Batang Puluhan hektare lahan di kawasan pesisir Kabupaten Batang yang dulunya tenggelam dan mangkrak akibat hempasan rob, kini bersiap 'hidup' kembali. Pemerintah Kabupaten Batang meluncurkan strategi baru untuk membangkitkan perekonomian warga pesisir lewat budidaya ikan nila salin.
Batang – Puluhan hektare lahan di kawasan pesisir Kabupaten Batang yang dulunya tenggelam dan mangkrak akibat hempasan rob, kini bersiap 'hidup' kembali. Pemerintah Kabupaten Batang meluncurkan strategi baru untuk membangkitkan perekonomian warga pesisir lewat budidaya ikan nila salin.
Dari total 127 hektare lahan berstatus "lahan biru" atau kawasan perikanan yang terbentang dari Kesepuhan hingga Denasri Wetan dan Denasri Kulon, pemerintah memilih mengeksekusinya secara bertahap.
“Potensi di sana untuk lahan-lahan yang lahan biru, khususnya lahan untuk perikanan, itu sekitar 127 hektare. Itu harapannya bisa kita kembangkan,” kata Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (Dislutkan) Kabupaten Batang Budhi Santosa saat ditemui di Kantornya, Selasa (29/9/2026).
Langkah konkret ini diawali dari kolaborasi bersama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) melalui uji coba (demplot) bio salin dan nila salin. Maka, ini dalam rangka menindaklanjuti kegiatan dengan BRIN, yaitu demplot bio salin dan nila salin. Selanjutnya kita akan bersiap ke depannya untuk melanjutkan program tersebut, yaitu pengembangan nila salin di daerah-daerah yang dulu terdampak rob.
Mengapa Harus Nila Salin
Pemilihan nila salin bukan tanpa alasan. Komoditas ini dikenal memiliki daya tahan tinggi di air payau, proses budidaya yang tidak rumit, serta masa panen yang relatif singkat. Nila itu lebih gampang, teknologinya sederhana. Di samping itu, perputarannya pun tergolong cepat. Hanya dalam kurun waktu sekitar tiga bulan, ikan sudah siap dipanen dan masuk ukuran konsumsi pasar.
“Kalau di sana itu tiga bulan sudah bisa dipanen. Kemarin umur 90 hari saja sudah besarannya 200 gram. Kalau untuk konsumsi itu kan 250 gram, berarti satu kilo isinya empat. Itu sangat sesuai untuk satu kali konsumsi untuk lauk satu orang,” jelasnya.
Ia pun optimis terhadap nilai ekonomi komoditas ini bagi warga lokal. Kalau untuk hasil, insyaAllah tidak kalah dengan padi.
Kesepuhan Jadi Garis Start
Sebagai langkah awal, Dislutkan Batang membidik kawasan Kesepuhan dengan menggarap sekitar 5 hektare lahan yang dikelola langsung oleh kelompok pembudidaya setempat. Kesepuhan dipilih lantaran kondisi rob di area tersebut cenderung lebih bersahabat.
“Namun yang tahap awal kita menggarap yang agak lebih ringan ini daerah Kesepuhan. Kesepuhan itu rob-nya relatif bisa dikendalikan. Program ini mengusung skema kolaborasi. Pemerintah berfokus menyalurkan bantuan benih serta pendampingan teknis, sementara masyarakat mengelola lahannya,” terangnya.
Itu non-program. Itu kita kerja sama dengan pelaku budidaya sana. Mereka yang mengusahakan, kita hanya bantuan benih saja. Dan mereka juga antusias. Kita sekitar 5 hektare mungkin, mau kita bantu dulu 5 hektare beberapa kelompok di situ. Nah, kita bantu benih ikan nila salin. Bantuan benih tersebut ditargetkan sudah bisa direalisasikan pada Oktober 2026.
Adopsi Jurus Sidoarjo dan Pemalang
Demi meminimalkan risiko kegagalan, Dislutkan Batang menyerap ilmu dari daerah lain yang sukses membudidayakan komoditas serupa, seperti Sidoarjo dan Pemalang. Dari Sidoarjo, Batang mempelajari keberhasilan sistem tumpangsari nila salin dengan ikan bandeng.
“Daerah Sidoarjo itu tambaknya memang tidak terdampak rob, itu bagus, berhasil. Sekitar 50 hektare di sana. Memang tumpangsari dengan bandeng di Sidoarjo itu lumayan bagus. Sementara itu, ancaman banjir rob yang kerap membuat ikan hanyut diantisipasi dengan meniru trik jaring pelindung dari Pemalang,” ujar dia.
Modelnya nanti kita lakukan jaring keliling, di sekitar kolam. Biar nanti kalau ada bencana rob, ikannya tidak hilang. Kita sudah pernah studi ke Pemalang. Pemalang sudah dijalankan itu, lahan-lahan yang terkena dampak rob dikasih jaring-jaring, hasilnya bagus juga.
Mengembalikan Asosiasi Penghasilan Warga Pesisir
Hadirnya budidaya ini diharapkan mampu mengakhiri masa "mati suri" lahan-lahan tambak yang terendam rob selama bertahun-tahun. Sehingga lahan-lahan yang mangkrak, yang tidak berfungsi selama enam tahun lebih itu ada penghasilan untuk para petani atau pembudidaya.
“Semoga bisa dikembangkan lebih lanjut sampai dengan Denasri Wetan, Denasri Kulon. Sambil kita melakukan upaya dengan berbagai pihak agar bisa dikendalikan laju rob tersebut tidak terlalu dalam,” pungkasnya. (MC Batang, Jateng/Edo/Jumadi)