Batang - Komunitas Batang Coffee menggelar Manual Brew Competition di kafe Hingga, Limpung, Kabupaten Batang, Minggu (1462026). Kompetisi ini menjadi bagian dari upaya memperkuat edukasi kopi sekaligus membangkitkan kembali minat terhadap metode seduh manual (manual brew) di kalangan penggiat kopi.
Batang - Komunitas Batang Coffee menggelar Manual Brew Competition di kafe Hingga, Limpung, Kabupaten Batang, Minggu (14/6/2026). Kompetisi ini menjadi bagian dari upaya memperkuat edukasi kopi sekaligus membangkitkan kembali minat terhadap metode seduh manual (manual brew) di kalangan penggiat kopi.
Ketua Pelaksana Manual Brew Competition, Maaruf mengatakan, kegiatan tersebut merupakan agenda tahunan Komunitas Batang Coffee yang bertujuan merangkul para pegiat kopi, baik dari Kabupaten Batang maupun berbagai daerah lain di Indonesia.
“Kompetisi ini menjadi wadah silaturahmi sekaligus edukasi bagi para penggiat kopi, khususnya terkait manual brewing. Kami ingin kembali meningkatkan animo dan semangat belajar tentang teknik penyeduhan kopi secara manual,” jelasnya.
Ia menjelaskan, kompetisi tahun ini diikuti sebanyak 33 peserta dari berbagai daerah. Selain peserta dari Kabupaten Batang, sejumlah peserta datang dari luar daerah seperti Surabaya, Pemalang, Kendal, Banjarnegara, Temanggung, dan Pekalongan.
Menurut Maaruf, penyelenggaraan tahun ini berbeda dibanding sebelumnya. Jika pada tahun-tahun sebelumnya kegiatan komunitas kerap dipadukan dengan agenda coffee trip, kali ini Batang Coffee fokus menggelar kompetisi penuh bertajuk Full Manual Brewing Competition.
Ia menilai tren manual brew di Kabupaten Batang mengalami dinamika dalam beberapa tahun terakhir. Pada periode sebelum pandemi Covid-19, tepatnya sekitar tahun 2019, minat masyarakat terhadap kopi seduh manual dinilai sangat tinggi.
“Sebelum pandemi, manual brew sedang ramai-ramainya. Banyak teman-teman yang belajar menjadi cupping tester dan mendalami teknik penyeduhan manual. Namun, pada periode 2023 hingga 2025, tren tersebut sempat mengalami penurunan seiring meningkatnya popularitas minuman berbasis kopi susu dan olahan kopi modern lainnya,” terangnya.
Meski demikian, pada tahun 2026 pihaknya melihat adanya peningkatan minat kembali terhadap manual brew, tidak hanya di Kabupaten Batang tetapi juga di sejumlah wilayah Pantura seperti Pemalang dan Pekalongan.
“Awal tahun 2026 ini kami melihat tren manual brew mulai tumbuh lagi. Antusiasme mulai terlihat, baik di Batang maupun daerah Pantura lainnya,” ungkapnya.
Terkait kualitas kopi lokal, Maaruf menyebut komoditas kopi di Kabupaten Batang didominasi oleh jenis Robusta, meskipun terdapat pula kopi Arabika dalam jumlah terbatas. Dari sisi kualitas rasa dan hasil sortasi, kopi Batang memiliki daya saing yang baik dibanding daerah lain. Namun, tantangan terbesar masih berada pada proses pascapanen.
“Masih terdapat petani yang memanen kopi sebelum matang sempurna karena kekhawatiran terhadap risiko pencurian di kebun. Kondisi tersebut dinilai dapat memengaruhi kualitas hasil panen. Secara kualitas, kopi Batang tidak kalah. Tantangannya justru di pascapanen, terutama bagaimana memastikan buah kopi dipetik saat matang agar kualitas rasa tetap terjaga,” ujar dia.
Melalui kegiatan ini, Komunitas Batang Coffee berharap para barista generasi muda di Kabupaten Batang dapat terus menjaga komunikasi, mempererat jejaring, serta aktif berbagi pengetahuan seputar kopi. Selain itu, para pelaku usaha kopi juga diharapkan rutin melakukan cupping test untuk memahami karakter kopi yang disajikan, sehingga kualitas rasa dan aftertaste tetap terjaga.
“Kami berharap, generasi barista saat ini tidak hanya memahami cara menyeduh kopi di kafe, tetapi juga memahami proses perjalanan kopi dari hulu hingga hilir,” pungkasnya. (MC Batang, Jateng/Roza/Jumadi)