Batang Arus digitalisasi yang tak terbendung kini menemui titik balik di Kabupaten Batang. Menyusul berlakunya sisi operasional PP Nomor 17 Tahun 2025 pada Maret 2026 ini, Pemerintah Kabupaten Batang melalui Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) secara tegas mengambil ancang-ancang untuk memperketat penggunaan media sosial dan gadget bagi anak-anak.
Batang – Siapa sangka, limbah dapur yang biasanya berakhir di saluran air kini menjelma menjadi pundi-pundi rupiah di Kabupaten Batang. Hanya dalam waktu delapan bulan, Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (TP PKK) Kabupaten Batang berhasil membuktikan bahwa minyak goreng bekas alias jelantah memiliki potensi ekonomi yang menggiurkan dengan omzet mencapai Rp63 juta.
Pencapaian ini bukan sekadar soal angka di atas kertas. Langkah inovatif ini resmi mencatatkan sejarah baru dalam Rekor MURI untuk pengumpulan minyak jelantah terbanyak dengan total mencapai 10.000 liter.
Menariknya, gerakan ini sejalan dengan visi Presiden Prabowo Subianto yang mendorong pemanfaatan minyak jelantah sebagai bahan bakar pesawat ramah lingkungan (bioavtur).
Perjalanan menuju rekor ini tidaklah instan. Ketua TP PKK Batang Faelasufa Faiz Kurniawan, mengisahkan bagaimana timnya bergerak "gerilya" untuk mengubah pola pikir masyarakat tentang limbah.
“Awalnya program ini hanya bergerak di skala kecil dengan bergerak dari rumah ke rumah, warung ke warung, dan gerobak makanan ke gerobak makanan untuk mengedukasi tentang bahaya minyak jelantah bagi lingkungan,” katanya usai menerima piagam Rekor MURI di Lapangan Dracik Kampus, Kabupaten Batang, Jumat (10/4/2026).
Faelasufa menegaskan, bahwa meski fokus awalnya adalah menjaga ekosistem, manfaat ekonomi yang menyertainya ternyata sangat nyata bagi masyarakat.
“Sistem yang dibangun PKK Batang tergolong sederhana namun efektif. Mereka bersedia membeli minyak jelantah dari warga dengan harga Rp7 ribu per liter. Limbah yang terkumpul kemudian disalurkan ke penyedia jasa (supplier) untuk diolah kembali menjadi sesuatu yang luar biasa,” jelasnya.
Nantinya oleh supplier akan digunakan untuk bahan bakar pesawat yang ramah lingkungan pengganti avtur. Langkah ini sekaligus memberikan apresiasi tinggi kepada para ASN, PPPK, hingga tenaga honorer yang ikut andil dalam pengumpulan massal tersebut.
“Tahun ini, PKK Batang semakin tancap gas. Mereka mulai menggandeng mitra strategis seperti Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di seluruh kabupaten dan bekerja sama dengan Perusahaan Daerah (Perusda),” terangnya.
Potensinya pun tidak main-main. Menurut Setyo Prabowo Ketua Pokja Dinas LHK Provinsi Jawa Tengah, satu titik SPPG rata-rata bisa menghasilkan 50 hingga 60 liter minyak jelantah setiap harinya. Bagi Faelasufa, ini adalah perwujudan nyata dari konsep ekonomi sirkuler.
“Misalkan, SPPG yang minyak jelantahnya dibuang itu kan akan terputus, tapi jika minyak jelantahnya dijual dan dimanfaatkan menjadi bahan bakar pesawat, maka itu merupakan salah satu contoh ekonomi sirkuler yang positif,” ujar dia.
Melalui gerakan ini, ibu-ibu PKK di Batang tidak hanya berhasil menyelamatkan lingkungan dari pencemaran, tetapi juga menciptakan ekosistem ekonomi baru yang berkelanjutan. Sebuah bukti nyata bahwa "cuan" bisa datang dari mana saja, bahkan dari tetesan minyak bekas di dapur rumah tangga. (MC Batang, Jateng/Edo/Jumadi)