Batang - Musyawarah Cabang (Muscab) PKB Kabupaten Batang hari itu berubah menjadi panggung pemaparan visi besar bagi masa depan daerah. Kalau melihat posisi geografis di peta Pulau Jawa, Kabupaten Batang sebenarnya menyimpan raksasa yang sedang bangun dari tidurnya.
Batang - Musyawarah Cabang (Muscab) PKB Kabupaten Batang hari itu berubah menjadi panggung pemaparan visi besar bagi masa depan daerah. Kalau melihat posisi geografis di peta Pulau Jawa, Kabupaten Batang sebenarnya menyimpan raksasa yang sedang bangun dari tidurnya.
Hal itulah yang ditegaskan oleh Bupati Batang, M. Faiz Kurniawan, saat hadir di tengah para kader partai berlambang bola dunia tersebut di Hotel Dewi Ratih Batang, Kabupaten Batang, Senin (20/4/2026).
Di hadapan audiens, Bupati Faiz tidak hanya membawa retorika, tetapi juga deretan angka yang menunjukkan tren positif. Ia membeberkan bahwa ekonomi Batang saat ini tumbuh melesat di angka 7,7 persen, sebuah capaian yang menempatkan Batang sebagai salah satu yang terbaik di Jawa Tengah.
“Geliat ekonomi ini berbanding lurus dengan serapan tenaga kerja yang telah menyentuh angka 80 ribu orang. Tak berhenti di situ, kualitas hidup masyarakat yang tercermin dalam Indeks Pembangunan Manusia (IPM) kini nangkring di angka 77,1, membawa Batang masuk dalam jajaran lima besar se-Provinsi Jawa Tengah,” jelasnya.
Kalau melihat posisi geografis di Jawa, Batang seharusnya bisa menjadi daerah yang kuat, bahkan ‘adidaya’. Kami sedang menuju ke sana, meski dilakukan secara bertahap melalui kerja jangka panjang.
Faiz menyadari bahwa pencapaian ini adalah hasil kolaborasi, termasuk produk kebijakan seperti Perda Investasi yang digodok bersama DPRD. Namun, ia dengan jujur mengakui bahwa perjalanan masih panjang.
“Persoalan infrastruktur, pendidikan, hingga kesejahteraan tetap menjadi "pekerjaan rumah" yang harus diselesaikan secara kontinu,” tegasnya.
Ia juga menekankan, bahwa keberlanjutan adalah kunci dalam memimpin sebuah daerah. Menurutnya, tidak ada "tongkat ajaib" yang bisa menyelesaikan semua masalah dalam sekejap.
“Pembangunan tidak pernah berhenti. Setiap pemimpin pasti melanjutkan, karena tidak mungkin semua persoalan selesai dalam satu periode,” jelasnya.
Dalam gaya bertutur yang lugas, Faiz juga menyoroti pentingnya peran aktif pemerintah dalam melakukan rekayasa sosial. Ia meyakini bahwa pemerintah tidak boleh sekadar menjadi penonton dalam dinamika ekonomi.
“Kalau negara diam, pembangunan tidak akan terjadi. Apalagi kalau dibiarkan, masyarakat yang lemah bisa semakin tertinggal,” terangnya.
Meski mengakui bahwa menjadi pejabat publik di era keterbukaan informasi ini penuh tantangan dan sorotan tajam, Faiz menganggap hal tersebut sebagai vitamin bagi demokrasi untuk membentuk karakter sosial yang lebih kuat.
Faiz juga berpesan, kolaborasi bagi seluruh elemen masyarakat. Bagi Faiz, mewujudkan Batang sebagai daerah "Adidaya" bukan hanya tugas bupati, melainkan kerja kolektif.
“Kami pemerintah daerah tidak bisa bekerja sendiri. Mari kita ikhtiarkan bersama untuk mewujudkan Batang versi terbaik,” pungkasnya. (MC Batang, Jateng/Edo/Jumadi)