Batang Sejumlah desa di Kabupaten Batang kini tengah menunjukkan taringnya dalam urusan kemandirian lingkungan. Di tengah peliknya persoalan limbah, desa-desa ini berhasil mengelola sampahnya secara mandiri. Kini, mereka tinggal menunggu realisasi janji manis berupa reward finansial dari Bupati Batang M. Fais Kurniawan.
Batang – Sejumlah desa di Kabupaten Batang kini tengah menunjukkan taringnya dalam urusan kemandirian lingkungan. Di tengah peliknya persoalan limbah, desa-desa ini berhasil mengelola sampahnya secara mandiri. Kini, mereka tinggal menunggu realisasi janji manis berupa reward finansial dari Bupati Batang M. Fais Kurniawan.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Batang Rusmanto mengakui, bahwa tantangan terbesar saat ini adalah mengubah pola pikir warga. Hingga kini, kesadaran untuk memisahkan sampah dari rumah tangga masih tergolong minim.
“Kelemahan kita yang di Kabupaten Batang ini, kesadaran dari masyarakat untuk melakukan pilah sampah itu masih rendah,” katanya saat ditemui di Kantonya, Kamis (7/5/2026).
Padahal, menurut Rusmanto, jika pemilahan dilakukan sejak dari dapur warga, beban Tempat Pembuangan Akhir (TPA) akan berkurang drastis. Berdasarkan data DLH, sekitar 60 persen sampah yang menumpuk di TPA justru merupakan sampah organik yang sebenarnya bisa diolah di tingkat desa.
“Meski kesadaran umum masih rendah, beberapa titik di Kabupaten Batang sudah menjadi oase keberhasilan. Rusmanto membeberkan sejumlah wilayah yang sudah memiliki Tempat Pengolahan Sampah Reduce-Reuse-Recycle (TPS3R) yang aktif beroperasi,” jelasnya.
Beberapa wilayah yang tercatat sudah berjalan dengan baik antara lain:
* Kecamatan Batang: Desa Kalipucang Wetan.
* Kecamatan Reban: Sudah mulai konsisten mengelola limbah.
* Kecamatan Limpung & Banyuputih: Menjadi pionir pengelolaan sampah mandiri di wilayahnya.
“Meski sudah bekerja keras menjaga kebersihan wilayah, para pengelola sampah di desa-desa tersebut rupanya belum mencicipi bonus atau reward finansial yang sempat dijanjikan pemerintah daerah. Kalau sementara sampai saat ini belum (mendapatkan reward),” terangnya.
Kendati demikian, pihak DLH berharap janji tersebut segera terealisasi. Kehadiran apresiasi berupa bantuan dana atau insentif dari Bupati diharapkan menjadi "bahan bakar" baru bagi desa-desa lain untuk ikut bergerak.
“Mudah-mudahan nanti dengan adanya reward dari Pak Bupati ini bisa memicu teman-teman dari desa itu untuk bisa melakukan pengelolaan sampah secara mandiri di masing-masing desa,” ujar dia.
Jika janji ini ditepati, bukan tidak mungkin Batang akan menjadi kabupaten dengan sistem pengelolaan sampah berbasis desa terbaik, di mana sampah tak lagi berakhir jadi masalah, melainkan berkah. (MC Batang, Jateng/Edo/Jumadi)