Batang - Badan Perencanaan Pembangunan Penelitian dan Pengembangan (Bappelitbang) Kabupaten Batang meminta agar Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait tetap mengoptimalkan anggaran dalam menangani stunting.
Batang - Badan Perencanaan Pembangunan Penelitian
dan Pengembangan (Bappelitbang) Kabupaten Batang meminta agar Organisasi
Perangkat Daerah (OPD) terkait tetap mengoptimalkan anggaran dalam menangani
stunting.
Kepala Bappelitbang Batang, Ari Yudianto
menyampaikan, tahun 2022 meskipun belanja di OPD harus disesuai karena adanya
pengurangan Dana Alokasi Umum (DAU) dari Pemerintah Pusat, namun dana untuk
penanganan stunting jangan sampai ada pengurangan.
“Dana transfer dari Pemerintah Pusat hanya Rp49
miliar. Nanti mau tidak mau belanja di OPD harus menyesuaikan, maka apabila ada
kegiatan yang masih bisa ditunda ya di tunda dulu, namun khusus pada penanganan
stunting karena untuk kepentingan masyarakat dan ditargetkan menurun, jadi
tidak bisa ditunda,†katanya, usai menjadi narasumber pada Pertemuan Penyusunan
Regulasi Stunting di Aula Dinas Kesehatan Kabupaten Batang, Senin (11/10/2021).
Ia menambahkan, terkait dengan anggaran yang sangat
terbatas, paling tidak OPD yang berkaitan langsung dengan penanganan stunting,
diharapkan ada alokasi anggaran walaupun tidak terlalu besar, tetapi tetap ada
intervensi untuk penanggulangan stunting.
Kepala Dinas Kesehatan Batang, dr. Didiet
Wisnuhardanto menyampaikan, Kabupaten Batang memang mengalami penurunan angka
stunting dari tahun ke tahun.
“Alhamdulillah ada penurunan di tahun 2020 sebesar
16%, tahun 2021 15,67%. Mudah-mudahan kedepan semakin menurun,†katanya.
Ia mengatakan, salah satu strategi menurunkan angka
stunting dengan memberikan perhatian lebih kepada ibu hamil.
“Kami mempunyai program ibu hamil dimasukkan Jaminan
Kesehatan Nasional (JKN). Kabupaten Batang mendapat kuota 3 ribu pasien hingga
bulan Desember,†jelasnya.
Ia mengharapkan, JKN tersebut diberikan tepat
sasaran yakni ibu hamil yang termasuk warga kurang mampu atau bagi mereka yang
menunggak biaya JKN, yang disebabkan beberapa hal.
“Pengurusannya bisa lewat Puskesmas atau dengan
surat pernyataan Kepala Dinas Kesehatan,†tegasnya.
Kepala Bidang Ketahanan dan Kesejahteraan Keluarga
DP3AP2KB Batang Sri Eprileni menerangkan, jika diukur dari angka stunting
nasional, sebenarnya Kabupaten Batang termasuk tidak terlalu tinggi. Namun
untuk memotivasi OPD terkait karena 15,67% di bulan Februari masih cukup
tinggi.
“Targetnya di tahun 2024 angka stunting di Kabupaten
Batang bisa turun sampai 12%,†tegasnya.
Ia mengimbau, agar OPD terkait dapat melakukan
pendataan terhadap kegiatan yang berkaitan dengan stunting.
Di sisi lain, Pemerintah Desa sangat berperan
penting terhadap pencegahan stunting.
“OPD harus menginventaris kegiatan pencegahan
stunting yang bisa direalisasikan di desa. Sehingga bisa memotivasi desa, untuk
bersinergi mencegah terjadinya stunting,†tandasnya.
Salah satu upaya yang bisa dilakukan Pemerintah
Desa, Dispermades dan Kantor Kemenag yakni dapat melakukan pencegahan
pernikahan anak.
“Desa berperan penting karena aparat desa yang tahu
di desanya ada berapa ibu hamil dan bagaimana kondisinya,†ujar dia.
Salah satu OPD yang berperan penting untuk
menyosialisasikan pencegahan stunting adalah Dinas Komunikasi dan Informatika
(Diskominfo).
Kepala Bidang Informasi dan Komunikasi Publik (IKP) Diskominfo
Batang Puji Setyowati mengutarakan, sebagian besar masyarakat menengah ke bawah
lebih sering mendengarkan informasi yang berbalut hiburan melalui Lembaga
Penyiaran Publik Lokal (LPPL) Radio Abirawa FM.
“Jadi kami mengoptimalkan keberadaan radio Abirawa
untuk menyosialisasi pencegahan stunting, lewat spot-spot siaran,†ungkapnya.
(MC Batang, Jateng/Heri/Jumadi)