Batang - Jumlah kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di Kabupaten Batang sepanjang 2025 tercatat mengalami penurunan signifikan dibandingkan tahun sebelumnya. Meski demikian, Dinas Kesehatan (Dinkes) Batang menegaskan kewaspadaan tetap ditingkatkan, seiring kondisi cuaca yang sulit diprediksi dan masih mendukung perkembangbiakan nyamuk Aedes aegypti.
Batang - Jumlah kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di Kabupaten Batang sepanjang 2025 tercatat mengalami penurunan signifikan dibandingkan tahun sebelumnya. Meski demikian, Dinas Kesehatan (Dinkes) Batang menegaskan kewaspadaan tetap ditingkatkan, seiring kondisi cuaca yang sulit diprediksi dan masih mendukung perkembangbiakan nyamuk Aedes aegypti.
Kepala Seksi Pencegahan
dan Pengendalian Penyakit Menular (P2PM) Dinkes Batang Suwandi mengatakan,
sepanjang Januari hingga Desember 2025 terdapat 558 warga yang menjalani
perawatan di rumah sakit dengan dugaan infeksi dengue. Dari jumlah tersebut, 80
orang dinyatakan positif DBD dan dua di antaranya meninggal dunia.
“Kalau yang positif Demam
Berdarah ada 80 orang. Dari 80 itu, dua orang meninggal dunia,†katanya saat
ditemui di Kantor Dinkes Batang, Kabupaten Batang, Jumat (9/1/2026).
Meski masih terdapat
kasus, Suwandi menyebut tren DBD di Batang menunjukkan penurunan tajam. Pada
2024, jumlah kasus DBD tercatat mencapai 176 kasus, sementara pada 2025 turun
lebih dari separuh.
“Dari 176 kasus di 2024,
turun menjadi 80 kasus di 2025. Jadi secara angka memang menurun. Namun,
penurunan tersebut tidak membuat petugas kesehatan lengah. Menurut Suwandi,
pola sebaran kasus kini berubah dan tidak lagi terfokus di wilayah pesisir
Pantura.
Sekarang sebarannya
merata. Tidak hanya di Pantura, daerah atas seperti Limpung dan Reban juga
sudah ditemukan kasus. Selain DBD, Dinkes Batang juga menerima laporan penyakit
lain yang ditularkan nyamuk.
“Beberapa wilayah,
seperti Babadan dan Krincing, dilaporkan terdapat kasus Chikungunya. Warga
Babadan bahkan telah mengajukan permohonan fogging secara tertulis dan
dijadwalkan akan dilaksanakan pada akhir pekan,†jelasnya.
Meski demikian, Suwandi
menegaskan fogging tidak dapat dilakukan tanpa dasar yang jelas. Ada prosedur
dan kriteria yang harus dipenuhi agar langkah tersebut efektif dan tidak
menimbulkan dampak jangka panjang.
“Fogging itu untuk
memutus penularan DBD. Kalau hanya laporan nyamuk banyak, kami tidak bisa
langsung melakukan fogging. Harus ada indikasi kasus DBD di wilayah tersebut,â€
tegasnya.
Ia mengingatkan, fogging
yang dilakukan tanpa dasar justru berpotensi menimbulkan resistensi insektisida
pada nyamuk. Kondisi ini dinilai berbahaya karena akan menyulitkan penanganan
jika terjadi Kejadian Luar Biasa (KLB).
Sementara itu, Kepala
Dinkes Batang Ida Susilaksmi menyoroti cuaca sebagai faktor utama yang
meningkatkan risiko perkembangbiakan nyamuk.
“Cuaca seperti sekarang
ini sangat disukai nyamuk Aedes. Panas, hujan, terang, berganti-ganti. Nyamuk
ini justru berkembang di genangan air bersih,†terangnya.
Ida mengingatkan bahwa
banyak tempat di sekitar rumah yang kerap luput dari perhatian, namun
berpotensi menjadi sarang nyamuk, seperti botol plastik bekas, ban bekas,
cekungan bambu, hingga tampungan air di belakang kulkas.
“Karena itu kami
mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kebersihan lingkungan dan rutin
melakukan PSN 3M Plus,†ujar dia.
Ia juga mengingatkan
kebiasaan sehari-hari yang sering dianggap sepele, seperti menggantung pakaian
di kamar atau jarang mengganti air minum burung, dapat meningkatkan risiko
penularan penyakit.
“Selain menjaga
lingkungan, daya tahan tubuh juga harus dijaga. Cuaca seperti ini mudah
menurunkan imunitas,†tandasnya
Meski hingga awal 2026
belum ada laporan resmi kasus DBD yang masuk ke Dinkes Batang, pemerintah
daerah berharap partisipasi aktif masyarakat tetap menjadi kunci utama
pencegahan, agar penurunan kasus DBD tidak sekadar tercatat dalam angka, tetapi
benar-benar dirasakan hingga tingkat rumah tangga. (MC Batang, Jateng/Roza/Sri
Rahayu)