Batang Meski ada penambahan armada pengangkut sampah di Kabupaten Batang, tantangan pengelolaan limbah warga rupanya belum sepenuhnya tuntas. Hingga saat ini, dari total 15 kecamatan yang ada, baru 12 kecamatan yang sanggup dicover oleh layanan Dinas Lingkungan Hidup (DLH).
Batang Meski ada penambahan armada pengangkut sampah di Kabupaten Batang, tantangan pengelolaan limbah warga rupanya belum sepenuhnya tuntas. Hingga saat ini, dari total 15 kecamatan yang ada, baru 12 kecamatan yang sanggup dicover oleh layanan Dinas Lingkungan Hidup (DLH).
Kepala
DLH Batang Rusmanto mengungkapkan, bahwa saat ini pihaknya mengandalkan puluhan
kendaraan untuk menyisir sampah di berbagai sudut wilayah.
“Untuk
sarana pengangkut sampah yang di Batang saat ini, jumlahnya itu ada dump
truck-nya ada 15. Kemudian untuk amroll-nya itu ada 4, kemudian pick-up-nya 4.
Jadi kita totalnya itu masih ada 23 armada,†katanya saat ditemui di kantornya,
Rabu (7/1/2026).
Jumlah
tersebut sebenarnya sudah mencakup pengadaan unit baru dari anggaran perubahan
tahun 2025. Namun, warga nampaknya harus sedikit bersabar untuk melihat truk
tambahan tersebut beraksi di jalanan.
“Kita
ada satu pengadaan armada truk, tapi memang belum kita fungsikan karena kita
masih nunggu untuk kelengkapan surat-menyuratnya yang resmi keluar. Jadi nanti
setelah kita lakukan KIR, STNK keluar, nanti di 2026 nanti baru akan kita
gunakan,†jelasnya.
Meski
mayoritas unit dalam kondisi laik jalan, Rusmanto tak menampik adanya kendala
pada fasilitas pendukung lainnya. Beberapa kontainer sampah di pul kini
mangkrak karena kerusakan parah. Alih-alih diperbaiki, DLH memilih berhitung
ulang soal efisiensi anggaran.
“Kontainer
itu ada beberapa yang memang sudah tidak bisa dimanfaatkan. Sementara kalau mau
kita rehab itu biayanya termasuk tinggi, jadi memang nilai ekonominya tidak
seimbang,†terangnya.
Tantangan
sesungguhnya bukan sekadar jumlah truk, melainkan volume sampah yang terus
menggunung. Setiap harinya, tak kurang dari 90 ton sampah masuk ke Tempat
Pembuangan Akhir (TPA). Beban ini tidak hanya dipikul oleh truk dinas, tetapi
juga dibantu oleh inisiatif desa.
“Ini
termasuk yang dikirim melalui armada teman-teman yang di pedesaan, kendaraan
sampah desa, termasuk beberapa yang sudah melakukan MoU dengan DLH,†ungkapnya.
Meski
armada terus dioptimalkan, keterbatasan jangkauan masih menjadi rapor merah.
Rusmanto mengakui bahwa distribusi layanan belum merata ke seluruh pelosok
Batang. Tiga kecamatan terpantau masih harus mengelola sampahnya secara mandiri
tanpa sentuhan armada dinas.
“Sementara
ini kita yang ter-cover dari 15 kecamatan itu masih ada 12 kecamatan. Untuk
yang belum kita cover itu yang dari Bawang, kemudian dari Pecalungan, kemudian
dari Wonotunggal. Itu memang angkutannya tidak menggunakan armada dari DLHâ€"
pungkasnya.
Persoalan
ini menjadi pekerjaan rumah besar bagi Pemkab Batang di tahun 2026, agar
pemeriksaan lingkungan dan pengangkutan sampah tak lagi tebang pilih wilayah.
(MC Batang, Jateng/Edo/Jumadi)