Munum kopi sudah menjadi rutinitas bagi penikmat kopi di Indonesia, walau minuman tersebut merupak minuman rakyat warisan nenek moyang, namun sekarang menjadi kebiasaan masyarakat minum di kedai kopi dan membuat kopi secara instant.
Tapi beda rasa kopinya ketika penikmat dan petani kopi meracik sendiri dan menyedunya, mungkin rasanya bermacama - macam, ada yang pait dan ada juga yang asin.
Untuk lebih memberikan edukasi kepadapa masyarakat dalam meracik dan menyedu, komunitas kopi Batang menggelar lomba lomba racik dan sedu kopi yang berlangsung di Halaman Rumah Dinas Bupati Batang Selasa, 3/10.
Ketua lomba racik dan sedu Kopi Weweko mengatakan, lomba tersebut merupakan jang edukasi bagai bagi masyarakat penikmat kopi dan yang utamanya bagi petani kopi.
" lomba ini sebenarnya untuk edukasi perani agar petani bisa berdaulat menciptakan dan membuat kopi yang enak, serta petani harus bisa merasakanya dengan teknik, cara - cara model dari Barista."kata Weweko.
Ia juga mengatakan dalam lomba tersebut ada kriteria penilaian yangvsalag satunya ukur kopinya, gilingan kopinya, kesopanan penyajian gelasnya dan yang paling menari ekspresi ketika minum kopi hasil racikanya.
"Kriteria penilaian yang menarik saat meminumnya karena akan kelihatan ekspresi penikmat kopi tanpa gula dengan rasa yang enak dan pahit ." Kata Weweko.
Dalam lomba tersebut peralatan dan kopi sudah di sediakan panitia, adapaun kopi yang di gunkan yaitu Robusta dari Desa Lobang Kecamatan Limpung dan kopi Arabika Desa Pacet Kecamatan Reban.
" Kita sengaja menggunakan kopi lokal untuk mengangkat produk unggulan kopi, karane dalam perlombaan tingkat nasional yang berlangsung di Bondowoso Jawa Timur kopi Batang menjadi jura II darai Desa Silurah." Katanya.
Salah satu peserta lomba Unggun yang menjafi sang juara mengatakan barau kali pertama mengiluti lomba, karna sudah menjadi kebiasaan menyedu kopi jadi tidak ada kesulitan.
" kami hanya menggunakan feeling saja cara menyedunya, karena sudah biasa minum kopi jadi tahu takaranya, dan ini menjadi pengalaman pertama kali ikut lomba dan jafi juara." Kata Unggun yang berdomisili di Desa Paskaran Batang.
Sementara darai hasil lomba tersebut diaraih juara satau Unggul dari Desa Paskaran Batang dengan skor 26 juara II EKO dari Magelang dengan skor 25 dan juara III Nasikhin dari Limpung yang mengantongi skor 24.(Edo/McBatang)
Batang - Pesta Rakyat Batang Bahagia dalam rangka Hari Ulang Tahun Ke-60 Kabupaten Batang berlangsung meriah dengan penampilan NDX AKA di Lapangan Dracik Kampus, Kabupaten Batang, Jumat (1042026) malam.
Batang - Ribuan warga memadati Lapangan Kampus Dracik, Kabupaten Batang, dalam kegiatan Fun Walk yang digelar untuk memeriahkan Hari Ulang Tahun Ke-60 Kabupaten Batang, di Lapangan Dracik Kampus, Kabupaten Batang, Jumat (1042026).
Batang - Pemerintah Kabupaten Batang mencatatkan dua rekor sekaligus di Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) dalam rangka Peringatan Hari Ulang Tahun Ke-60 Kabupaten Batang, di Lapangan Dracik Kampus, Kabupaten Batang, Jumat (1042026).
Batang Kabupaten Batang baru saja mengukir tinta emas tepat di hari jadinya yang Ke-60. Tidak tanggung-tanggung, dua rekor dunia sekaligus berhasil disabet dalam sehari, mengubah momentum perayaan menjadi panggung apresiasi nasional yang luar biasa.
Batang Arus digitalisasi yang tak terbendung kini menemui titik balik di Kabupaten Batang. Menyusul berlakunya sisi operasional PP Nomor 17 Tahun 2025 pada Maret 2026 ini, Pemerintah Kabupaten Batang melalui Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) secara tegas mengambil ancang-ancang untuk memperketat penggunaan media sosial dan gadget bagi anak-anak.
Batang Siapa sangka, limbah dapur yang biasanya berakhir di saluran air kini menjelma menjadi pundi-pundi rupiah di Kabupaten Batang. Hanya dalam waktu delapan bulan, Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (TP PKK) Kabupaten Batang berhasil membuktikan bahwa minyak goreng bekas alias jelantah memiliki potensi ekonomi yang menggiurkan dengan omzet mencapai Rp63 juta.