BATANG- Berdirinya sumber enegi listrik
dengan tenaga Uap atau PLTU 2x1000 MW di Kabupaten Batang belum bisa di manfaatkan secara maksimal oleh
Masyarakat Batang, sehingga untuk daya saing masih kelah dengan Kabupaten
tentangga, padahal kita punya SDA (Sumber Daya Alam ) yang luar bisa.
Hal tersebut di sampaikan oleh Kepala
Bapelitbang Kabupaten Batang Sabino Suwondo dalam Kajian Lingkungan Hidup
Strategis yang berlangsung di Aula Kantor Bupati Setempat Jumaat, 8/9. “ Batang
untuk mendapatkan hotel yang berbintang lima saja tidak ada, adanya hotel
berbintang tiga yaitu Sendang Sari, sehingga daya saing Batang kalah dengan
Pekalongan, untuk itu kita akan mencari solusi untuk menarik orang – orang
asing yang kerja di PLTU yang berada di hotel Pekalongan untuk bisa pindah di
Batang.” Kata Sabino Suwondo
Untuk meningkatkan daya saing,
pemerintah daerah selain menggenjot pembinaan sumber daya manusia yang berdaya
saing, pemkab juga berusaha memanfaatkan
keberdaan jalan tol yang melintasi Batang untuk meminta Resda ( Rest Area
Daerah ) yang di kelola Pemerintah Kabupaten, sehingga orang pengguna jalan tol
bisa membeli produk – produk hasil ekonomi kreatif Kabupaten Batang.
“ Pemerintrah juga sudah memiliki
langkah –langkah lain untuk meningkatka daya saing dengan merubah RTRW (
Rencana Tata Ruang Wilayah ) yang memungkinkan investor masuk yang sudah kita
siapkan lokasi investasi, Lokasi Perumahan atau pemukiman, kawasan industri dan jasa, serta permudah
perijinan sepanjang sesuai dengan peruntukannya.” Jelas sabino
Ia juga mengatakan, untuk mencari solusi
dalam meningkatkan daya saing Bappelitbang juga membentuk Forum Konsulatsi
Publik dalam kajian lingkungan hidup strategis yang akan kita masukkan dalam
RPJMD. Kajian tersebut membahas isu –
isu trategis yang bekerjasama dengan UNDIP dan di dampingi oleh konsultan dari
Negara Denmark.
“Kajian lingkungan hidup strategis di harapkan agar pembangunan dapat berkelanjutan dan
saling sinergi seiring bersama meningkatkanya ekonomi yang berdaya saing tinggi
selama lima tahun kedepan, sehingga masyarakat yang memiliki kepentingan
pembangunan bisa memberikan masukan di kajian Analisa Startegis Lingkungan Hidup
ini .” Katanya.
Sabino Suwondo juga mengatakan, dalam
kajian ini memfokuskan 7 permasalahan yaitu, tingginya alih fungsi lahan, pelayanan kesehatan, kurangnya infrastruktur
yang memadai, rendahnya kegiatan usaha
yang mendorong pertumbuhan ekonomi desa, kemiskinan dan pengangguran, kerusakan
lingkuan dan pencemaran lingkungan. ( EDO / MC )