Batang - Di jari manisnya, sebuah batu berkarakter unik melingkar kokoh. Bagi Yosi (51), kilau batu itu tidak pernah pudar, meski riuh rendah demam batu akik di tanah air sudah lama senyap. Di saat orang lain sudah menyisihkan kotak cincin mereka ke gudang, warga Rowobelang, Kabupaten Batang ini justru memilih bertahan, merawat hobi yang telah mendarah daging sejak ia masih berseragam Sekolah Menengah Pertama (SMP).
Batang - Di jari manisnya, sebuah batu berkarakter unik melingkar kokoh. Bagi Yosi (51), kilau batu itu tidak pernah pudar, meski riuh rendah demam batu akik di tanah air sudah lama senyap. Di saat orang lain sudah menyisihkan kotak cincin mereka ke gudang, warga Rowobelang, Kabupaten Batang ini justru memilih bertahan, merawat hobi yang telah mendarah daging sejak ia masih berseragam Sekolah Menengah Pertama (SMP).
Bagi Yosi, batu akik bukan sekadar aksesori jemari atau komoditas musiman yang bisa ditinggalkan saat masanya lewat. Ada perjalanan panjang yang mengikat batinnya dengan batuan alam ini. Uniknya, ikatan itu bermula dari sebuah ketertarikan yang sarat dengan cerita mistis hal yang sangat lekat dengan dunia batu cincin di masa lalu.
“Dulu waktu SMP memang awalnya tertarik karena unsur mistisnya. Dulu banyak yang percaya batu akik punya aura atau kekuatan tertentu,” katanya, saat ditemui di kediamannya, Desa Rowobelang, Kabupaten Batang, Senin (18/5/2026).
Waktu terus bergulir, dan kedewasaan mengubah cara pandang Yosi. Terutama ketika demam batu akik melanda Indonesia secara masif beberapa tahun silam. Saat itu, pandangan masyarakat terhadap batu akik mengalami pergeseran besar. Batu cincin tidak lagi melulu soal dunia gaib, melainkan naik kelas menyentuh ranah seni, keindahan estetika, hingga nilai ekonomi yang menjanjikan.
“Kalau sekarang lebih ke unsur seni dan keindahannya. Batu akik itu sebenarnya karya alam yang unik. Coraknya beda-beda, warnanya juga bermacam-macam. Itu yang membuat menarik,” ujarnya sembari menunjukkan beberapa koleksinya,” jelasnya.
Bagi Yosi, setiap batu memiliki jiwa dan karakter tersendiri. Karakter unik inilah yang membuat radar pemburunya selalu menyala untuk mencari koleksi baru. Rasa penasaran itu seperti tidak ada habisnya.
“Namanya hobi ya enggak bisa berhenti. Selalu ingin cari yang belum punya. Kadang beli, kadang barter atau tukar sama teman komunitas,” ungkapnya.
Hingga saat ini, lemari koleksi Yosi sudah dihuni oleh sekitar 50 butir batu akik dari berbagai jenis. Menariknya, jika diminta memilih satu saja yang paling ia sukai, Yosi akan langsung menyerah.
“Kalau ditanya paling suka yang mana ya susah. Hampir semuanya suka karena masing-masing punya keunikan sendiri. Jika dulu di masa remaja koleksinya didominasi oleh jenis batu akik atau agate yang kental dengan nuansa mistis, kini isi kotaknya jauh lebih berwarna. Koleksinya bertransformasi menjadi lebih beragam, mulai dari batuan dengan corak gambar yang unik hingga batu yang memiliki nilai seni tinggi,” terangnya.
Yosi juga menyebutkan, kini, riuh rendah pasar batu akik memang sudah mereda. Pasar bergerak menjadi lebih selektif dan menyisakan mereka yang benar-benar cinta. Namun, Yosi menolak anggapan bahwa dunia batu akik telah mati. Menurutnya, potensi industri ini masih sangat besar jika dikelola dan didukung dengan tepat.
“Salah satu tantangan terbesar di Batang adalah geografis. Daerah ini bukanlah wilayah penghasil batu akik, sehingga para pengrajin dan penghobi kerap kesulitan mendapatkan variasi bahan baku mentah,” tegasnya.
Ia juga menyampaikan, harga batu akik sekarang macam-macam. Ada yang Rp100 ribu sampai Rp1 juta juga ada, tergantung jenis dan kualitasnya. Tren boleh saja redup dan berganti dengan tren-tren baru yang dibawa zaman.
Namun bagi Yosi dan para anggota Kombabat, batu akik telah melompat jauh dari sekadar simbol mistis atau gaya-gayaan sesaat. Ia telah menjelma menjadi karya seni abadi, sebuah warisan alam yang akan terus hidup di sela-sela jemari para pencintanya. (MC Batang, Jateng/Edo/Jumadi)