Batang - Pagelaran seni ketoprak kembali dipersembahkan puluhan pelajar SMPN 4 Batang dalam even Malam Jumat Kliwon Disdikbud, dengan kisah percintaan "Pranacitra dan Rara Mendut". Dalam penampilan keduanya mereka lebih fokus berlatih pendalaman karakter, dan tata bahasa Jawa agar aura karakter yang diperankan semakin terpancar.
Batang - Pagelaran seni ketoprak kembali dipersembahkan puluhan pelajar SMPN 4 Batang dalam even Malam Jumat Kliwon Disdikbud, dengan kisah percintaan "Pranacitra dan Rara Mendut". Dalam penampilan keduanya mereka lebih fokus berlatih pendalaman karakter, dan tata bahasa Jawa agar aura karakter yang diperankan semakin terpancar.
Kepala SMPN 4 Batang Sri
Mulyatno mengatakan, selama beberapa bulan anak didik berlatih dengan fokus,
terlebih setelah diberikan kepercayaan untuk tampil kembali, setelah sukses
membawakan cerita Rara Jonggrang dan Bandung Bandawasa.
“Secara umum penampilan
anak-anak bagus, hanya saja terkendala teknis yang kurang maksimal, namun
penonton masih antusias dan bisa menangkap alur cerita yang disuguhkan,â€
katanya saat ditemui di Jalan Veteran Batang, Kabupaten Batang, Kamis (2/4/2026)
malam.
Ia berharap, anak didik
dapat meresapi peran yang dibawakan dan mampu mengambil pelajaran dari cerita
yang ditampilkan.
“Semoga kecintaan kepada
kesenian tradisional ini, karena jadi nilai positif bagi kita,†harapnya.
Sebagai generasi muda,
para pelajar SMPN 4 Batang memiliki kewajiban untuk melestarikannya, terlebih
dengan sarana gamelan yang ada.
Cerita yang ditampilkan
makin menarik, setelah kembali menampilkan Alifia Desma Kyoptaprama yang
berperan sebagai Rara Mendut dan Faiz Wirama Dhani sebagai Pranacitra serta
Ifanala sebagai Tumenggung Wiraguna.
Alifia mengungkapnya, kisah
percintaan dua sejoli yang diadopsi di era Sultan Agung mampu dibawakan secara
menarik hingga membuat penonton terhanyut dari cerita yang disuguhkan.
“Walaupun sedikit ada
rasa cemas, namun bisa ditampilkan dengan baik, termasuk saat membawakan cerita
dengan bahasa Jawa krama halus ala ketoprak,†ungkapnya.
Diakui, ketiganya
memerlukan waktu khusus untuk belajar berkomunikasi dengan bahasa Jawa krama
karena bahasa Jawa pada umumnya sedikit berbeda ketika dibawakan dalam
pergelaran ketoprak.
Sementara Faiz
menyampaikan, kami belajar sama memperhatikan secara detail, karena tata
bahasanya sedikit berbeda dari bahasa Jawa pada umumnya.
Kemanfaatan lain yang
dapat diperoleh yakni makin memahami bahasa Jawa, mampu membangun solidaritas
yang baik antar pemain.
“Yang pasti melatih
mental langsung ketika merasakan main di atas panggung dan ditonton banyak
orang,†ujar dia. (MC Batang, Jateng/Heri/Jumadi)