Ekskavasi Candi Bata Gringsing Terhenti, Anggaran Belum Memadai
Batang - Candi Bata Gringsing yang tercatat sebagai candi tertua di Jawa Tengah ternyata belum sepenuhnya terungkap.
Batang - Candi Bata Gringsing yang tercatat sebagai candi tertua di Jawa Tengah ternyata belum sepenuhnya terungkap.
Kepala Bidang
Kebudayaan Disdikbud Batang Camelia Dewi menyampaikan, pihaknya telah
mengusulkan sejumlah penelitian lanjutan ke Bapperida Kabupaten Batang. Usulan
tersebut mencakup rencana besar penataan kawasan Candi Bata Gringsing dan
Balekambang.
“Kawasan candi masih
membutuhkan ekskavasi lanjutan untuk membuka bagian atas bukit. Kami masih membutuhkan ekskavasi lagi untuk
membuka candi di atas bukit,” katanya, saat ditemui di Kantornya, Senin
(2/2/2026).
Selain ekskavasi,
kajian zonasi menjadi agenda penting dalam pengembangan kawasan. Kajian zonasi
diperlukan untuk mengatur batas perlindungan, pemanfaatan, dan pengembangan
situs.
“Disdikbud juga mengusulkan
kajian konsolidasi struktur bangunan candi. Langkah ini dilakukan agar bangunan
bata yang rapuh dapat kembali mendekati bentuk aslinya,” jelasnya.
Camelia menegaskan
perbaikan akan difokuskan pada penguatan dan penataan ulang struktur. Ia
menyebut keterlibatan Badan Riset dan Inovasi Nasional sudah cukup dalam tahap
kajian awal. Namun, untuk tahap
lanjutan, dukungan anggaran tetap menjadi kunci utama.
Ia juga mengungkapkan,
kebutuhan dana untuk ekskavasi lanjutan Candi Bata Gringsing tidak kecil.
“Untuk usulan ekskavasi
ini kebutuhannya sekitar Rp2 miliar. Meski demikian, anggaran tersebut masih
sebatas usulan. Hingga saat ini anggaran tahun 2026 belum mengakomodasi hal itu,”
terangnya.
Disdikbud Batang telah
menggelar rapat bersama beberapa dinas terkait untuk penataan kawasan tersebut.
Keterlibatan banyak pihak diharapkan mampu mempercepat realisasi penataan
kawasan cagar budaya.
“Kami sudah rapat
dengan beberapa pihak, ada Kawasan Industri Terpadu Batang (KITB), Dishub, dan
DPUPR. Di sisi lain, proses pembangunan cungkup Candi Bata Gringsing sempat
tertahan proses penataannya akibat ditemukannya reruntuhan baru di area situs,”
tegasnya.
Penemuan tersebut
memaksa tim teknis melakukan penyesuaian desain gambar agar tidak merusak
struktur asli candi. Ia menyebut perubahan desain dilakukan demi menjaga
keaslian dan keselamatan bangunan bersejarah tersebut.
“Di akhir Desember
kemarin memang sempat terlambat karena ada penemuan reruntuhan, sehingga gambar
harus diganti,” ujar dia.
Ia menilai Candi Bata
Gringsing memiliki potensi besar sebagai pusat edukasi sejarah. Selain itu,
penataan yang tepat diyakini mampu mendorong sektor pariwisata budaya di
Batang. Namun, Candi Bata Gringsing kini berada di persimpangan antara
pelestarian dan keterbatasan anggaran. (MC
Batang, Jateng/Edo/Siska)