Batang Sudah lebih dari tiga pekan berlalu sejak KM Rizki Mina 3 memutus kontak dengan daratan, namun bagi keluarga 14 awak kapal yang hilang, waktu seolah berhenti berputar. Meski prosedur pencarian secara resmi telah melewati batas waktu, Pemerintah Kabupaten Batang dan PMI menolak untuk berpaling. Di balik lembaran uang santunan yang diserahkan, tersirat sebuah pesan kuat bahwa ke-14 nelayan tersebut belum dilupakan oleh tanah kelahirannya.
Batang Sudah lebih dari tiga pekan berlalu sejak KM Rizki Mina 3 memutus kontak dengan daratan, namun bagi keluarga 14 awak kapal yang hilang, waktu seolah berhenti berputar. Meski prosedur pencarian secara resmi telah melewati batas waktu, Pemerintah Kabupaten Batang dan PMI menolak untuk berpaling. Di balik lembaran uang santunan yang diserahkan, tersirat sebuah pesan kuat bahwa ke-14 nelayan tersebut belum dilupakan oleh tanah kelahirannya.
Di
tengah ketidakpastian yang menyesakkan, secercah kepedulian hadir untuk
menguatkan hati para keluarga yang ditinggalkan.
Palang
Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Batang melangkah maju untuk memberikan dukungan
moral dan materiil bagi sanak keluarga korban. Ketua PMI Batang Achmad Taufiq
melalui Wakil Ketua Putut Husamadiman menyampaikan bahwa bantuan ini merupakan
bentuk empati atas musibah yang terjadi.
“Bantuan kapal yang hilang, sementara kita kasih bantuan kepada 14 orang sebesar Rp1 jutaan.
Sementara karena sudah 40 hari jadi kita hanya memberikan tali asih uang duka,â€
katanya saat ditemui usai menyerahkan bantuan di Balai Desa Klidang Lor,
Kabupaten Batang, Sabtu (17/1/2026).
Kapal
milik Dulmukti ini awalnya bertolak dari Pelabuhan Perikanan PPI Klidang Lor
dengan penuh harapan untuk mencari nafkah di Laut Utara Jawa. Namun, petaka
mulai tercium saat pengurus kapal melaporkan putusnya kontak kepada DPC HNSI
Batang pada 20 November 2025.
“Dalam
pencariannya, Basarnas Semarang bahkan mengerahkan KM SAR Sadewo untuk menyisir
lokasi. Namun, setelah delapan hari pencarian intensif yang berakhir pada 27
November, keberadaan kapal maupun awaknya masih nihil. Dan hingga berita ini
diterbitkan belum ditemukan 14 ABK,†jelasnya.
Berikut
adalah daftar 14 pejuang nafkah yang hingga kini masih dalam pencarian:
* Rochidin (Nahkoda)
* Iskandar Zulkarnaen, Ahmad Suko Utomo,
Casrozi, Didik Hari Susaeni, Fattachul Alim, M Adi Setiyono, Mochamamad Alimin,
Muhamad Mustachin, Setiawan, Wachdi, Wahaji, Wahib Leksono, dan Yus Tasqol
Qhomam.
“Sebagian besar dari mereka merupakan warga Klidang Lor, Kabupaten Batang, yang kini namanya terus dilangitkan dalam doa oleh warga setempat,†ujar dia. (MC Batang, Jateng/Edo/Sri Rahayu)