Batang Jalur Pantura Celapar, Kecamatan Subah, sempat berubah menjadi "kolam dadakan" pada Rabu 4 Februari 2026 sore. Namun, berkat aksi sigap tim gabungan yang dipimpin langsung oleh Camat Subah, kemacetan panjang berhasil dihindari sebelum malam memuncak.
Batang Jalur Pantura Celapar, Kecamatan Subah, sempat berubah menjadi "kolam dadakan" pada Rabu 4 Februari 2026 sore. Namun, berkat aksi sigap tim gabungan yang dipimpin langsung oleh Camat Subah, kemacetan panjang berhasil dihindari sebelum malam memuncak.
Genangan air setinggi
lutut orang dewasa mulai mengepung area cekungan, tepatnya di depan Indomaret
Celapar, sekitar pukul 16.30 WIB. Arus lalu lintas yang biasanya padat merayap
seketika tersendat karena kendaraan harus berjuang menembus air.
Temuan
Tak Terduga di Dasar Selokan
Menyadari ada yang
tidak beres, Camat Subah Muhammad Yasin, langsung turun ke lapangan. Kecurigaannya
terbukti saat petugas mengecek saluran drainase sedalam dua meter yang
membentang di pinggir jalan nasional tersebut. Bukan sekadar sampah plastik
biasa, petugas justru menemukan benda-benda yang tak seharusnya berada di sana.
“Penyumbatan drainase
itu banyak ranting-ranting pohon dan ada juga bekas ban. Itu yang membuat
aliran air tidak jalan,†katanya saat ditemui di Desa Clapar, Kecamatan Subah,
Kabupaten Batang, Rabu (4/2/2026) malam.
Kondisi air yang masih
tinggi memaksa tim gabungan memutar otak. Tak hanya mengandalkan tenaga manusia
untuk mengeruk sampah, pihak kecamatan segera berkoordinasi dengan Pemadam
Kebakaran (Damkar) untuk menyedot air menggunakan mesin alkon.
Bahkan, demi
mempercepat proses surutnya air yang terjebak di sisi utara jalan sepanjang 50
meter tersebut, petugas mengambil langkah darurat yang cukup ekstrem.
“Petugas mengambil
langkah darurat dengan melubangi (bobok) marka tengah jalan. Langkah ini dilakukan
agar air yang terjebak di sisi utara jalan bisa mengalir ke sisi selatan dan
mempercepat surutnya genangan,†jelasnya.
Kerja keras tim hingga
malam hari akhirnya membuahkan hasil. Setelah tumpukan ranting dan ban bekas
berhasil dievakuasi, Muhammad Yasin memastikan bahwa saluran drainase kini
sudah kembali berfungsi normal atau sudah kembali "plong".
“Meski arus lalu lintas
sempat tersendat karena kendaraan harus melambat, saat ini kondisi Jalur
Pantura Celapar sudah kembali kondusif dan dapat dilalui dengan kecepatan
normal,†ungkapnya.
Camat Subah pun
menitipkan pesan penting bagi warga maupun pengguna jalan: jangan jadikan
saluran air sebagai tempat sampah. Satu ban bekas saja sudah cukup untuk
membuat jalur vital nasional lumpuh. (MC Batang, Jateng/Edo/Jumadi)