Batang Kehadiran Kawasan Industri Terpadu Batang (KITB) di wilayah Kecamatan Gringsing diprediksi akan mengubah wajah perekonomian daerah secara drastis pada pertengahan 2027 mendatang. Namun, sebuah peringatan keras justru ditiupkan oleh Camat Gringsing Ridho Budhi Kurniawan.
Batang – Kehadiran Kawasan Industri Terpadu Batang (KITB) di wilayah Kecamatan Gringsing diprediksi akan mengubah wajah perekonomian daerah secara drastis pada pertengahan 2027 mendatang. Namun, sebuah peringatan keras justru ditiupkan oleh Camat Gringsing Ridho Budhi Kurniawan.
Ia meminta warganya untuk tidak sekadar menjadi penonton di tanah sendiri. Ridho mengibaratkan potensi besar ini seperti lumbung padi yang melimpah. Ia sangat berharap masyarakat lokal tidak bernasib malang akibat pasif menghadapi perubahan zaman.
“Jangan sampai jadi tikus yang mati di lumbung padi. Jadi, peribahasa ini menurut kami pas untuk warning bagi masyarakat Gringsing. Peluang ekonomi yang dibawa oleh KITB sangatlah besar. Keuntungan tersebut tidak melulu harus didapat dengan menjadi karyawan atau buruh yang terlibat langsung di dalam pabrik kawasan industry,” katanya saat ditemui di Kantornya, Jumat (29/5/2026).
Sebagai wilayah penyangga, masyarakat Gringsing dituntut kreatif dalam membuka berbagai usaha baru, terutama di sektor jasa pendukung. Kalau menurut kami di sektor jasa. Jadi, mungkin dari segi kuliner, laundry, terus makanan, catering, dan lain sebagainya, kami rasa kos-kosan juga pasti, eh tukang cukur, dan lain sebagainya. Jadi, menurut kami sangat peluangnya sangat terbuka lebar," paparnya merinci peluang bisnis yang bisa digarap warga.
“Dampak nyata geliat ekonomi KITB saat ini sudah mulai terasa dari sektor properti. Bahwa nilai jual tanah di wilayah Gringsing mengalami lonjakan yang sangat signifikan, berbanding lurus dengan pertumbuhan kondisi ekonomi setempat,” jelasnya.
Ridho menyebut bahwa harga tanah dulu berkisar antara Rp200 ribu hingga Rp300 ribu per meter persegi untuk lahan yang agak masuk ke area pedesaan. Harga sekarang melonjak naik hampir dua hingga tiga kali lipat.
“Sekarang ya bisa sampai minimal di rate harga Rp1 juta, Rp1,5 juta sampai Rp2 juta manakala di tempat yang strategis. Meski secara data urban belum tercatat angka pasti mengenai gelombang pendatang dari luar daerah,” terangnya.
Ridho mengamati bahwa masyarakat dari wilayah tetangga justru menunjukkan pergerakan yang jauh lebih agresif. Mereka dinilai lebih sigap dalam menangkap peluang bisnis di sekitar Gringsing.
Melihat fenomena tersebut, Ridho meminta warganya untuk segera berbenah dan mengubah pola pikir mindset agar investasi besar ini tidak menguap dan dinikmati oleh orang luar saja.
“Jangan sampai nanti setelah eh KITB berjalan lancar, eh peluang investasinya besar, ditangkap oleh daerah lain, oleh masyarakat dari luar Gringsing, ini menurut kami akan sangat merugikan,” tegasnya.
Sebenarnya, keterlibatan warga asli Gringsing di KITB saat ini sudah cukup banyak. Masalahnya tinggal pada kemauan dan keberanian untuk bertindak tanpa terlalu banyak memilah-milih kesempatan.
“Jangan sampai kita itu terlalu pilah-pilih tapi tidak ada action yang pasti untuk kelangsungan masa depan kita. Ya, harapannya eh mari kita fokus untuk pengembangan ekonomi pribadi ataupun keluarga yang ada di Gringsing,” pungkasnya. (MC Batang, Jateng/Edo/Jumadi)