Batang - Memastikan kondisi tanah longsor yang terjadi Sabtu (31/12/2021) atau malam Tahun Baru hingga putus akses jalan Dukuh Pranten-Rejosari, Desa Pranten, Kecamatan Bawang.
Batang - Memastikan
kondisi tanah longsor yang terjadi Sabtu (31/12/2021) atau malam Tahun Baru hingga putus
akses jalan Dukuh Pranten-Rejosari, Desa Pranten, Kecamatan Bawang.
Bupati Batang bersama
Dandim 0736 Batang Letkol Yan Eka Putra dan Kapolres Batang AKBP M Irwan
Susanto meninjau lokasi longsoran tersebut dalam Kunjungan Kerja.
“Setalah kita cek tadi
memang agak rumit. Masalahnya, matrial longsor memutus jalan dan jembatan dari
Dukuh Pranten ke Dukuh Rejosari diperkirakan mencapai 1,7 juta kubik dengan
luasan tanahnya 2 hektar,†kata Bupati Batang Wihaji saat meninjau langsung di
Desa Pranten, Kecamatan Bawang, Kabupaten Batang, Senin (10/1/2022).
Adapun langkah-langkah
yang akan dilakukan. Pihaknya akan menyesuaikan rekomendasi dari Dinas Energi
dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Provinsi Jawa Tengah.
Namun, lanjut dia,
langkah daruratnya sesuai rapat dengan tokoh masyarakat desa meminta tetap ada
akses jalan. Maka solusinya memperbaiki jalan lama dengan menggunakan
Dana Desa (DD) untuk membuka akses ekonomi dan pendidikan.
“Jadi sambil melihat
cuaca pasti akan dibersihkan matrial dan perbaiki jalannya. Melihat longsoran
agak ngeri juga, karena ada potensi longsor susulan jika hujan turun dengan
intensitas tinggi secara terus menerus,†tegasnya.
Sementara itu, Kepala
Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Batang Ulul Azmi
mengatakan, dari hasil asesment Dinas ESDM Provinsi Jawa Tengah bahwa gerakan
tanah yang terjadi di Dusun Rejosari, Desa Pranten, Keçamatan Bawang, Kabupaten
Batang, bersifat aliran (flows) dengan arah menuju ke Barat Laut (N 340° E)
yang telah berlangsung lama dan mengalami percepatan saat musim hujan
dikarenakan terjadi infiltrasi air hujan ke dalam lereng.
“Sesuai hasil
pengukuran lapangan diperoleh jarak lebar pada mahkota longsor + 160 m dan pada
kaki longsor + 50 m, menyebabkan kerusakan berupa hilangnya jembatan yang
menghubungkan Desa Pranten dengan Desa Dieng Kulon, Kecamatan Batur, Kabupaten
Banjarnegara serta menyisakan turnpukan material hasil longsoran dalam jumlah
besar,†terangnya.
Wilayah yang mengalami
pergerakan tanah seluas 8,5 Ha dengan panjang 1.000 m. Kedalaman bidang
gelincir diperkirakan 20 meter, sehingga menyebabkan longsoran dengan volume
material 1,7 juta meter Jarak terdekat dengan permukiman warga 900
meter.
“Dari hasil rekomendasi
Dinas ESDM, kita akan membersihkan matrial yang menutup jalan, membuat jembatan
darurat dan memperbaiki pipa air bersih milik masyrarakat,†tandasnya
Namun demikaian,
langkah tersebut akan dilakukan setelah kondisi memungkinkan atau tidak ada
longsor susulan. Karena saat ini diprediksi ada longsoran susulan.
“Untuk mitigasi
vegetasi kita disarankan untuk memenanam penguat tebing dengan tanaman tegakkan
untuk penguat tebing. Karena kondisi tanah labil yang sejak dahulu sering
terjadi tanah longsor. Masyarakat yang pernah tinggal di bukit Sigemplong saat
ini pindah di dukuh Rejosari,†ujar dia. (MC Batang, Jateng/Edo/Jumadi)