Batang - Potensi tiap daerah yang beragam, membuat Komite Ekonomi Kreatif (Ekraf) mengajak para koordinator daerah (korda) untuk menjadikan sebuah tantangan agar para pelaku ekonomi kreatif tetap menghasilkan produk-produk unggulan yang inovatif dengan spesialisasi berbeda di tiap wilayah.
Batang - Potensi tiap daerah yang beragam, membuat
Komite Ekonomi Kreatif (Ekraf) mengajak para koordinator daerah (korda) untuk
menjadikan sebuah tantangan agar para pelaku ekonomi kreatif tetap menghasilkan
produk-produk unggulan yang inovatif dengan spesialisasi berbeda di tiap
wilayah.
Hal itu, sesuai arahan dari Bupati Batang Wihaji
yang mengharapkan masing-masing daerah memiliki keistimewaan yang berbeda,
sehingga tidak menimbulkan kesan meniru.
Ketua Komite Ekraf Batang Achmad Suroso mengatakan,
pihaknya telah berkoordinasi dengan masing-masing korda, agar mengarahkan para
pelaku Ekraf supaya memiliki produk yang tidak sama satu dengan lainnya.
“Kami sudah mengevaluasi supaya kreatif, namun tidak
sama dengan yang lain. Misalnya seni kriya, di Subah sudah luar biasa, sehingga
bisa mengangkat keunggulan Batang yang tidak dimiliki daerah lain,†katanya,
saat ditemui di Aula Kantor Bupati, Kabupaten Batang, Selasa (29/6/2021).
Di bidang kuliner, Lanjut dia, akan pengemasan dan
pengolahan yang berbeda, untuk menarik perhatian konsumen, sehingga mampu
meningkatkan perekonomian Kabupaten Batang.
“Olahan menu hasil laut yang dibuat berbeda dengan
yang lain, misalnya produk ikan yang diolah jadi pasta atau lainnya,
Penjualannya pun tidak bertatap muka, tapi memanfaatkan media sosial,â€
tuturnya.
Ia memastikan, diikutsertakannya kaum muda dalam
kepengurusan ini, menunjukkan bahwa mereka memiliki ide-ide cemerlang yang
dapat dituangkan untuk membantu perekonomian Kabupaten Batang meningkat.
“Kami memilih kaum muda yang sudah ber-Ekraf, yakni
memiliki potensi sebagai pengusaha. Contohnya Mas Bejo sudah berhasil dengan
produk olahan kayu menjadi seni kriya, ada pula Gasta yang mempunyai
kreativitas di bidang media sosial dan penjualan produk online,†tandasnya.
Pelaku seni kriya Bejo Prihatianto mengungkapkan,
pelaku ekonomi kreatif di masa pandemi ini memang dituntut untuk menunjukkan
kreativitasnya mengolah produk yang berbeda dan belum ada di pasaran, atau
mengubah sesuatu yang sudah ada menjadi sesuatu yang baru, supaya menarik daya
beli konsumen.
“Di Kabupaten Batang sendiri limbah kayu sangat
melimpah dan tidak terpakai. Nanti inovasi yang mau ditunjukkan, bisa lewat
komunitas saya untuk menggelar pameran seni kriya, lukisan dan pertunjukan.
Contoh produknya seperti kerajinan lukisan limbah kayu atau sandal kayu dan
lainnya,†jelasnya.
Hasil karya kami sudah merambah sampai Malaysia dan
Singapura. Sedangkan pamerannya masih di wilayah Yogyakarta dan Jakarta yang
melibatkan even-even dari pemerintah.
“Selama pandemi terjadi sedikit penurunan pada
beberapa produk kerajinan yang biasanya dipasarkan ke kota-kota besar. Ketika
pandemi kota wisata sepi pengunjung, jadi pemgaruhnya terasa,†ungkapnya.
Untuk mengatasinya, akan mengkolaborasikan
dengan teknologi informasi, yaitu menggelar pameran secara virtual. (MC Batang,
Jateng/Heri/Jumadi)