Batang - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Batang terus melakukan penanganan dampak tanah longsor yang terjadi di Dusun Rejosari, Desa Pranten, Kecamatan Bawang.
Batang - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Batang terus melakukan penanganan dampak tanah longsor yang terjadi di Dusun Rejosari, Desa Pranten, Kecamatan Bawang.
Kepala Bidang Kedaruratan
dan Logistik BPBD Batang Muhammad Fajri mengatakan, longsor dipicu cuaca
ekstrem berupa hujan lebat disertai angin kencang yang membuat material tebing
menjadi labil.
“Material tanah menjadi
basah dan tidak kuat menahan beban, sehingga terjadi longsor yang berdampak
langsung ke permukiman warga,†katanya saat ditemui di Kantor BPBD Batang, Kabupaten
Batang, Selasa (27/1/2026).
Akibat kejadian tersebut,
dua rumah warga terdampak langsung. Satu rumah dilaporkan hancur total,
sementara satu rumah lainnya mengalami kerusakan sebagian. Selain itu, terdapat
sedikitnya 14 rumah lain di sekitar lokasi yang kini berada dalam kondisi
terancam karena posisinya dekat dengan tebing rawan longsor.
“BPBD mencatat hampir 700
warga telah mengungsi ke lokasi yang lebih aman untuk menghindari risiko
longsor susulan. Sebanyak 259 warga mengungsi ke rumah kerabat di wilayah
Dieng, sementara 430 warga lainnya bertahan di pengungsian yang berada di
wilayah Desa Pranten, tepatnya di Dusun Macet,†jelasnya.
Mereka kami arahkan ke
tempat yang dinilai lebih aman sambil terus memantau kondisi di lapangan. Dalam
penanganan darurat, BPBD bersama lintas sektor telah menyalurkan berbagai
bantuan logistik untuk memenuhi kebutuhan dasar pengungsi.
Fajri menyebutkan, bantuan
tersebut meliputi ada 6 selimut, 5 kasur lipat, 5 matras, serta 5 higiene kit.
Selain itu, BPBD juga menyerahkan satu unit gergaji mesin (chainsaw) baru
kepada pemerintah desa untuk membantu penanganan material pohon dan kayu di
lokasi terdampak.
“Memang banyak wilayah
yang membutuhkan peralatan seperti ini, tetapi Desa Pranten saat ini sangat
mendesak, sehingga kami koordinasikan dan kirimkan satu unit baru. Dapur umum
juga telah didirikan di balai desa yang dikelola secara mandiri oleh warga
bersama relawan,†ungkapnya.
Fajri menambahkan,
pemerintah daerah sebenarnya sudah merencanakan relokasi bagi 10 rumah di
kawasan rawan tersebut sejak sekitar tiga tahun lalu. Namun, saat itu baru dua
keluarga yang bersedia pindah.
“Pasca kejadian ini, kami
akan kembali berdiskusi dengan warga agar relokasi bisa direalisasikan demi
keamanan jangka panjang,†pungkasnya.
BPBD berharap, bantuan
logistik yang telah disalurkan dapat meringankan beban para pengungsi, sembari
menunggu kondisi benar-benar aman dan langkah penanganan lanjutan ditetapkan
pemerintah daerah. (MC Batang, Jateng/Roza/Sri Rahayu)