Batang Di tengah riuhnya peringatan Harlah NU Satu Abad tingkat Jawa Tengah, ada pemandangan menarik di Kabupaten Batang. Di antara ribuan nahdliyin yang memadati lokasi, Bupati Batang M. Faiz Kurniawan tampak tenang menyingsingkan lengan baju untuk mendonorkan darahnya.
Batang Di tengah riuhnya peringatan Harlah NU Satu Abad tingkat Jawa Tengah, ada pemandangan menarik di Kabupaten Batang. Di antara ribuan nahdliyin yang memadati lokasi, Bupati Batang M. Faiz Kurniawan tampak tenang menyingsingkan lengan baju untuk mendonorkan darahnya.
Aksi
ini bukan sekadar seremoni. Bagi Faiz, donor darah adalah panggilan kemanusiaan
yang nyata, terutama mengingat banyaknya warga Batang, seperti penderita
Thalassemia, yang sangat bergantung pada ketersediaan stok darah.
“Ya,
menurut saya sih kegiatan yang positif dan ya kami berharap banyak masyarakat
yang ikut berpartisipasi dalam setiap kegiatan donor darah,†katanya usai
proses pengambilan darah di Pendapa Batang, Kabupaten Batang, Minggu (1/2/2026).
Ia
meyakinkan masyarakat bahwa berbagi darah tidak akan merugikan kesehatan.
Sebaliknya, hal itu adalah bentuk dukungan moral antar sesama. Insyaallah tidak
akan berkurang sedikit pun kalau kita donor darah. Malah tentu itu bagian dari
kemanusiaan kita sebagai sesama manusia untuk saling support satu sama lain.
Sementara
itu, Ketua Tanfidziyah PWNU Jawa Tengah KH Abdul Ghaffar Rozin atau yang akrab
disapa Gus Rozin, menyebut Batang adalah "titik temu" yang sempurna.
“Batang
lokasi secara geografis di tengah-tengah. Gampang dicapai dari ujung Jawa
Tengah mana pun, mulai dari Pantura sampai Pantai Selatan itu dekat. Yang
kedua, Bupatinya juga sahabat kita,†ungkapnya.
Memasuki
abad kedua, NU ingin memastikan kehadirannya tidak hanya terasa di
mimbar-mimbar pengajian, tetapi juga dalam urusan sosial yang mendesak. Hal ini
dibuktikan melalui Apel Kemanusiaan yang melibatkan Banom NU seperti Ansor,
Fatayat, IPNU, IPPNU, hingga Pagar Nusa.
Gus
Rozin menegaskan, bahwa NU harus hadir dalam setiap isu krusial, termasuk
penanganan bencana dan isu kemanusiaan lainnya.
“Kita
pengin NU ini lebih hadir secara riil di dalam denyut nadi dan nafas serta
isu-isu yang ada di masyarakat. Ini menunjukkan komitmen kita untuk peduli
kepada persoalan kemanusiaan juga kebangsaan pada abad yang kedua ini,â€
tegasnya.
Jika
siang hari diwarnai dengan aksi sosial yang bersifat "horizontal",
maka malam harinya para Nahdliyin akan diajak menempuh "jalur
langit". Rangkaian acara akan ditutup dengan istighotsah kubra untuk
memohon keberkahan bagi organisasi dan umat.
“Nanti
malam kita berdoa. Acara yang ketiga, istigasah. Itu secara transendental kita
berdoa agar NU ini senantiasa diberkahi dan selalu ada untuk Nahdliyin,†pungkasnya.
(MC Batang, Jateng/Edo/Jumadi)