena masing-masing punya keunikan sendiri. Jika dulu di masa remaja koleksinya didominasi oleh jenis batu akik atau agate yang kental dengan nuansa mistis, kini isi kotaknya jauh lebih berwarna. Koleksinya bertransformasi menjadi lebih beragam, mulai dari batuan dengan corak gambar yang unik hingga batu yang memiliki nilai seni tinggi,” terangnya.

Yosi juga menyebutkan, kini, riuh rendah pasar batu akik memang sudah mereda. Pasar bergerak menjadi lebih selektif dan menyisakan mereka yang benar-benar cinta. Namun, Yosi menolak anggapan bahwa dunia batu akik telah mati. Menurutnya, potensi industri ini masih sangat besar jika dikelola dan didukung dengan tepat.

“Salah satu tantangan terbesar di Batang adalah geografis. Daerah ini bukanlah wilayah penghasil batu akik, sehingga para pengrajin dan penghobi kerap kesulitan mendapatkan variasi bahan baku mentah,” tegasnya.

Ia juga menyampaikan, harga batu akik sekarang macam-macam. Ada yang Rp100 ribu sampai Rp1 juta juga ada, tergantung jenis dan kualitasnya. Tren boleh saja redup dan berganti dengan tren-tren baru yang dibawa zaman.

Namun bagi Yosi dan para anggota Kombabat, batu akik telah melompat jauh dari sekadar simbol mistis atau gaya-gayaan sesaat. Ia telah menjelma menjadi karya seni abadi, sebuah warisan alam yang akan terus hidup di sela-sela jemari para pencintanya. (MC Batang, Jateng/Edo/Jumadi)

Berita Lainnya

14 DPK KNPI Batang Dilantik Serentak, Perkuat Peran Pemuda Dukung Pembangunan Daerah 14 DPK KNPI Batang Dilantik Serentak, Perkuat Peran Pemuda Dukung Pembangunan Daerah
14 DPK KNPI Batang Dilantik Serentak, Perkuat Peran Pemuda Dukung Pembangunan Daerah
Batang - Sebanyak 14 Dewan Pengurus Kecamatan (DPK) Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) se-Kabupaten Batang masa bakti 20252028 resmi dilantik secara serentak di Pendopo Kabupaten Batang, Senin (1852026). Pelantikan mengusung tema Revitalisasi, Eksistensi, dan Kolaborasi Peran Pemuda dalam Mewujudkan Cita-Cita Kabupaten Batang.
18 Mei 2026 Jumadi 53
Sertijab Dandim Batang, Danrem Wijayakusuma Fokus Pembetukan Yon TP Sertijab Dandim Batang, Danrem Wijayakusuma Fokus Pembetukan Yon TP
Sertijab Dandim Batang, Danrem Wijayakusuma Fokus Pembetukan Yon TP
Batang - Sebagai wujud dukungan TNI terhadap program kerja pemerintah pusat, utamanya ketahanan pangan nasional, saat ini Korem 071Wijayakusuma bersama Kodim 0736Batang berfokus dalam pembentukan Satuan Batalyon Teritorial Pembangunan (Yon TP).
18 Mei 2026 Jumadi 61
Jelang Iduladha, DPD JULEHA Batang Siapkan Juru Sembelih Profesional Jelang Iduladha, DPD JULEHA Batang Siapkan Juru Sembelih Profesional
Jelang Iduladha, DPD JULEHA Batang Siapkan Juru Sembelih Profesional
Batang - Dewan Pimpinan Daerah Juru Sembelih Halal (DPD JULEHA), kembali menggelar bimbingan teknis dan pelatihan, untuk menghasilkan juru sembelih profesional. Dalam pelatihan tersebut para juru sembelih halal ditekankan agar melaksanakan tugasnya sesuai syariat Islam, hingga manajemen penyembelihan yang baik, sehingga hewan kurban tetap halal dikonsumsi.
17 Mei 2026 Jumadi 77
ORARI Jateng-DIY Gelar Family Gathering di Batang, Perkuat Solidaritas dan Peran Sosial ORARI Jateng-DIY Gelar Family Gathering di Batang, Perkuat Solidaritas dan Peran Sosial
ORARI Jateng-DIY Gelar Family Gathering di Batang, Perkuat Solidaritas dan Peran Sosial
Batang - Ratusan anggota Organisasi Amatir Radio Indonesia (ORARI) dari wilayah Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) mengikuti kegiatan Family Gathering Net Control Station (NCS) Call Area 2 Jateng-DIY Ke-13 di Pendopo Kabupaten Batang, Minggu (1752026). Kegiatan tersebut diikuti lebih dari 200 peserta dan menjadi ajang mempererat silaturahmi antaranggota ORARI.
17 Mei 2026 Jumadi 108
Panen Raya Jagung, Polres Batang Dukung Swasembada Pangan Nasional Panen Raya Jagung, Polres Batang Dukung Swasembada Pangan Nasional
Panen Raya Jagung, Polres Batang Dukung Swasembada Pangan Nasional
Batang - Panen Raya Jagung Serentak Kuartal II dalam rangka mendukung program swasembada pangan nasional tahun 2026 digelar di Desa Jolosekti, Kecamatan Tulis, Kabupaten Batang, Sabtu (1652026). Kegiatan tersebut menjadi bagian dari program nasional yang dirangkaikan dengan Ground Breaking 10 Gudang Ketahanan Pangan Polri serta launching operasional 166 SPPG Polri melalui zoom meeting bersama Presiden Republik Indonesia.
16 Mei 2026 Jumadi 89
Generasi Alpha Piawai Bermain HT di Gathering ORARI Batang Generasi Alpha Piawai Bermain HT di Gathering ORARI Batang
Generasi Alpha Piawai Bermain HT di Gathering ORARI Batang
Batang - Handy Talky (HT) tak kenal usia, generasi alpha piawai bermain HT. Di tengah gempuran gadget canggih dan media sosial, frekuensi radio amatir ternyata masih punya magnet kuat untuk memikat anak-anak zaman sekarang.
16 Mei 2026 Jumadi 172