Batang - Hasil rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) jenjang SMP di Kabupaten Batang menjadi perhatian berbagai pihak. Pasalnya, rerata nilai Bahasa Indonesia tercatat berada di angka 60, sementara Matematika masih relatif rendah dengan rata-rata sekitar 40.
Batang - Hasil rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) jenjang SMP di Kabupaten Batang menjadi perhatian berbagai pihak. Pasalnya, rerata nilai Bahasa Indonesia tercatat berada di angka 60, sementara Matematika masih relatif rendah dengan rata-rata sekitar 40.
Kepala SMPN 2 Bandar Dinok Sudiami menilai, evaluasi pelaksanaan TKA perlu dilakukan agar sekolah dan siswa dapat lebih siap menghadapi pelaksanaan tes pada tahun-tahun berikutnya. Hal tersebut disampaikan usai kegiatan Dies Natalis Ke-35 SMP Negeri 2 Bandar, di halaman SMPN 2 Bandar, Kabupaten Batang, Rabu (3/6/2026).
Menurutnya, pihak sekolah sebenarnya telah berupaya memberikan pembinaan dan pelatihan kepada siswa sebelum pelaksanaan TKA. Namun, hasil numerasi masih menjadi tantangan yang perlu mendapat perhatian bersama.
“Kami sudah berusaha semaksimal mungkin. Anak-anak tidak langsung mengikuti TKA begitu saja, tetapi sudah kami latih dan bimbing. Namun untuk numerasi memang hasilnya masih kurang maksimal,” jelasnya.
Dinok menyebut, kondisi rendahnya nilai numerasi tidak hanya dialami sekolahnya, tetapi juga terjadi di sejumlah sekolah lain. Di SMPN 2 Bandar, capaian tertinggi numerasi masih berada di angka 60, sedangkan nilai literasi mencapai 96,67.
“Kami melihat numerasi ini menjadi tantangan hampir di semua sekolah. Karena itu perlu ada evaluasi bersama agar hasilnya lebih baik,” ungkapnya.
Ia berharap, pemerintah dapat memberikan kepastian kebijakan terkait TKA apabila nantinya dijadikan program wajib atau pengganti sistem evaluasi nasional sebelumnya. Dengan kepastian tersebut, sekolah dapat menyusun program persiapan yang lebih matang.
“Kalau memang ini menjadi program pemerintah dan diwajibkan, sebaiknya dipersiapkan secara maksimal sejak awal. Jadi sekolah punya program khusus agar siswa lebih siap dan hasilnya bisa lebih optimal,” tegasnya.
Dinok juga mengaku, pada awal pelaksanaan TKA pihak sekolah sempat mengalami kendala penyesuaian karena informasi awal bersifat opsional. Namun dalam pelaksanaannya terdapat berbagai ketentuan tambahan sehingga sekolah harus bergerak cepat menyiapkan siswa.
Meski demikian, ia menegaskan sekolah tetap berkomitmen meningkatkan kualitas pembelajaran dengan memperkuat potensi dan sumber daya yang dimiliki.
“Yang penting kita terus berusaha semaksimal mungkin. Sumber daya yang ada kita kuatkan agar siswa-siswi bisa lebih siap menghadapi tantangan pendidikan ke depan,” pungkasnya. (MC Batang, Jateng/Roza/Jumadi)